Postingan

Gambar
Sumber Gambar:Copilot-AI   Bagian 1: Prahara Identitas (Cerpen ini sebelumnya telah dibukukan oleh MenulisID & Projectarek.id dalam antologi “Di Atas Kampung Itu Tak Ada dan Cerita Lainnya” bersama 20 penulis cerpen terbaik kampung Surabaya.) “Nyamplungan abadi di mata, benak, dan hatiku. Takkan pernah hilang.” Di kampung Nyamplungan dekat Ampel, Anas hidup di antara dua dunia. Keluarga ayah menyebutnya Jamaah, bukan Jawa. “Kau Jamaah,” kata mereka. Namun tetangganya, seorang Jawa pemilik warung peracangan, menuntut hal sebaliknya: “Kalau kamu orang Jawa, harus bisa bahasa Krama. Kalau tidak, jangan belanja di sini.” Anas terhimpit di tengah, dipaksa memilih identitas yang bertentangan. Ia tahu, di mata manusia ia bisa ditolak, tetapi di mata Tuhan, kemuliaan bukan ditentukan oleh darah atau bahasa. Ekonomi yang sulit memaksa Anas bekerja di toko pakaian, khususnya daster, di lorong sempit dekat rumahnya. Pemiliknya berhidung mancung, tampak megah, mirip Anas meski hanya sepert...

Keras atau Cerdas?

Gambar
  Sumber gambar:AI-Copilot Sebuah Renungan tentang Makna Usaha dan Keyakinan Di zaman yang serba cepat ini, banyak orang berlomba bekerja keras. Bangun sebelum fajar, tidur larut malam, mengejar target tanpa jeda. Kita sering menganggap kerja keras sebagai satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Namun, apakah benar kerja keras selalu membawa hasil terbaik? Kisah Anto dan Yus mengajak kita merenung. Anto adalah gambaran manusia modern—ambisius, disiplin, dan fokus pada tujuan. Ia bekerja siang dan malam, berpikir tanpa henti, berharap suatu hari akan menjadi kaya, terkenal, dan dihormati. Yus, sahabatnya, tidak menentang semangat itu. Ia hanya bertanya pelan, “Mengapa kamu tidak bekerja cerdas?” Pertanyaan sederhana itu menembus kesibukan Anto. Ia terdiam. Selama ini ia percaya bahwa kerja keras adalah segalanya. Tapi Yus menjelaskan bahwa kerja keras hanya mengaktifkan otak kiri—logika, rutinitas, dan analisis. Sedangkan kerja cerdas melibatkan otak kanan dan otak tengah: kreat...

Mencari Kebenaran di Tengah Kebingungan Hidup

Gambar
  Sumber Gambar:AI-Copilot Pernahkah kamu merasa otakmu seperti punya terlalu banyak tabs yang terbuka sekaligus? Karier yang belum jelas, perbandingan diri di media sosial, hingga tuntutan lingkungan yang tak ada habisnya. Pertanyaan sederhana pun muncul: “Sebenarnya, gue harus gimana sih?” Kebingungan ini bukan tanda kegagalan. Justru ia adalah fase alami ketika idealisme bertemu dengan realitas yang keras. Setiap orang muda pernah merasakan pusingnya memikirkan banyak hal sekaligus: diri sendiri, teman, pekerjaan, lingkungan. Pertanyaan tentang mana yang benar dan mana yang tidak, sering kali menghantui. Kita sering stres karena mencoba mengontrol hal-hal yang sebenarnya di luar jangkauan. Bayangkan hidup seperti berjualan di marketplace. Kamu bisa menyiapkan foto produk terbaik, menulis deskripsi yang jujur, dan melayani dengan sepenuh hati. Tapi apakah pembeli menekan tombol “Beli” atau tidak? Itu bukan kuasamu. Tugas kita adalah fokus pada proses. Sedangkan hasil adalah hak...

Mantra Seujung Inisial

Gambar
  Sumber gambar:AI-Copilot Aku tak tahu— apakah kata, kalimat, atau sekadar bisikan benar-benar punya arti. Diam menjelma lamun, lamun mengkristal tanya, gema yang menetap di ceruk benak.   Hatiku, batinku, nalar-pikirku, menjerit tanpa suara; hanya huruf-huruf purba yang menampung berjuta rahasia. Rasa berpusar, harap berdenyut, sayang terbentur rintang, kenang menyulut bayangan.   Cita dan cinta, serupa mantra yang belum usai, “I For You” menyusup ke palung nadi, mengeja namamu, menjadi detak di jantungku. Surabaya, 2 Mei 2026 Untuk tulisan lain silahkan buka: https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211 Suaraanaknegerinews.com https://medium.com/@yusufachmad2018 https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

Bilangan yang Merindu

Gambar
   Jam berdetak tanpa pasangan, hari enggan genap di kalender. Langkahku miring di jalan kota, lampu merah membeku, tak jadi hijau. Tanpamu waktu pincang, aku angka yang tak bulat. Kamu ganjilku, namamu retak di udara. Wajahmu pecahan cermin yang tak pernah menyatu. Aku bilanganmu— selalu mencari pasangan, selalu gagal menjadi genap. Surabaya, 30 April 2026 Untuk tulisan lain silahkan buka: https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en <a href="https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211"> https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211</a> Suaraanaknegerinews.com https://medium.com/@yusufachmad2018 https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

Puisi Hari Ini

Gambar
Sumber gambar:AI-Copilot  Hari ini bukan kemarin, bukan pula bayangan masa depan. Ia hadir seperti hidangan panas, dari dapur kata yang baru saja menyala. Diracik dari tanda tanya, dari koma yang berdiam di sudut napas. Dicampur dengan embusan penyair, yang bergulat antara duka dan pelita. Hari ini puisi berdiri, bukan karena kalender merah, bukan karena hari besar. Ia lembur sendiri, kadang marah, kadang tertawa, seperti langit yang tak bisa ditebak. Puisi hari ini bukan milikku, bukan milikmu, bukan miliknya. Ia milik hari ini, yang sekali lahir, sekali dihidangkan, dan sekali pula meninggalkan jejak. Surabaya, 29 April 2026 Untuk tulisan lain silahkan buka: https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en  https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211 Suaraanaknegerinews.com https://medium.com/@yusufachmad2018 https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-...

Bayang Retak di Persimpangan

Gambar
  Sumber: AI-Copilot Kubaca pernyataan itu, seperti bayangan pecah di kaca retak. Langkah ragu menapak, kata-kata berkilau samar, menyentuh inti nalar tanpa menuding benar atau salah. Bukan logika yang kehilangan pijakan, bukan angka yang menimbun laba, bukan wajah rakyat yang dipoles wacana, bukan pula gema suaraku sendiri— ada cahaya tipis menyelinap di sela huruf, seperti bisikan yang enggan reda. “Otak hanya mengenal suka dan tidak, menjaga gema yang dipantulkan dirinya.” Aku pun bertanya dalam diam: ia, dia—bayangan yang menantang, atau cermin yang menyingkap aku? Pesan guru kembali bergaung: “Banyak beragama, namun tak menyakininya.” Ajaran menjauh, laku tercerai, kepintaran menjelma siasat, kelicikan berwajah ramah. Di persimpangan ini aku berdiri, memandang arah yang kabur: benarkah salah itu nyata, atau keyakinan yang kehilangan rumah? Surabaya, 17- April 2026 Untuk tulisan lain silahkan buka: https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com https://www.kompasiana.com/yusufac...