Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

<h1>Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad</h1>

<h2>Suara Biak di Forum Dunia</h2>

 Biak bukan sekadar pulau di timur Indonesia—ia adalah denyut tradisi, suara budaya, dan cahaya yang tak pernah padam. Dalam puisi ini, Yusuf Achmad menyulam keindahan alam dan kekuatan adat menjadi larik-larik yang bergelombang, seperti laut Pasifik yang memeluk daratan. Dipadukan dengan pembacaan penuh rasa oleh penyair Jawa Timur, P. Didik, puisi ini menjadi alunan yang tak hanya terdengar, tapi juga terasa.


<figure>
  <img src="[URL gambar Biak atau pembacaan puisi]" alt="Ilustrasi Biak sebagai mutiara timur, dengan laut biru dan tradisi yang hidup">
  <figcaption>Ilustrasi puisi Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang karya Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik</figcaption></figure>


Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang 

 

Gaung itu menggema, tangan-tangan diacungkan tinggi, 

Di forum dunia, suara Biak berhembus tak henti. 

Tangan yang berurat tradisi di sudut-sudut negeri, 

Bukan sekadar wibawa, kehormatan, atau harga diri, 

Namun jati diri—warisan anak kelahiran pertiwi. 

 

Elok pertiwi menjuntai, laut biru melambai, 

Berbatu cadas, namun berhati ayu nan damai. 

Bosnik bersinar, Anggopi membiru, Samares mengundang, 

Pasir bak berlian, berkilauan hingga tepian Pasifik terhampar panjang. 

 

Gelombang bersuara, namun tiada gesekan, 

Laut dan darat berpelukan dalam harmoni tak berlawanan. 

Wafsarak mengalir lembut, Goa Binsari merajut kenangan, 

Menjaga adat dan bahasa, bisikan budaya yang tak berpura-pura. 

 

Mananwir Keret, Mananwir Mnu, Mambri, Konor, Mon, dan Korano, 

Nama yang megah, terpatri dalam sejarah bertaut rindu. 

Seperti ikan Biak yang dibakar, kuah kuning dan papeda, 

Atau bakar batu yang menyatukan hati dalam satu wadah. 

 

Biak, kau mutiara timur yang terus berbenah, 

Cahaya tradisi dan modernitas berpilin indah. 

Di setiap suapan, di setiap gelombang, dalam setiap langkah, 

Kau abadi dalam kenangan, bergema dalam hati, tak kan punah. 

 

Surabaya, 26 April 2025

 

 Biak adalah mutiara yang bergelombang—bukan hanya karena lautnya, tapi karena tradisi dan semangatnya yang terus berdenyut. Yusuf Achmad dan P. Didik menghadirkan puisi ini sebagai persembahan untuk tanah timur yang tak pernah kehilangan cahaya, bahkan di tengah arus modernitas.

Catatan Penulis:Ditulis oleh Yusuf Achmad pada 26 April 2025 di Surabaya, puisi ini merupakan bagian dari rangkaian karya yang mengangkat kekayaan budaya lokal ke panggung nasional. Dipadukan dengan pembacaan oleh P. Didik, puisi ini menjadi jembatan antara kata dan suara, antara tradisi dan masa kini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif