Tulisan yang paling membekas— Pencuri Wajah: Dari Bayang Masa Kecil hingga Wajah-Mu yang Abadi

 Jejak Masa Kecil

  • Wajah-Wajah yang Membekas

  • Wajah Abadi


  • Ada tulisan yang lahir dari imajinasi, ada pula yang lahir dari luka. Bagi saya, yang paling membekas adalah perjalanan wajah demi wajah yang kemudian saya titipkan dalam karya berjudul “Pencuri Wajah: Dari Bayang Masa Kecil hingga Wajah-Mu yang Abadi”.

    Puisi ini berangkat dari jejak masa kecil—tatapan seorang pencuri di pelataran bioskop yang membekukan jiwa kanak-kanak saya. Dari sana, siluet-siluet lain hadir: sahabat SMA dengan cinta yang tak pernah tersampaikan, sekelebat cinta monyet yang polos dan riang, bayangan cinta pertama yang terus menghantui mimpi, hingga wajah seorang ustadz yang mengkhianati amanah. Semua itu bukan sekadar peristiwa, melainkan parut yang membentuk arah perjalanan batin.

    Ada wajah yang mencuri keberanian, ada wajah yang menyimpan harap, ada wajah yang menyalakan cahaya singkat, ada wajah yang meruntuhkan iman.
    Dan dari semua wajah itu, saya belajar menafsir luka sebagai pintu, bukan akhir.

    Namun, yang membuat perjalanan ini paling membekas bukanlah kisah pribadi semata, melainkan arah akhirnya: semua wajah fana itu menuntun saya pada satu wajah yang abadi—Wajah-Mu. Di situlah saya menemukan makna terdalam menulis: bukan hanya mengabadikan pengalaman, tetapi juga menyingkap jalan pulang menuju-Nya.

    Bagi saya, “Pencuri Wajah” bukan sekadar puisi, melainkan cermin hidup: menulis di Kompasiana bukan hanya berbagi cerita, tetapi merawat ingatan, mengolah luka, dan menemukan makna.

    Pada momen ulang tahun ke-17 Kompasiana ini, saya merayakan bukan hanya usia sebuah platform, melainkan perjalanan batin yang tumbuh bersamanya. Setiap tulisan memang punya cerita, tetapi hanya sedikit yang benar-benar membekas—dan bagi saya, inilah dia: wajah-wajah yang menuntun saya pulang pada Wajah-Mu.

    #Sweet17Kompasiana #WajahWajahYangMembekas #Kompasiana17Tahun #YusufachmadBilintention

  • Komentar

    Postingan populer dari blog ini

    Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

    Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

    Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif