Kopi Istriku: Puisi tentang Warna, Rasa, dan Cinta yang Tak Pernah Dingin

Kopi Istriku

Puisi dari buku “Dan Hantu-Hantu Palsu Kupinjam” – Dwi Bahasa Indonesia-Inggris

Puisi tentang cinta yang diseduh dari warna dan keberanian sehari-hari

 

Di antara aroma pagi dan percakapan yang belum selesai, puisi ini lahir dari cangkir yang tak pernah kosong. “Kopi Istriku” adalah salah satu puisi dalam buku Dan Hantu-Hantu Palsu Kupinjam, yang ditulis dalam dua bahasa—Indonesia dan Inggris.

Ia bukan sekadar tentang minuman, tapi tentang cinta yang diseduh dari keberanian, warna, dan keseharian. Tentang bagaimana rasa pahit bisa menjadi mesra, dan bagaimana warna merah bisa menjadi tanda bahwa cinta masih hidup.

 

Hitam pekat kopiku

Berbeda dengan istriku

Jika toh dicampur susu

Warna bukan pekat itu

Temanku tak suka susu

Beda juga warnanya

Pekat semua sisinya

Namun putih jantungnya

 Surbaya, 13-11-2013

 Puisi ini pertama kali ditulis pada 13 November 2013, dan kini menjadi bagian dari perjalanan literasi saya sebagai pemuisi dan pendidik.

Terima kasih kepada semua pembaca, komunitas sastra, dan @MardiLuhung dan @ChoirulWadud guru dalam proses penulisan saya yang terus mendampingi proses kreatif saya.

Jika kamu pernah menyeduh cinta dari cangkir yang tak biasa, mungkin kamu juga pernah menulis puisi tanpa pena.

Istriku kau kopiku. Puisi ini adalah cangkir yang tak pernah kosong.


 untuk membuka vidio via youtube silahkan kunjungi: https://www.youtube.com/watch?v=z4hYvn7eusI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif