Burung Gagak dan Kematian

  • Ketika Gagak Mengitari Genting: Nyamplungan dan Isyarat Ajal

  •  Sebuah Refleksi kematian di masa pandemi dari kampung yang pasrah namun bertanya
  • Burung gagak, dalam banyak budaya, menjadi simbol kematian dan pertanda duka. Di kampung Nyamplungan, suara gagak yang tak henti-henti menjadi latar dari sebuah kenyataan pahit: kematian yang datang berulang, dibungkus oleh pakaian putih paramedis dan ketidakpastian. Puisi ini bukan sekadar keluhan, melainkan jeritan batin yang mempertanyakan takdir, ujian, dan makna hidup di tengah wabah.

  • Alt Text: "Burung gagak terbang di atas genting rumah tua di kampung sunyi, langit mendung menyelimuti suasana kelam."

    Burung gagak, dalam banyak budaya, menjadi simbol kematian dan pertanda duka. Di kampung Nyamplungan, suara gagak yang tak henti-henti menjadi latar dari sebuah kenyataan pahit: kematian yang datang berulang, dibungkus oleh pakaian putih paramedis dan ketidakpastian. Puisi ini bukan sekadar keluhan, melainkan jeritan batin yang mempertanyakan takdir, ujian, dan makna hidup di tengah wabah.

  • Suara burung gagak terdengar nyaring sedari tadi. Katanya
    tanda ada yang akan mati. Nyamplungan dan kampung lainnya
    dikitari. Terbang di atas genting tak henti-henti.

    Warna burung gagak tak terlihat lagi. Hitam, abu-abu atau
    putih. Janji jelas, telah ditagih, dipanggil satu, dua, tiga, lalu lagi.
    Waktunya paramedis, seperti makhluk alien putih. Tertutup
    pakaian serba putih dari rambut ke kaki. Orang Nyamplungan
    terkenal dekat dengan ilahi. Tidak mau berdebat, pasrah pada
    maha pengasih.

    Ini ajal, kata mereka lagi. Tapi aku protes, tak puas sampai di
    sini. Mengapa semua yang mati, harus disebabkan virus ansih?
    Padahal banyak hal lain, yang bisa membawa mati. Apakah ini
    hukuman atau ujian dari ilahi robbi?

    Ataukah ini, kesempatan untuk introspeksi diri? Aku tak tahu
    jawabannya, hanya bisa berdoa dan berserah diri. Semoga
    burung gagak tak mengepung lagi. Semoga di Nyamplungan
    gagak tak datang kembali.

  • Kematian memang tak bisa ditolak, tapi pertanyaan tentang sebab dan makna selalu hidup. Yusuf Achmad mengajak kita untuk tidak hanya pasrah, tapi juga merenung. Semoga gagak tak lagi mengepung genting-genting kita. Semoga kampung Nyamplungan dan kampung-kampung lain kembali tenang, tanpa firasat kelam.

    Puisi ini lahir dari pengamatan dan pengalaman batin selama masa pandemi. Nyamplungan adalah simbol dari banyak kampung di Indonesia yang menghadapi kematian dengan pasrah, namun tetap menyimpan tanya. Semoga karya ini menjadi ruang refleksi dan doa bersama.

  • Komentar

    Postingan populer dari blog ini

    Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

    Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

    Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif