Postingan

CATATAN ESTETIK 2: Dialog Kata dan Teknologi dalam DELULA JAYA

Gambar
 Refleksi Estetik atas Teknik Imaji dan Filosofi Lumut Dialog Kata dan Teknologi Tulisan ini merupakan bagian kedua dari catatan estetik Anto Narasoma , jurnalis senior dan penyair asal Palembang , yang memberikan kata pengantar pada buku puisi Delula Jaya karya Yusuf Achmad . Dibacakan dalam acara peluncuran bersama IOSoP 2025 di Universitas Negeri Padang , refleksi ini menyoroti kedalaman filosofi puisi-puisi Yusuf, khususnya dalam dialog antara kata, teknologi, dan spiritualitas. Seri ini melanjutkan perjumpaan awal yang telah ditulis dalam bagian pertama blog, dan kini menggali makna lumut , Himalaya , dan puisi sebagai ruang imajinasi yang tak terduga. CATATAN ESTETIK (bagian kedua) Oleh Anto Narasoma   BUKU kumpulan puisi yang baru usai dicetak itu bertajuk "Delula Jaya".  Puisi itu ditulis dalam dua bahasa, Indonesia-Inggris ---------- Ketika membaca dari catatan yang dikirim penyair lewat WhatApps,  Delula Jaya itu merupakan singkatan dari debu, l...

ANTOLOGI ESTETIKA: Kata Pengantar untuk DELULA JAYA

Gambar
 Refleksi Estetik atas Puisi-Puisi Yusuf Achmad Perjumpaan dan Percikan Estetika Dialog Kata dan Teknologi Spiritualitas dalam Larik Setengah bulan sebelum berangkat ke Padang, saya dikabari sahabat dari Surabaya bahwa dia akan membukukan kumpulan puisinya. Kabar itu bukan sekadar berita, tapi awal dari sebuah perjalanan estetik yang menggetarkan... ANTOLOGI ESTETIKA   Oleh Anto Narasoma   SETENGAH bulan sebelum berangkat ke Padang, Sumatera Barat, saya dikabari sahabat dari Surabaya bahwa dia akan membukukan kumpulan puisinya.   ----------- Saya gembira mendengar itu. Sebab penyair Yusuf Achmad yang sebelumnya hanya menulis beberapa puisinya, ternyata mampu menghimpun puisi-puisinya.   "Bang Anto, kumpulan puisiku akan segera dicetak. Segala masukan dan informasi estetika yang abang limpahkan itu,  saya refleksikan bagi keutuhan antologi yang akan dicetak," ujar Yusuf Ahmad melalui HP-nya.   Penyair Surabaya itu sekaligus meminta saya untu...

Mungkinkah AI Menjadi Pemimpin? Saya Menulis untuk Menjawab

Gambar
Saya Ikut Lomba Esai Nasional 2025: AI dan Kepemimpinan  Saya ikut serta dalam Lomba Menulis Esai Nasional 2025 yang mengangkat tema penting: Mungkinkah AI Menggantikan Pemimpin Manusia ? . Mari kita rayakan semangat Sumpah Pemuda dengan gagasan dan refleksi kritis! Pertanyaan tentang AI dan kepemimpinan bukan sekadar teknis, tapi menyentuh inti kemanusiaan. Saya tertarik menggali sisi spiritual, etis, dan sosial dari kemungkinan ini Saya percaya bahwa menulis adalah cara terbaik untuk menyuarakan keresahan dan harapan. Lomba ini memberi ruang bagi kita untuk berpikir kritis dan kreatif Silakan sebar flyer ini ke komunitasmu. Semakin banyak yang ikut, semakin kaya gagasan yang lahir https://s.id/Lombaesaikeai Instagram: @kreator.era.ai Kontak: Ririe Aiko – 081280624615

Kopi Istriku: Puisi tentang Warna, Rasa, dan Cinta yang Tak Pernah Dingin

Gambar
Kopi Istriku Puisi dari buku “Dan Hantu-Hantu Palsu Kupinjam” – Dwi Bahasa Indonesia-Inggris Puisi tentang cinta yang diseduh dari warna dan keberanian sehari-hari   Di antara aroma pagi dan percakapan yang belum selesai, puisi ini lahir dari cangkir yang tak pernah kosong. “Kopi Istriku” adalah salah satu puisi dalam buku Dan Hantu-Hantu Palsu Kupinjam , yang ditulis dalam dua bahasa— Indonesia dan Inggris . Ia bukan sekadar tentang minuman, tapi tentang cinta yang diseduh dari keberanian, warna, dan keseharian. Tentang bagaimana rasa pahit bisa menjadi mesra, dan bagaimana warna merah bisa menjadi tanda bahwa cinta masih hidup.   Hitam pekat kopiku Berbeda dengan istriku Jika toh dicampur susu Warna bukan pekat itu Temanku tak suka susu Beda juga warnanya Pekat semua sisinya Namun putih jantungnya  Surbaya,  13-11-2013   Puisi ini pertama kali ditulis pada 13 November 2013, dan kini menjadi bagian dari perjalanan literasi saya sebagai pemu...

Subuh Ajaibmu: Cahaya Jiwa di Ujung Fajar

Gambar
Cahaya Subuh di Tengah Gelapnya Zaman Subuh Ajaibmu Subuh Keajaibanmu Melampaui Dunia Seisinya  Subuh bukan sekadar waktu, ia adalah keajaiban yang melampaui logika dan menyentuh nurani . Puisi ini adalah refleksi spiritual tentang makna terdalam dari salat Subuh yang agung . Subuh Ajaibmu Melibas Waktu Subuh bukan sekadar waktu, Ia adalah keajaiban yang menembus batas ragu. Bukan dongeng dalam kitab tua, Melainkan cahaya yang nyata, menyapa jiwa. Jika tujuh keajaiban dunia larut dalam air, Subuh menjelma samudra, tak pernah berakhir. Ia melampaui puncak ilmu dan sains fana, Menembus logika yang tak mampu menjangka. Harta para milyuner, Bahkan khazanah Qarun yang tak terukur, Tak mampu menandingi kilau Subuh yang hadir, Dalam sujud yang jujur, dalam zikir yang lirih. Mengapa ia disebut ajaib? Karena ia dirindu, namun sering terlewat. Lebih agung dari lampu Aladin yang mitos, Subuh adalah saksi niat yang tulus dan ikhlas. Bumi bersujud, langit pun bersaksi, M...

A bilingual poetry reflection by Yusufachmad Bilintention, reading Muhammad Adhar’s poem from Delula Jaya. A meditative journey through night and memory

Gambar
Nyamplungan at the Edge of Night ( Nyamplungan Terhampir Malam ) Poetry Reading: Nyamplungan Approaching Nightfall ( Membaca Puisi:Nyamplungan Terhampir Malam ) A Reflection by Yusuf Achmad from the book Delula Jaya ( Sebuah Renungan oleh Yusuf Achmad dari Buku Delula Jaya ) This poem flows like mist on Himalayan slopes—carrying dust, moss, and weariness into soothing words. A spiritual journey in the silence of night. (Puisi ini mengalir seperti kabut di lereng Himalaya —membawa debu, lumut, dan lelah menjadi kata-kata yang menenangkan. Sebuah perjalanan batin dalam senyap malam.) 1.     In the darkness that is not entirely silent, words become lanterns. This poem is read not just to be heard, but to be felt—like dew touching leaves at dawn. Let us enter the world of  Nyamplungan , where night is not the end, but the beginning of understanding. (Dalam gelap yang tidak sepenuhnya sunyi, kata-kata menjadi lentera. Puisi ini dibacakan bukan hanya untuk didengar, tapi untuk...

Tulisan yang paling membekas— Pencuri Wajah: Dari Bayang Masa Kecil hingga Wajah-Mu yang Abadi

Gambar
  Jejak Masa Kecil Wajah-Wajah yang Membekas Wajah Abadi Ada tulisan yang lahir dari imajinasi, ada pula yang lahir dari luka. Bagi saya, yang paling membekas adalah perjalanan wajah demi wajah yang kemudian saya titipkan dalam karya berjudul “Pencuri Wajah: Dari Bayang Masa Kecil hingga Wajah-Mu yang Abadi”. Puisi ini berangkat dari jejak masa kecil—tatapan seorang pencuri di pelataran bioskop yang membekukan jiwa kanak-kanak saya. Dari sana, siluet-siluet lain hadir: sahabat SMA dengan cinta yang tak pernah tersampaikan, sekelebat cinta monyet yang polos dan riang, bayangan cinta pertama yang terus menghantui mimpi, hingga wajah seorang ustadz yang mengkhianati amanah. Semua itu bukan sekadar peristiwa, melainkan parut yang membentuk arah perjalanan batin. Ada wajah yang mencuri keberanian, ada wajah yang menyimpan harap, ada wajah yang menyalakan cahaya singkat, ada wajah yang meruntuhkan iman. Dan dari semua wajah itu, saya belajar menafsir luka sebagai pintu, bukan akhir...