Bayang Retak di Persimpangan

 

Sumber: AI-Copilot

Kubaca pernyataan itu,

seperti bayangan pecah di kaca retak.

Langkah ragu menapak,

kata-kata berkilau samar,

menyentuh inti nalar

tanpa menuding benar atau salah.


Bukan logika yang kehilangan pijakan,

bukan angka yang menimbun laba,

bukan wajah rakyat yang dipoles wacana,

bukan pula gema suaraku sendiri—

ada cahaya tipis

menyelinap di sela huruf,

seperti bisikan yang enggan reda.


“Otak hanya mengenal suka dan tidak,

menjaga gema yang dipantulkan dirinya.”

Aku pun bertanya dalam diam:

ia, dia—bayangan yang menantang,

atau cermin yang menyingkap aku?


Pesan guru kembali bergaung:

“Banyak beragama,

namun tak menyakininya.”

Ajaran menjauh, laku tercerai,

kepintaran menjelma siasat,

kelicikan berwajah ramah.


Di persimpangan ini aku berdiri,

memandang arah yang kabur:

benarkah salah itu nyata,

atau keyakinan yang kehilangan rumah?


Surabaya, 17- April 2026


Untuk tulisan lain silahkan buka:


https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com

https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write

https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en <a href="https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211">

https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211</a>

Suaraanaknegerinews.com

https://medium.com/@yusufachmad2018

https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif