Menjaga Rasa di Nusantara
Karib atau Sohib: Puisi Tentang Persahabatan yang Melampaui Batas
Puisi lintas budaya tentang makna kawan dalam bingkai sejarah, identitas, dan keakraban di Asia Tenggara.
Dalam dunia yang terus berubah, kata “teman” tak lagi cukup untuk menggambarkan kedalaman hubungan. Puisi ini lahir dari pencarian makna persahabatan yang tak hanya menyentuh ranah sosial, tapi juga spiritual dan historis. Ia menimbang antara “karib” dan “sohib”, dua kata yang membawa nuansa berbeda namun sama-sama mengakar dalam budaya Nusantara dan Timur Tengah. Puisi ini masuk dalam 200 besar dari lebih 4000 karya dalam Lomba Puisi Tiga Negara, Agustus 2025—sebuah penghargaan atas suara yang menyatukan perbedaan.
Lanskap senja simbolik dengan Garuda, Harimau, dan bulan sabit—melambangkan persahabatan lintas budaya di Asia Tenggara.
Menyulam makna dalam langkah
Puisiku sedang menakar makna, di antara sunyi dan riuh yang tak selalu bersuara. Ia memilih kata bukan untuk berkuasa, melainkan untuk bersahabat— seperti awan yang tak pernah menuntut angin, namun selalu bersedia dibawa tinggi, meski kadang hilang dalam senja yang tak bernama.
Kawan bukan lawan, seperti akar beringin yang tak terlihat, namun setia memeluk bumi, meski tak pernah dipuji. Mengiringi bukan sekadar berjalan bersama, tapi tetap ada, meski arah tak selalu serupa.
Dalam ruang formal, “rekan” berdiri tegak di kantor dan istana, sementara “geng” adalah tawa yang tak mengenal protokol, berjalan telanjang kaki di lorong kampung dan pasar malam. Teman? Ah, terlalu dalam untuk kusebut begitu saja. Bagimu, ia menyentuh ranah jiwa, menyerupai ikrar dalam sunyi yang tak terucap.
Maka kusebut kau karib, agar negaramu dan negaramu tetap tertib, tanpa perlu berkedip. Namun bila kau izinkan, kusebut kau sohib— seperti di Nyamplungan yang tak pernah raib, tempat doa dan tawa bersatu dalam langkah.
Karena aku bukan semata Jawa, aku berdarah Timur Tengah, dari negeri yang berkumandang Maghrib, menyulam makna dalam langkah, menyapa langit dengan kalimat yang tak selalu terang, namun selalu dalam.
Kawan, sahabat, geng, karib, atau sohib— yang penting kita bukan harimau dan rusa, bukan elang yang memangsa merpati tanpa empati. Kita bukan tentang siapa yang menang, tapi tentang siapa yang tetap ada, meski badai datang tanpa aba-aba.
Aku adalah Garuda, tak mudah berkhianat atau berdusta. Sepertimu: Singa Singapura dan Harimau Malaya, menjunjung tinggi bersihnya hati, meski luka tak selalu terlihat.
Maka biarlah kita tak serupa, tapi saling menjaga— seperti akar dan angin: tak bersentuhan, namun saling menyapa. Dalam sunyi, dalam riuh, dalam sejarah yang belum selesai, kau tetap karibku, dalam bahasa yang tak perlu dijelaskan lagi.
Dalam kawan, sahabat, geng, karib, atau sohib— kita di Nusantara, menjadi satu dalam rasa, meski berbeda dalam cara.
27 Agustus 2025
“Karib atau Sohib” bukan sekadar permainan kata, melainkan refleksi tentang bagaimana kita menyebut dan menjaga satu sama lain. Dalam sunyi maupun riuh, dalam sejarah yang belum selesai, kita tetap satu dalam rasa. Semoga puisi ini menjadi pengingat bahwa persahabatan sejati tak perlu seragam, cukup saling menjaga dan menyapa.

Komentar
Posting Komentar