Putri Tentara (Lanjutan)
Di ruang ICU Namun kini Anisa dihadapkan pada masalah yang lebih berat. Kondisi ayahnya, sang purnawirawan tentara , semakin parah. Anisa, didampingi ibunya dan Anas, menunggu di ruang ICU , berharap akan keajaiban. Mereka berusaha tegar, menunggu kabar dari tim dokter. Aku mengucapkan kata-kata yang kini terasa seperti doa, “Odik ruwah tak mesteh, odik susah, mateh susah, kadang e bebeh, kadang e atas,” dengan nada hampir sakral. Anisa menatapku, mencari makna di balik kata-kata itu. “Ibu, apa yang Anas coba sampaikan dengan bahasa Madura itu?” tanya Anisa, suaranya penuh keingintahuan. Ibu Anisa hanya tersenyum lembut, mencoba memahami maksud Anas. Anas, dengan senyum penuh empati, mendekati dokter yang memimpin tim medis. Dari kejauhan, Anisa melihat dokter itu menggelengkan kepala dan menunjuk ke langit. Setelah berbicara dengan dokter, Anas kembali ke sisi Anisa dan ibunya. “Hidup itu tidak menentu; hidup susah, mati susah, kadang di bawah kadang di atas, dan kita harus beru...