Puisi Hari Ini

Sumber gambar:AI-Copilot


 Hari ini bukan kemarin,

bukan pula bayangan masa depan.
Ia hadir seperti hidangan panas,
dari dapur kata yang baru saja menyala.

Diracik dari tanda tanya,
dari koma yang berdiam di sudut napas.
Dicampur dengan embusan penyair,
yang bergulat antara duka dan pelita.

Hari ini puisi berdiri,
bukan karena kalender merah,
bukan karena hari besar.
Ia lembur sendiri,
kadang marah, kadang tertawa,
seperti langit yang tak bisa ditebak.

Puisi hari ini bukan milikku,
bukan milikmu, bukan miliknya.
Ia milik hari ini,
yang sekali lahir,
sekali dihidangkan,
dan sekali pula meninggalkan jejak.

Surabaya, 29 April 2026

Untuk tulisan lain silahkan buka:

https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en 
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211

Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif