Nada Kehidupan dan Kematian: Puisi Tentang Menyambut Yang Tak Terelakkan

Nada Kehidupan dan Kematian

Menyelam ke Dalam Sunyi


Puisi Eksistensial Tentang Kematian, Alam, dan Harapan

Kematian bukan sekadar akhir, melainkan pintu menuju pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan. Dalam puisi ini, penulis menyelami makna kematian melalui metafora laut, spiritualitas, dan teknologi. Ia mengajak kita merenung, bukan dengan ketakutan, melainkan dengan keheningan dan harapan.

            Aku menjelma puisi, lenyap dalam kata-kata. Huruf membeku, titik dan koma. Kutelusuri sunyi,             mati dalam diam yang buta.

Kumasuki laut biru kata, ganggang menari gemulai, ekor ikan melambai di bawah purnama. Karang tajam kuhancurkan, luka-luka lama mengambang.

Kutemukan tiram, permata hati yang tersembunyi. Kematian bukan akhir, melainkan kenangan yang tak tenang.

Laut menari bersama ganggang, ikan menjadi persembahan, tiram bermata bludru diam dalam cahaya.

Pada kematian kuberkata: “Aku menantimu, meski ragu.” Bekalku rapuh, waktu menyeret langkahku.

Kitab suci kadang bisu, menghadirkan takut yang samar, atau harap yang tak terduga.

Kau hadir di medan perang, di udara lengang, di darat tanpa jejak, di pusat peradaban yang sunyi.

Kapan kau berbunyi, seperti HPku berdering terang? Adakah nomormu bisa kutemukan, untuk menerima pesan suka cita yang tak pernah kutahu datangnya.

Surabaya, 2 Juli 2024

Puisi ini adalah perjalanan batin menuju pemahaman akan kematian. Ia tidak menawarkan jawaban, tetapi membuka ruang untuk bertanya. Dalam sunyi, dalam laut biru, dalam dering telepon yang tak kunjung datang—kita semua menunggu, dengan harap dan ragu yang sama.

Catatan  Penulis:

Puisi ini lahir dari perenungan panjang tentang kematian—bukan sebagai akhir, tetapi sebagai ruang sunyi yang penuh makna. Saya mencoba menyelami kematian seperti menyelami laut: dalam, misterius, dan kadang indah. Metafora alam dan teknologi saya gunakan untuk menjembatani dua dunia—yang spiritual dan yang sehari-hari.Dalam proses menulis, saya merasa seperti tenggelam dalam kata-kata, mencari tiram yang menyimpan permata: harapan, kenangan, dan keberanian untuk menerima yang tak terelakkan. Kematian bukan hanya tentang kehilangan, tapi juga tentang bagaimana kita hidup sebelum ia datang.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif