A bilingual poetry reflection by Yusufachmad Bilintention, reading Muhammad Adhar’s poem from Delula Jaya. A meditative journey through night and memory

Nyamplungan at the Edge of Night


Poetry Reading: Nyamplungan Approaching Nightfall

A Reflection by Yusuf Achmad from the book Delula Jaya

(Sebuah Renungan oleh Yusuf Achmad dari Buku Delula Jaya)

This poem flows like mist on Himalayan slopes—carrying dust, moss, and weariness into soothing words. A spiritual journey in the silence of night.

(Puisi ini mengalir seperti kabut di lereng Himalaya—membawa debu, lumut, dan lelah menjadi kata-kata yang menenangkan. Sebuah perjalanan batin dalam senyap malam.)


1.   In the darkness that is not entirely silent, words become lanterns. This poem is read not just to be heard, but to be felt—like dew touching leaves at dawn. Let us enter the world of Nyamplungan, where night is not the end, but the beginning of understanding.

(Dalam gelap yang tidak sepenuhnya sunyi, kata-kata menjadi lentera. Puisi ini dibacakan bukan hanya untuk didengar, tapi untuk dirasakan—seperti embun yang menyentuh dedaunan di dini hari. Mari kita masuk ke dalam dunia Nyamplungan, tempat di mana malam bukan akhir, tapi awal dari pemahaman.) 

Silahkan anda buka link youtube ini: https://www.youtube.com/watch?v=k9B-6JavB-U
 

Nyamplungan awakens from its slumber, 

As its name is softly whispered by the night wind. 

"If your fragrance and beauty fade, how will I weave my love after that, oh Nyamplungan," 

Whispers the lover far away, heard clearly in a fleeting shadow. 

Nyamplungan answers, 

"Your love is not merely fragrance and beauty, but always radiates in a new blessing." 

 

Their poems converse, yet pay no heed, 

Nyamplungan remains a silent witness. 

Nyamplungan stands mute, 

Remembering walls without stone, 

Speaking in the digital realm with stirring characters. 

That face smiles, 

And upon the script is engraved a vow, 

"Oh Nyamplungan, I will not forget." 

 

Yet the walls remain unbroken, 

Even as they eventually disappear into the void. 

I search, click everywhere, all in vain, 

The words of love seem locked away. 

Another poem says they’ve been scrambled, hacked by the threads of time, 

Locked away like the heart that closes its love to me, 

While shadows of the past wander far. 

 Surabaya, January 31, 2025 


_________________________________________________________________________________

Nyamplungan terbangun dari tidurnya, 

Saat namanya dibisikkan lembut oleh angin malam. 

"Bila harum dan indahmu sirna, bagaimana akan kupintal cintaku setelah itu, oh Nyamplungan," 

Bisik sang kekasih di kejauhan, kudengar jelas dalam bayangan. 

Nyamplungan pun menjawab, 

"Cintamu bukan sekadar harum dan indah, namun selalu memancar dalam berkah yang baru." 

 

Puisi-puisi mereka berdialog, namun tak menghiraukan, 

Nyamplungan menjadi saksi bisu. 

Nyamplungan hanya membisu, 

Mengenang dinding-dinding tanpa batu, 

Berbicara di jagat maya dengan aksara yang menggetarkan. 

Wajah itu tersenyum, 

Dan pada tulisan terukir sebuah ikrar, 

"Duhai Nyamplungan, kutakan kembali." 

 

Namun, dinding-dinding itu tetap tak retak, 

Meski akhirnya lenyap entah ke mana. 

Kucari, kuklik ke segala penjuru, sia-sia, 

Kalam cinta itu seakan terkunci. 

Kata puisi lainnya, ia teracak, dihack oleh jalinan waktu, 

Terkunci seperti hati yang menutup cintanya padaku, 

Dan bayang-bayang masa lalu merantau. 

 Surabaya, 31 Januari 2025 

 Thank you for diving into each verse with me. May this poem become a quiet space that brings new meaning to your nights. If it resonates with you, feel free to share and leave your thoughts in the comments.

(Terima kasih telah menyelami bait demi bait bersama saya. Semoga puisi ini menjadi ruang hening yang memberi makna baru pada malam-malammu. Jika puisinya menyentuhmu, jangan ragu untuk membagikannya dan tinggalkan jejak di kolom komentar.)

 

 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif