Subuh Ajaibmu: Cahaya Jiwa di Ujung Fajar

Cahaya Subuh di Tengah Gelapnya Zaman

Subuh Ajaibmu

Subuh Keajaibanmu Melampaui Dunia Seisinya 

Subuh bukan sekadar waktu, ia adalah keajaiban yang melampaui logika dan menyentuh nurani. Puisi ini adalah refleksi spiritual tentang makna terdalam dari salat Subuh yang agung.


Subuh Ajaibmu Melibas Waktu

Subuh bukan sekadar waktu,
Ia adalah keajaiban yang menembus batas ragu.
Bukan dongeng dalam kitab tua,
Melainkan cahaya yang nyata, menyapa jiwa.

Jika tujuh keajaiban dunia larut dalam air,
Subuh menjelma samudra, tak pernah berakhir.
Ia melampaui puncak ilmu dan sains fana,
Menembus logika yang tak mampu menjangka.

Harta para milyuner,
Bahkan khazanah Qarun yang tak terukur,
Tak mampu menandingi kilau Subuh yang hadir,
Dalam sujud yang jujur, dalam zikir yang lirih.

Mengapa ia disebut ajaib?
Karena ia dirindu, namun sering terlewat.
Lebih agung dari lampu Aladin yang mitos,
Subuh adalah saksi niat yang tulus dan ikhlas.

Bumi bersujud, langit pun bersaksi,
Malaikat berzikir dalam sunyi yang suci.
Subuh bukan sekadar rutinitas,
Ia adalah gerbang menuju cahaya yang bebas.

Kini, esok, hingga akhir zaman,
Subuh tetap menjadi penanda iman.
Ia melibas waktu, menembus gelap,
Menjadi cahaya yang tak pernah redup.

Surabaya, 5 Desember 2024

Dalam gelapnya dunia, Subuh adalah cahaya yang tak pernah padam. Semoga kita senantiasa menjadi bagian dari keajaiban itu, setiap pagi, setiap hari.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif