Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Putri Tentara (Lanjutan)

Gambar
 Di ruang ICU Namun kini Anisa dihadapkan pada masalah yang lebih berat. Kondisi ayahnya, sang purnawirawan tentara , semakin parah. Anisa, didampingi ibunya dan Anas, menunggu di ruang ICU , berharap akan keajaiban. Mereka berusaha tegar, menunggu kabar dari tim dokter. Aku mengucapkan kata-kata yang kini terasa seperti doa, “Odik ruwah tak mesteh, odik susah, mateh susah, kadang e bebeh, kadang e atas,” dengan nada hampir sakral. Anisa menatapku, mencari makna di balik kata-kata itu. “Ibu, apa yang Anas coba sampaikan dengan bahasa Madura itu?” tanya Anisa, suaranya penuh keingintahuan. Ibu Anisa hanya tersenyum lembut, mencoba memahami maksud Anas. Anas, dengan senyum penuh empati, mendekati dokter yang memimpin tim medis. Dari kejauhan, Anisa melihat dokter itu menggelengkan kepala dan menunjuk ke langit. Setelah berbicara dengan dokter, Anas kembali ke sisi Anisa dan ibunya. “Hidup itu tidak menentu; hidup susah, mati susah, kadang di bawah kadang di atas, dan kita harus beru...

Putri Tentara

Gambar
Kisah Keteguhan di Tengah Konflik Anisa membuka buku kenangan masa SMA, halaman demi halaman dipenuhi dengan foto dan tulisan tangan teman-temannya. Matanya tertahan pada kata-kata dari Anas, kawan lamanya dari Madura yang kini menjadi rekan kerja sekaligus teman dekat. Tulisannya berbunyi: Odik ruwah tak mesteh, Odik susah mateh susah, Kadang e bebeh, kadang e atas, Se bender usaha ben pasrah . Entah mantra, entah puisi, kata-kata itu berdansa dalam benak Anisa, gadis yang telah melewati masa belia namun tetap mempesona. Kegelisahan merayapinya, di tengah desakan orang tuanya untuk segera menikah. Adik-adiknya telah berumah tangga, memberikan keponakan yang menggemaskan, sementara ia masih sendiri. Kata-kata Anas terlupa sejenak saat Anisa bergabung dengan orang tuanya yang sedang berbincang di beranda rumah mewah mereka di Surabaya . Ayahnya, seorang purnawirawan tentara yang kini renta, masih menjadi kebanggaannya. Cerita-cerita masa muda ayahnya sering menjadi topik hangat antara...

Catatan Kedelapan atas Sun-Shattering Mythology of Tanimbar Mitos sebagai Partitur Spiritual dan Paradigm Shift

Gambar
 Mitos sebagai Partitur Spiritual dan Paradigm Shift Dalam perjalanan membaca Sun-Shattering Mythology of Tanimbar , saya kembali diingatkan bahwa mitos bukan sekadar dongeng masa lalu. Ia hadir sebagai jalinan antara kesadaran rasional dan simbolik, antara tubuh yang merasakan dan jiwa yang mencari makna. Doty menyebut mitologi sebagai studi tentang mitos, namun lebih dari itu, ia adalah upaya manusia memahami dirinya melalui jejaring narasi dan citra yang mengandung kebenaran. Sebagai penulis yang menjelajahi relasi batin dan musikalitas hidup, saya melihat mitos sebagai partitur spiritual—di mana setiap nada adalah simbol, dan setiap diam adalah ruang kontemplasi. Masuk ke pembahasan tentang paradigm shifts , saya merasa seperti diajak menelusuri lorong waktu pemikiran manusia. Thomas Kuhn hadir sebagai penanda bahwa ilmu pun memiliki mitosnya sendiri—narasi besar yang bisa bergeser ketika cara pandang berubah. Dalam konteks ini, mitos bukan lawan dari ilmu, melainkan saudara ...
Gambar
  Puisi saya " Kata Logika dan Luka " ini merupakan rangkaian puisi terakhir dari puisi-puisi bertema" Kata ." Puisi-puisi ini lahir dari ruang sunyi yang sering terasa bising. Kata-kata itu saya rawat seperti anak-anak kecil yang belajar berjalan—tertatih, jatuh, lalu bangkit lagi. Ada luka yang saya biarkan berbicara, ada doa yang saya biarkan bergetar, ada tanya yang saya biarkan menggantung. Gambar:AI-Copilot Lalu, mengapa kita sibuk bertanya? Apakah setiap tanya harus punya jawabnya? Apakah semua tunduk pada logika? Apakah “apa” lebih rendah dari “siapa”? Atau “di mana” kebenaran sesungguhnya? “Mengapa” sering dianggap paling bijak, namun “bagaimana” justru menuntun langkah. Seperti anak kecil yang polos bertanya: “Kenapa disuntik di pantat, padahal sakitnya di kepala?” Logika pun tersenyum getir, tak selalu mampu menampung rasa. Surabaya , Desember 2025 Pada puisi-puisi saya itu termasuk puisi terakhir ini. Di dalamnya  terdapat luka yang saya biarkan berbica...

Kata Tanya yang Tak Selesai

Gambar
  Gambar :AI-Copilot Siapa berani bersumpah bahwa gelar adalah kunci kejayaan? Siapa tahu si kecil tak bisa menjulang tanpa ijazah, tanpa ruang? Pertanyaan berputar, seperti angin di lorong sekolah tua, membawa gema yang tak pernah reda. Dan kita pun terdiam, mendengar tanya lebih nyaring daripada jawab. Surabaya , Desember 2025 Untuk tulisan lain silahkan buka: https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en  https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211 Suaraanaknegerinews.com https://medium.com/@yusufachmad2018 https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

Kata yang Lelah

Gambar
  Gambar: AI-Copilot Di ujung malam, kata-kata merintih, diperas waktu hingga kering nadinya. Berbaris tanpa urut, seperti pasukan kehilangan komando. Mereka ingin lari, menyelinap ke celah sunyi, bukan menjadi kilau palsu di mata serakah, bukan duri dingin yang menusuk tanpa suara. Kata hanyalah desir, mencari dada bening untuk berlabuh.   Untuk tulisan lain silahkan buka: https:// yusufachmad-bilintention.blogspot.com https://www. kompasiana.com /yusufachmad7283/dashboard/write https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en  https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211 Suaraanaknegerinews.com https:// medium.com /@yusufachmad2018 https:// flipboard.com /@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

Kata yang Jujur

Gambar
  Gambar :AI-Copilot Inilah kata yang ingin kucipta: bukan rayuan yang lekas layu, melainkan tetes jernih dari luka, tumbuh dari doa yang tak selesai dibisikkan. Kata itu kuberi pada hari yang patah, sebagai penawar bagi cinta yang retak. Ia bukan sekadar bunyi, tapi denyut jiwa yang menolak padam, seperti pelita kecil di tengah badai. Untuk tulisan lain silahkan buka: https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write  https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en  https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211 Suaraanaknegerinews.com                         https://medium.com/@yusufachmad2018 https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

Langit yang Tak Dijual

Gambar
 Menjadi Guru, Menjaga Arah Copilot-AI Safari abu-abu bertengger di pundakku— seperti awan yang menahan hujan, menyimpan rahasia sebelum jatuh ke bumi. Tetangga menyapaku dengan senyum resmi: “Sudah jadi pejabat,” katanya. Aku tersenyum, menjawab lirih: aku guru. Ia pun berlalu, seperti angin yang hanya singgah di tepi daun. Di kelas, aku mengenali diriku: penanam langit di kepala anak-anak. Dulu, kata jangan adalah pagar cahaya— lentera yang menuntun langkah di lorong sunyi. Langit itu luas, membuka arah, mengajarkan diam sebelum kata. Kini, langit direbut layar: jawaban datang tergesa, tanpa kedalaman. Murid-murid hafal pasal, namun lupa rasa. Mereka bicara kebebasan tanpa mendengar angin yang mengibarkan bendera. Ilmu bukan sekadar data, melainkan cahaya yang tumbuh dari hati. Jika tak dijaga, ia hanya kilatan tanpa arah. Puisiku dulu bertanya: “Kenapa memilih papan tulis, bukan panggung kuasa?” Kini aku mengerti: langit tak dijual. B...

Ketika Pujian Menjadi Racun Jiwa

Gambar
  Manis yang Memabukkan Sumber Gambar:AI-Copilot Ketika sanjung beradu dengan pujian, Kata-kata mengalir laksana sungai madu— Manis, mengikat, kadang membius, Mengangkat jiwa ke langit tinggi, Seperti mentari tak pernah padam, Atau elang menari di puncak angin liar. Namun ingatlah pesan Umar bin Khattab, Pujian bisa jadi bara bagi jiwa, Mengelabuhi hati yang seharusnya berserah. Kadang ia cambuk, menusuk relung asa, Kadang ia bunga, mewarnai hidup yang redup, Namun sering ia menjelma racun, Melemahkan semangat, meruntuhkan harapan. Bila bertemu sosok yang diagungkan, Rupanya serupa permata memikat mata. Namun kala kenyataan terkuak, Seperti luka yang terbuka, Menguar bau getir, meluluhlantakkan anggapan. Duhai para pemilik kebijaksanaan, Nasihatmu kunanti dengan rendah hati. Bukan sekadar kecaman atau hinaan, Namun kata-kata yang menawar luka, Yang mampu meruntuhkan sombong dan lupa. Duhai jiwa yang membeku dalam sepi, Kau hanya bayang hampa, Getir ya...

Seri Populer: Filsafat Relasional dalam Puisi Yusuf Achmad “The Cell of Love That Brings Life”

Gambar
  Sumber gambar:suaraanaknegerinews.com Sel Cinta yang Menghidupkan: Puisi Eksistensial tentang Tekad dan Kasih Abadi Oleh: *Paulus Laratmase-Akademisi – Pengantar “The Cell of Love That Brings Life”  karya Yusuf Achmad dalam bingkai filsafat relasional dan eksistensial. Yusuf Achmad menggunakan metafora sel (cell) sebagai simbol cinta yang dinamis, regeneratif, dan tak terbatas. Cinta dalam puisi menggambarkan  perasaan individual atau emosional sebagai kekuatan eksistensial dan etis yang membentuk, menghidupkan, serta menyatukan manusia dalam relasi yang otentik. Untuk mengembangkan argumen tersebut, tulisan ini merujuk pada gagasan-gagasan filsuf utama seperti Martin Buber , Gabriel Marcel , Emmanuel Levinas , Paul Ricoeur , Maurice Nédoncelle , Thomas Aquinas, Santo Agustinus , Erich Fromm , Carl Rogers , Anders Nygren , dan Josef Pieper. Dalam bagian pertama, puisi dibaca dalam kerangka relasi “Aku-Kau” menurut Buber, dan diperkaya dengan konsep “app...