CATATAN ESTETIK 2: Dialog Kata dan Teknologi dalam DELULA JAYA

 Refleksi Estetik atas Teknik Imaji dan Filosofi Lumut

Dialog Kata dan Teknologi

Tulisan ini merupakan bagian kedua dari catatan estetik Anto Narasoma, jurnalis senior dan penyair asal Palembang, yang memberikan kata pengantar pada buku puisi Delula Jaya karya Yusuf Achmad. Dibacakan dalam acara peluncuran bersama IOSoP 2025 di Universitas Negeri Padang, refleksi ini menyoroti kedalaman filosofi puisi-puisi Yusuf, khususnya dalam dialog antara kata, teknologi, dan spiritualitas. Seri ini melanjutkan perjumpaan awal yang telah ditulis dalam bagian pertama blog, dan kini menggali makna lumut, Himalaya, dan puisi sebagai ruang imajinasi yang tak terduga.

CATATAN ESTETIK

(bagian kedua)

Oleh Anto Narasoma

 BUKU kumpulan puisi yang baru usai dicetak itu bertajuk "Delula Jaya". 

Puisi itu ditulis dalam dua bahasa, Indonesia-Inggris

----------

Ketika membaca dari catatan yang dikirim penyair lewat WhatApps,  Delula Jaya itu merupakan singkatan dari debu, lumut, larat : Jejak Kata di Himalaya.

Karena itu saya berkesimpulan bahwa uraian kata (isi) puisinya sangat dekat filosofi kehidupan. Sebab lumut yang notabene tumbuh tak lebih dari telapak kaki itu ternyata tak bisa kita anggap sebagai tetumbuhan dalam strata terendah.

Harus kita akui, jika dibanding dengan tetumbuhan sekelas pohon kelapa, pohon rengas, atau jati, lumut tumbuh setahap telapak kaki.

Tentu saja banyak orang menganggap bahwa tetumbuhan itu berada pada level paling rendah. Tapi adakah yang berpikir sebaliknya bahwa lumut bisa tumbuh di atas ketinggian pada tahapan awan?

Memang, saya yakin, sedikit sekali orang menyadari bahwa lumut bisa tumbuh di ketinggian "setinggi langit". Di tebing Bukit Himalaya tak ada pohon kelapa, jati, atau batang rengas. Yang tumbuh di sekujur tebing hanya lumut.

Secara filosofi, ternyata serendah-rendahnya tumbuhan lumut bisa menjadi lebih tinggi dalam persepsi kita ketika melihat lumut-lumut tumbuh di dinding Bukit Himalaya.

 Terkait masalah itu, saya jadi terkesan ketika diminta untuk menjadi pembicara dalam peluncuran antologi Delula Jaya (Yusuf Achmad) dan antologi Leni Marlina.

Mencermati isi buku antologi itu bagus sekali. Saya setuju andaikan diminta jadi pembicara dalam meresensi kedua antologi.

Padahal sebelum ada permintaan dari Ketua Media Suara Anak Negeri News Paulus Laratmase untuk menjadi pembicara peluncuran dua buku antologi puisi di Universitas Negeri Padang, saya juga diminta menjadi pembicara dalam acara Apresiasi Penulisan Puisi di Museum Balaputra Dewa Sumatera Selatan, 30 Mei 2025. Tapi saya tolak. Sebab saya sudah berjanji kepada sahabatku Leni Marlina, Yusuf Ahmad, dan Paulus Laratmase.

 Seperti dikatakan sastrawan Belanda A Weremeus Buning dalam   De Motige (En Andere Marine-Schetsen: NV Drukkerij V/H Koch & Knutel Roterdam 1932), keakraban dalam dunia sastra merupakan kecerdasan paling hakiki bagi pribadi saya harus lebih diprioritaskan. Apalagi pengembangan esensi sastranya secara literasi untuk dialokasikan ke  masyarakat.

 Dalam pembahasannya nanti disertai dengan praktik langsung dengan membacakan puisi yang diresensi secara akademik tersebut,

di Universitas Negeri Padang. Maka secara tegas saya langsung bersikap bijak untuk memilih berangkat ke Padang saja.

 Itu artinya, saya tidak menyepelekan permintaan tawaran lainnya. Karena sepotong badan ini tak dapat dibagi dua dalam satu momen acara pembicaraan sastra.

 Progresnya, dalam beberapa hari menjelang keberangkatan ke Padang, saya membaca bahan mentah kiriman puisi yang ada di dalam buku antologi Delula Jaya dari penyair Yusuf Achmad.

Dari sejumlah puisi yang ada, saya sangat tertarik untuk membaca dan mempelajari kedalalaman puisi bertajuk Do-Mi- No : Melodi Kehidupan.

 Dari format imaji saya merasa bahwa puisi ini menggunakan kata-kata yang membangkitkan gambaran perasaan dari ruang-ruang imajimasi yang kental.

 Bahkan teknik penggunaan kata-kata pilihan yang disajikan dalam menterjemahkan persoalan dari luar diri penyair (ekstrinsik), memiliki makna ganda untuk menyajikan isi puisi "Do-Mi-No : Melodi Kehidupan tersebut.

Seperti makna ganda (konotasi). Bahkan dari metafora, simile, serta personifikasi yang melingkupi tujuan puisi secara intensi, benar-benar tersaji dengan baik. (bersambung)

Dalam catatan ini, Anto Narasoma tidak hanya membaca puisi, tetapi juga menafsirkan lanskap batin yang ditawarkan oleh Delula Jaya. Ia menunjukkan bahwa puisi bukan sekadar susunan kata, melainkan jejak spiritual yang bisa tumbuh di tempat paling tinggi sekalipun—seperti lumut di Himalaya. Seri berikutnya akan mengulas bagaimana spiritualitas dan larik-larik Yusuf Achmad saling bersenyawa, membentuk ruang kontemplatif yang melampaui bahasa.

Untuk tulisan lain silahkan buka:

 https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write

 https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?

hl=en  https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif