Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Subuh Ajaibmu: Cahaya Jiwa di Ujung Fajar

Gambar
Cahaya Subuh di Tengah Gelapnya Zaman Subuh Ajaibmu Subuh Keajaibanmu Melampaui Dunia Seisinya  Subuh bukan sekadar waktu, ia adalah keajaiban yang melampaui logika dan menyentuh nurani . Puisi ini adalah refleksi spiritual tentang makna terdalam dari salat Subuh yang agung . Subuh Ajaibmu Melibas Waktu Subuh bukan sekadar waktu, Ia adalah keajaiban yang menembus batas ragu. Bukan dongeng dalam kitab tua, Melainkan cahaya yang nyata, menyapa jiwa. Jika tujuh keajaiban dunia larut dalam air, Subuh menjelma samudra, tak pernah berakhir. Ia melampaui puncak ilmu dan sains fana, Menembus logika yang tak mampu menjangka. Harta para milyuner, Bahkan khazanah Qarun yang tak terukur, Tak mampu menandingi kilau Subuh yang hadir, Dalam sujud yang jujur, dalam zikir yang lirih. Mengapa ia disebut ajaib? Karena ia dirindu, namun sering terlewat. Lebih agung dari lampu Aladin yang mitos, Subuh adalah saksi niat yang tulus dan ikhlas. Bumi bersujud, langit pun bersaksi, M...

A bilingual poetry reflection by Yusufachmad Bilintention, reading Muhammad Adhar’s poem from Delula Jaya. A meditative journey through night and memory

Gambar
Nyamplungan at the Edge of Night ( Nyamplungan Terhampir Malam ) Poetry Reading: Nyamplungan Approaching Nightfall ( Membaca Puisi:Nyamplungan Terhampir Malam ) A Reflection by Yusuf Achmad from the book Delula Jaya ( Sebuah Renungan oleh Yusuf Achmad dari Buku Delula Jaya ) This poem flows like mist on Himalayan slopes—carrying dust, moss, and weariness into soothing words. A spiritual journey in the silence of night. (Puisi ini mengalir seperti kabut di lereng Himalaya —membawa debu, lumut, dan lelah menjadi kata-kata yang menenangkan. Sebuah perjalanan batin dalam senyap malam.) 1.     In the darkness that is not entirely silent, words become lanterns. This poem is read not just to be heard, but to be felt—like dew touching leaves at dawn. Let us enter the world of  Nyamplungan , where night is not the end, but the beginning of understanding. (Dalam gelap yang tidak sepenuhnya sunyi, kata-kata menjadi lentera. Puisi ini dibacakan bukan hanya untuk didengar, tapi untuk...

Tulisan yang paling membekas— Pencuri Wajah: Dari Bayang Masa Kecil hingga Wajah-Mu yang Abadi

Gambar
  Jejak Masa Kecil Wajah-Wajah yang Membekas Wajah Abadi Ada tulisan yang lahir dari imajinasi, ada pula yang lahir dari luka. Bagi saya, yang paling membekas adalah perjalanan wajah demi wajah yang kemudian saya titipkan dalam karya berjudul “Pencuri Wajah: Dari Bayang Masa Kecil hingga Wajah-Mu yang Abadi”. Puisi ini berangkat dari jejak masa kecil—tatapan seorang pencuri di pelataran bioskop yang membekukan jiwa kanak-kanak saya. Dari sana, siluet-siluet lain hadir: sahabat SMA dengan cinta yang tak pernah tersampaikan, sekelebat cinta monyet yang polos dan riang, bayangan cinta pertama yang terus menghantui mimpi, hingga wajah seorang ustadz yang mengkhianati amanah. Semua itu bukan sekadar peristiwa, melainkan parut yang membentuk arah perjalanan batin. Ada wajah yang mencuri keberanian, ada wajah yang menyimpan harap, ada wajah yang menyalakan cahaya singkat, ada wajah yang meruntuhkan iman. Dan dari semua wajah itu, saya belajar menafsir luka sebagai pintu, bukan akhir...

Perjalanan Debu di Ampel: Puisi Spiritual dari Surabaya

Gambar
  Perjalanan Debu di Ampel Jejak Debu, Doa, dan Misteri di Langit Ampel Ampel bukan hanya sebuah kawasan bersejarah di Surabaya, tetapi juga ruang batin yang menyimpan jejak doa, ziarah, dan perenungan. Dalam puisi ini, “Perjalanan Debu di Ampel”, debu menjadi saksi bisu perjalanan jiwa—antara dosa, berkah, cinta, dan misteri kehidupan. Setiap larik adalah langkah kecil menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan Sang Pencipta. "Pasar tradisional di depan Masjid Ampel Surabaya dengan suasana ramai dan penuh warna, menggambarkan kehidupan sosial dan spiritual yang berpadu."  https://www.youtube.com/watch?v=CxOyN8PfhRA&t=97s   Debu menari, aku melayang, di langit Ampel yang penuh warna.  Waktu terlupakan, berhenti di pelataran makam sunyi.  Dosa membakar perlahan, merayap di hati yang gelap.  Berkah datang, mengalir lembut dalam gentong keramat .   Hidup lenyap, misteri dan duka bercampur.  Cinta terhirup, namun tak perna...

Binar yang Meneduhkan: Puisi Elegi tentang Senyum, Tatapan, dan Cahaya Abadi

Gambar
  Binar yang Meneduhkan Puisi Elegi tentang Sosok Agung dan Cahaya yang Abadi Huruf-Huruf yang Menjadi Cahaya Puisi ini lahir dari kerinduan pada sosok agung yang senyumnya meneduhkan, tatapannya bagai samudra, dan suaranya tak lekang oleh waktu. “ Binar yang Meneduhkan ” bukan sekadar elegi , melainkan doa yang mengalir dalam setiap huruf, cahaya yang menyuluh gelap dunia. "Ilustrasi sosok agung dengan topi putih, kacamata hitam, dan mikrofon, melambai dalam sebuah acara. Simbol suara, senyum, dan cahaya yang abadi." Kurindu senyummu, mutiara hati yang meneduhkan. Santri masih menunggu, petuahmu bagai embun jatuh di tanah retak. Tatapanmu: samudra, kadang biru, kadang hijau, kadang putih bagai doa. Suaramu: tak lekang, tak lapuk, tak surut, mengalir jadi sungai abadi. Setiap hurufmu doa, setiap kalimatmu cahaya, menyuluh gelap dunia. (Revisi: Surabaya , 14 Februari 2025) Puisi ini dipersembahkan bagi guru yang pernah menyalakan cahaya dalam hidup kita. M...

Menjaga Rasa di Nusantara

Gambar
Karib atau Sohib: Puisi Tentang Persahabatan yang Melampaui Batas  Puisi lintas budaya tentang makna kawan dalam bingkai sejarah, identitas, dan keakraban di Asia Tenggara. Dalam dunia yang terus berubah, kata “teman” tak lagi cukup untuk menggambarkan kedalaman hubungan. Puisi ini lahir dari pencarian makna persahabatan yang tak hanya menyentuh ranah sosial, tapi juga spiritual dan historis. Ia menimbang antara “karib” dan “sohib”, dua kata yang membawa nuansa berbeda namun sama-sama mengakar dalam budaya Nusantara dan Timur Tengah. Puisi ini masuk dalam 200 besar dari lebih 4000 karya dalam Lomba Puisi Tiga Negara, Agustus 2025—sebuah penghargaan atas suara yang menyatukan perbedaan. Lanskap senja simbolik dengan Garuda , Harimau, dan bulan sabit —melambangkan persahabatan lintas budaya di Asia Tenggara . Menyulam makna dalam langkah Puisiku sedang menakar makna, di antara sunyi dan riuh yang tak selalu bersuara. Ia memilih kata bukan untuk berkuasa, melainkan untuk bersahabat— s...

Nada Kehidupan dan Kematian: Puisi Tentang Menyambut Yang Tak Terelakkan

Gambar
Nada Kehidupan dan Kematian Menyelam ke Dalam Sunyi Ilustrasi laut biru dengan ganggang menari , tiram berkilau , dan cahaya purnama menyinari karang tajam . Puisi Eksistensial Tentang Kematian, Alam, dan Harapan Kematian bukan sekadar akhir, melainkan pintu menuju pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan. Dalam puisi ini, penulis menyelami makna kematian melalui metafora laut , spiritualitas , dan teknologi . Ia mengajak kita merenung, bukan dengan ketakutan, melainkan dengan keheningan dan harapan.                Aku menjelma puisi, lenyap dalam kata-kata. Huruf membeku, titik dan koma. Kutelusuri sunyi,                mati dalam diam yang buta. Kumasuki laut biru kata, ganggang menari gemulai, ekor ikan melambai di bawah purnama. Karang tajam kuhancurkan, luka-luka lama mengambang. Kutemukan tiram, permata hati yang tersembunyi. Kematian bukan akhir, melainkan kenangan yang tak tenang. Lau...

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif

Gambar
<h1>Kumpulan Kutipan Puisi Yusuf Achmad – Refleksi Budaya, Spiritualitas, dan Cinta</h1>  <h2>Lumut di Puncak Himalaya</h2> <h3>"Mereka adalah lumut di puncak Himalaya , menopang gunung agar tetap perkasa."</h3> <p>Menegaskan peran pujangga sebagai penjaga kebudayaan yang abadi.</p> <h3>"Menghidupkan arus sastra Nusantara . Tak butuh gelar atau predikat, hanya usia pada sajak yang lekat."</h3> <p>Menekankan keabadian sastra tanpa formalitas.</p> <figure>   <img src="[URL gambar ilustrasi puisi atau buku DELULA JAYA]" alt="Ilustrasi puisi-puisi Yusuf Achmad tentang budaya, cinta, dan spiritualitas">   <figcaption>Ilustrasi kutipan puisi Yusuf Achmad dari berbagai karya reflektif</figcaption> </figure> Puisi bukan sekadar keindahan kata, melainkan cermin jiwa dan suara zaman. Dalam kumpulan kutipan ini, Yusuf Achmad menyuarakan berbagai tema—dari...

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Gambar
<h1>Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad</h1> <h2>Suara Biak di Forum Dunia</h2>   Biak bukan sekadar pulau di timur Indonesia—ia adalah denyut tradisi, suara budaya, dan cahaya yang tak pernah padam. Dalam puisi ini, Yusuf Achmad menyulam keindahan alam dan kekuatan adat menjadi larik-larik yang bergelombang, seperti laut Pasifik yang memeluk daratan. Dipadukan dengan pembacaan penuh rasa oleh penyair Jawa Timur, P. Didik, puisi ini menjadi alunan yang tak hanya terdengar, tapi juga terasa. <figure>   <img src="[URL gambar Biak atau pembacaan puisi]" alt="Ilustrasi Biak sebagai mutiara timur, dengan laut biru dan tradisi yang hidup">   <figcaption>Ilustrasi puisi Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang karya Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik</figcaption></figure>   https://www.youtube.com/shorts/UJW-Xf6ucAY Puisi ini telah dibacakan oleh P. Didik ,Wahyudi penyair Jawa Timur, dala...

DO-MI-NO: A Symphony of Life Between Notes and Numbers

Gambar
  DO-MI-NO: The Melody of Life A poem about life’s rhythm, digital illusions, and the harmony born from imperfection. Life is a symphony that rarely follows a perfect score. Small notes like “do” and “mi” compose rhythms that are sometimes gentle, sometimes jarring. Behind the glass screen, the digital world becomes a stage where fate dances, and domino numbers symbolize choices, hopes, and collapse. This poem reflects how we live within a rhythm we don’t always understand—but still, we play along.                         Domino tiles falling in rhythm, symbolizing life’s unpredictable flow June 5, 2024 In your eyes, the note flows gently, Like twilight embracing the hush of night. On your lips, do echoes sweetly, A morning bird’s song, heralding new light. In your heart, mi stirs the calm, Like distant thunder cracking silence. My steps fall in dominoes— Small numbers racing like monsoon rain. In my soul, the large...

Burung Gagak dan Kematian

Gambar
Ketika Gagak Mengitari Genting: Nyamplungan dan Isyarat Ajal  Sebuah  Refleksi kematian di masa pandemi dari kampung yang pasrah namun bertanya Burung gagak, dalam banyak budaya, menjadi simbol kematian dan pertanda duka. Di kampung Nyamplungan, suara gagak yang tak henti-henti menjadi latar dari sebuah kenyataan pahit: kematian yang datang berulang, dibungkus oleh pakaian putih paramedis dan ketidakpastian. Puisi ini bukan sekadar keluhan, melainkan jeritan batin yang mempertanyakan takdir, ujian, dan makna hidup di tengah wabah. Alt Text : "Burung gagak terbang di atas genting rumah tua di kampung sunyi, langit mendung menyelimuti suasana kelam." Burung gagak, dalam banyak budaya, menjadi simbol kematian dan pertanda duka. Di kampung Nyamplungan, suara gagak yang tak henti-henti menjadi latar dari sebuah kenyataan pahit: kematian yang datang berulang, dibungkus oleh pakaian putih paramedis dan ketidakpastian. Puisi ini bukan sekadar keluhan, melainkan jeritan batin yang mem...

Perspektif Filosofis dalam Mengapresiasi Puisi: Tanggapan terhadap Paulus Laratmase

Gambar
Penulis Sudah Mati , Tapi Makna Terus Hidup Refleksi atas Teori “Penulis Sudah Mati” dan Dinamika Interpretasi dalam Sastra Kontemporer (Studi Kasus Puisi Yusuf Achmad dan Bedah Buku Adapting More )  Tulisan ini lahir dari dialog yang jujur dan terbuka antara sesama penulis. Saya percaya bahwa puisi bukan hanya milik penciptanya, tetapi juga milik pembaca yang menafsirkan dengan pengalaman dan pemahaman masing-masing. Saya menyampaikan terima kasih kepada Paulus Laratmase atas apresiasi yang mendalam terhadap puisi saya, dan kepada semua pembaca yang terus memberi makna baru bagi setiap baris yang saya tulis. alt="ilustrasi kematian dan eksistensi dalam puisi" Puisi bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan ruang kontemplatif tempat manusia menafsirkan hidup, kehilangan, dan kematian. Dalam tulisan ini, saya menanggapi apresiasi yang diberikan oleh Paulus Laratmase terhadap puisi saya, sekaligus merefleksikan bagaimana makna teks berkembang di luar niat penulis. Melalu...