Bilangan yang Merindu


 

 Jam berdetak tanpa pasangan,

hari enggan genap di kalender.

Langkahku miring di jalan kota,

lampu merah membeku, tak jadi hijau.


Tanpamu waktu pincang,

aku angka yang tak bulat.

Kamu ganjilku,

namamu retak di udara.


Wajahmu pecahan cermin

yang tak pernah menyatu.

Aku bilanganmu—

selalu mencari pasangan,

selalu gagal menjadi genap.


Surabaya, 30 April 2026


Untuk tulisan lain silahkan buka:


https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com

https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write

https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en <a href="https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211">

https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211</a>

Suaraanaknegerinews.com

https://medium.com/@yusufachmad2018

https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif