Perjalanan Debu di Ampel: Puisi Spiritual dari Surabaya
Perjalanan Debu di Ampel
Jejak Debu, Doa, dan Misteri di Langit Ampel
Ampel bukan hanya sebuah kawasan bersejarah di Surabaya, tetapi juga ruang batin yang menyimpan jejak doa, ziarah, dan perenungan. Dalam puisi ini, “Perjalanan Debu di Ampel”, debu menjadi saksi bisu perjalanan jiwa—antara dosa, berkah, cinta, dan misteri kehidupan. Setiap larik adalah langkah kecil menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan Sang Pencipta.
"Pasar tradisional di depan Masjid Ampel Surabaya dengan suasana ramai dan penuh warna, menggambarkan kehidupan sosial dan spiritual yang berpadu."
Debu menari, aku
melayang, di langit Ampel yang penuh warna.
Waktu terlupakan,
berhenti di pelataran makam sunyi.
Dosa membakar
perlahan, merayap di hati yang gelap.
Berkah datang,
mengalir lembut dalam gentong keramat.
Hidup lenyap,
misteri dan duka bercampur.
Cinta terhirup,
namun tak pernah cukup, tak pernah usai.
Dia menggoda,
cita padanya terus memanggil.
Nasib menjauhkan,
tak terlihat, tak tergenggam.
Debu itu, terus
berhembus tanpa henti.
Aku mencari makna
dalam setiap hembusan angin.
Debu di Ampel,
saksi bisu perjalanan jiwa.
Mengajarkan bahwa
setiap langkah adalah teka-teki yang harus dipecahkan.
Debu terbang
mengisi udara,
Lupa menyelimuti
benakku.
Dosa merayap di
hati yang rapuh.
Berkah menyapa di
pelataran Ampel.
Ingat menyala di
pandanganku,
Ruang terbuka di
relung dadaku.
Air keramat di
gentong Ampel,
Menyegarkan jiwa
yang gersang.
Hilang tak
kembali ke dunia fana,
Hidup bersemayam
dalam misteri abadi.
Nafas yang tak
pernah cukup,
Duka mengiringi
di mana pun berada.
Cinta
meninggalkan luka,
Sendiri terasing
dalam batasan.
Derita oleh
takdir tak pernah berakhir,
Cita-cita cinta
tak kenal batas.
Debu yang tak
berhenti terbang,
Seperti waktu yang
tak pernah pasti.
Nasib tak terbaca
oleh takdir,
Keserakahan tak
pernah habis dalam jiwaku.
Syukur yang tak
pernah cukup,
Debu tertantang
oleh keberadaan.
Mati tak
terelakkan oleh Illahi,
Debu kecil tak
mungkin menyentuh Ilahi.
Debu suci mengisi
langkah,
Jejaknya
meninggalkan doa dan pengharapan.
Langkah demi
langkah, menapaki jalan penuh misteri,
Di bawah langit
Ampel yang biru pekat.
Ka’bah menyatu
dengan kiswah hitam bertuliskan emas,
Menyimpan aura
kebesaran Maha Pencipta.
Putaran kehidupan
terus berjalan,
Langkah berganti,
berputar, kembali lagi ke akar jiwa.
Duhai debu yang
penuh pengharapan.
Rinduku tak
pernah padam, tak pernah mati.
Seperti bintang
yang terus bersinar di langit malam.
Debu-debu ini
menjadi saksi perjalanan hidupku,
Tak berujung,
terus merindu, hingga akhir waktu.
Surabaya, 3
November 2023

Komentar
Posting Komentar