Seri Populer: Filsafat Relasional dalam Puisi Yusuf Achmad “The Cell of Love That Brings Life”
Sel Cinta
yang Menghidupkan: Puisi Eksistensial tentang Tekad dan Kasih Abadi
Oleh: *Paulus Laratmase-Akademisi
–
Pengantar
“The Cell of Love That Brings Life” karya Yusuf Achmad dalam bingkai filsafat
relasional dan eksistensial. Yusuf Achmad menggunakan metafora sel (cell)
sebagai simbol cinta yang dinamis, regeneratif, dan tak terbatas. Cinta dalam
puisi menggambarkan perasaan individual atau emosional sebagai
kekuatan eksistensial dan etis yang membentuk, menghidupkan, serta menyatukan
manusia dalam relasi yang otentik. Untuk mengembangkan argumen tersebut,
tulisan ini merujuk pada gagasan-gagasan filsuf utama seperti Martin Buber,
Gabriel Marcel, Emmanuel Levinas, Paul Ricoeur, Maurice Nédoncelle, Thomas
Aquinas, Santo Agustinus, Erich Fromm, Carl Rogers, Anders Nygren, dan Josef
Pieper.
Dalam bagian pertama, puisi dibaca dalam kerangka
relasi “Aku-Kau” menurut Buber, dan diperkaya dengan konsep “appel” atau
panggilan dari sesama menurut Marcel. Cinta tampil sebagai bentuk keterlibatan
yang tak bisa direduksi menjadi relasi objektif atau manipulatif, tetapi
sebagai perjumpaan subjek dengan subjek lain. Selanjutnya, tulisan mengangkat
cinta sebagai tindakan affirmatio dan promotio (Nédoncelle),
serta sebagai velle alicui bonum (Aquinas), yaitu kehendak
untuk memajukan dan meneguhkan eksistensi orang lain. Bagian ketiga, gagasan
Levinas dan Ricoeur memperlihatkan cinta sebagai panggilan etis dari yang lain,
serta sebagai struktur naratif yang membentuk identitas diri melalui relasi.
Puisi Yusuf Achmad dalam tradisi caritas menurut
Agustinus dan sebagai landasan komunitas penyembuh ala Jean Vanier. Kemudian,
Fromm dan Rogers menyoroti cinta sebagai tindakan aktif memberi dan penerimaan
tanpa syarat, yang dalam puisi terungkap sebagai cinta yang hidup dalam setiap
momen dan melalui pemikiran Nygren dan Pieper, cinta dalam puisi
diidentifikasi sebagai cinta agape yang memberi tanpa pamrih dan membangun
kehadiran bersama. Dengan demikian, puisi The Cell of Love That Brings
Life menjadi karya sastra dan dokumen filosofis yang
merefleksikan cinta sebagai inti dari eksistensi, relasi, dan spiritualitas
manusia.
Puisi “The Cell of Love That Brings Life” karya
Yusuf Achmad adalah ungkapan kontemplatif yang sarat makna eksistensial dan
spiritual. Dengan metafora sel (cell) sebagai simbol cinta yang hidup dan
abadi, puisi ini menegaskan bahwa cinta merupakan suatu kekuatan yang
membentuk, menggerakkan, dan menghidupkan manusia. Dalam bingkai filsafat
relasional, puisi ini dapat ditafsirkan sebagai penegasan cinta sebagai relasi
subjek-subjek, seperti yang digagas oleh Martin Buber, Emmanuel Levinas, dan
Gabriel Marcel. Tulisan ini akan membahas bagaimana pemikiran para filsuf
eksistensialis dan pemikir relasional membingkai puisi ini dalam konteks cinta
kasih yang meneguhkan dan mempromosikan eksistensi sesama.
Cinta sebagai Struktur Relasional “Aku-Kau”
Martin Buber dalam karya monumentalnya I
and Thou (1923; edisi Inggris 1970, terbitan Charles Scribner’s Sons)
membedakan dua bentuk relasi manusia: “Aku-Itu” (Ich-Es) dan “Aku-Kau” (Ich-Du).
Relasi Aku-Itu bersifat objektif, utilitarian, dan
instrumental; sedangkan relasi Aku-Kau bersifat dialogis,
timbal balik, dan otentik. Dalam relasi Aku-Kau, subjek tidak
memperlakukan yang lain sebagai objek, melainkan menjumpainya sebagai pribadi
yang utuh dan setara. Puisi Yusuf Achmad mencerminkan semangat relasi Aku-Kau saat
menyatakan bahwa cinta adalah entitas yang hidup dan terus bertumbuh: “My
love stands firm, unwavering, / I want my love to always be alive, unending,” menggambarkan
cinta sebagai perjumpaan yang melampaui s emosi atau ketertarikan dan sebagai
bentuk keterhubungan yang transenden antar-subjek (Buber, 1970).
Gabriel Marcel memperkaya pemahaman ini melalui
konsep appel atau panggilan dari sesama. Dalam karya The
Mystery of Being, Volume II: Faith and Reality (1960), Marcel
menjelaskan bahwa eksistensi manusia dibentuk dalam respons terhadap seruan
dari yang lain, yang menuntut kehadiran eksistensial dan bukan analisis
intelektual. Baris puisi “Emerging in darkness, a gentle light, /
Adorning the soul with love infinite” menandai respons eksistensial
terhadap seruan itu, cinta muncul bukan karena instruksi rasional, melainkan
karena keterpanggilan batin untuk hadir bagi yang lain. Dalam cinta yang
menurut Marcel, saya bukan hanya menjadi diri, tetapi menjadi bersama yang
lain: sois avec moi – sertailah saya (Marcel, 1960).
Cinta dalam puisi ini tampil sebagai kekuatan yang
“solid” dan “conveyed with meaning”, mengacu pada cinta yang bersifat esensial
dan tidak dapat ditentukan oleh batas-batas partikular. Hal ini sejalan dengan
gagasan Buber bahwa perjumpaan Aku-Kau melahirkan kesadaran
yang transenden dan memperluas horizon diri. Dalam relasi seperti ini, bukan
hanya subjek yang memberi makna kepada dunia, melainkan melalui
kehadiran Kau, turut memberi makna kepada subjek. Cinta dalam puisi
Yusuf Achmad merupakan pengalaman eksistensial yang memulihkan dan
membentuk keutuhan relasi antara dua pribadi.
Gabriel Marcel melengkapi pemahaman ini dengan
gagasan tentang appel, seruan dari sesama yang mengundang
subjek untuk keluar dari dirinya menuju yang lain. Dalam puisi, ini tergambar
dalam larik “Emerging in darkness, a gentle light, / Adorning the soul
with love infinite,” di mana cinta hadir sebagai respons terhadap
panggilan yang datang dari kedalaman eksistensi orang lain. Bagi Marcel, cinta
bukan hanya tindakan afektif, tetapi bentuk keterlibatan ontologis yang
menyentuh inti eksistensi manusia. Seruan “sois avec moi” (sertailah
aku) menandakan cinta sebagai partisipasi dalam keberadaan orang lain sebuah
bentuk kehadiran yang setia, terbuka, dan penuh penerimaan.
Dengan demikian, puisi Yusuf Achmad dapat dibaca
sebagai ekspresi puitik dari filsafat relasional Buber dan Marcel. Cinta adalah
daya hidup yang mengikat subjek dengan subjek lain dalam relasi yang otentik
dan penuh makna. Ketika sang penyair menyatakan bahwa cinta akan terus hidup
dan membelah seperti sel, ia menggambarkan cinta sebagai kekuatan
biologis dan sebagai realitas dialogis yang membentuk kemanusiaan kita.
Cinta menjadi landasan etis dan eksistensial untuk membangun dunia bersama, di
mana setiap pribadi dipanggil untuk menjadi “kau” yang dihadapi dengan cinta
tanpa syarat.
Cinta sebagai “Promotio” dan “Affirmatio”
Maurice Nédoncelle menekankan cinta kasih sebagai
tindakan promotio dan affirmatio. Dalam karya
pentingnya La Personne humaine (1952), Nédoncelle menyatakan
bahwa cinta sejati adalah bentuk keterlibatan eksistensial yang aktif dan
personal, yang memadukan peneguhan atas eksistensi orang lain (affirmatio)
dan kehendak untuk memajukan eksistensi tersebut (promotio). Cinta
bukanlah perasaan pasif atau reaksi emosional sesaat, melainkan tindakan
spiritual dan personal yang menyambut keberadaan orang lain dengan segenap
keterbukaan dan kehendak untuk memperkembangkan. Dalam puisi Yusuf Achmad,
cinta digambarkan sebagai kekuatan yang mendorong pertumbuhan: “Its way
to grow like cells divide, / Always alive, with energy inside.” Larik
ini mencerminkan cinta sebagai kehendak untuk menumbuhkan kehidupan dan
memperluas keberadaan yang lain dalam semangat promotio eksistensial
(Nédoncelle, 1952).
Lebih lanjut, Nédoncelle memahami cinta sebagai
gerak keluar dari diri yang tidak hanya meneguhkan keberadaan orang lain,
tetapi juga mendorong keterbukaan dan pertumbuhan bersama. Dalam dimensi affirmatio,
cinta mengakui martabat pribadi yang lain secara otentik, sedangkan dalam promotio,
cinta mengarah pada pemberdayaan dan penyempurnaan eksistensi tersebut. Maka
ketika puisi mengibaratkan cinta sebagai sel yang membelah, ini bukan hanya
metafora biologis, melainkan representasi filosofis dari cinta sebagai kekuatan
penciptaan dan pembaruan eksistensi. Di sinilah puisi menjadi ekspresi puitik
dari cinta yang partisipatif, dialogis, dan transformatif menurut kerangka
personalisme Nédoncelle.
Dalam terminologi klasik, Thomas Aquinas menyebut
cinta kasih sebagai velle alicui bonum, yaitu menghendaki kebaikan
bagi orang lain secara konkret (lih. Summa Theologiae, I-II, q. 26,
a. 4). Cinta sejati menurut Aquinas sebuah tindakan kehendak yang terarah
kepada kebaikan objektif orang lain. Hal ini tercermin dalam puisi melalui
baris “Strengthening hearts, uniting souls coy”, yang menandakan
cinta sebagai kekuatan yang memperkuat dan mempersatukan dalam kasih yang
nyata. Cinta dalam makna ini adalah tindakan kehendak yang menyelamatkan,
mengafirmasi nilai pribadi orang lain, dan menghadirkannya dalam relasi yang
menyembuhkan dan membebaskan.
Kombinasi pemikiran Nédoncelle dan Aquinas memperlihatkan
bahwa cinta yang disampaikan dalam puisi Yusuf Achmad merupakan cinta yang
berakar pada pengakuan eksistensial (affirmatio), bersifat aktif dan
dialogis, sekaligus mengarah pada kebaikan dan pemajuan eksistensi sesama (promotio).
Cinta dalam puisi bukan hanya emosi individual, tetapi gerak spiritual yang
etis, kreatif, dan partisipatif—cinta yang menjadikan keberadaan bersama
sebagai tujuan tertinggi.
Cinta dan Tanggung Jawab Etis
Dalam Totality and Infinity: An Essay on
Exteriority (1961), Emmanuel Levinas menyatakan bahwa etika
pertama-tama bukan soal norma atau hukum rasional, melainkan tanggung jawab tak
bersyarat yang timbul saat saya berhadapan dengan wajah orang lain (la face
de l’autre). Wajah dimaksud adalah kehadiran yang memanggil saya,
menuntut saya, dan mengikat saya pada tanggung jawab etis. Dalam konteks puisi
Yusuf Achmad, larik “In the beauty of unity, our love will never sever,
/ Healing wounds in a warm embrace forever” mencerminkan cinta sebagai
respons atas kehadiran yang rapuh dan memerlukan pengakuan. Cinta di sini
menuntut keterikatan eksistensial yang menyembuhkan dan menyatukan, sebagaimana
Levinas pahami cinta sebagai bentuk etika yang melampaui timbal balik dan
logika untung-rugi, (Levinas, 1961/1979).
Levinas menegaskan bahwa cinta bukanlah timbal
balik atau persetujuan dua pihak yang setara, tetapi tanggapan asimetris
terhadap panggilan dari yang lain. Cinta dalam puisi Achmad menggambarkan hal
itu melalui ekspresi ketahanan cinta dalam menghadapi penderitaan dan keterpisahan: “Though
cold cells, waves, or winds driving, / My love stands firm, unwavering.” Cinta
tetap hidup meski tidak mendapat balasan, karena didasarkan pada kepedulian dan
keterhubungan fundamental terhadap sesama manusia. Hal ini menggemakan prinsip
Levinas bahwa tanggung jawab kepada sesama selalu mendahului hak-hak pribadi
dan menjadi fondasi dari keberadaan etis.
Paul Ricoeur, dalam karya Oneself as
Another (1990), mengembangkan lebih lanjut dimensi etis-relasional ini
dengan menyatakan bahwa identitas diri dibentuk dalam dan melalui relasi. Ia
menyebut konsep narrative identity, bahwa kita mengenal dan menjadi
diri sendiri melalui cerita yang kita bangun dalam interaksi dengan orang lain.
Dalam puisi Yusuf Achmad, cinta hadir sebagai kisah hidup: “I
pursue a dream that must unfold.” Cinta adalah narasi eksistensial
yang bergerak terus, yang membentuk jiwa dan memperluas makna diri. Maka, “Adorning
the soul with love infinite” menggambarkan cinta yang indah, membentuk
identitas melalui perjumpaan dan tanggung jawab terhadap sesama. Inilah inti
cinta menurut Levinas dan Ricoeur: cinta sebagai tanggapan etis dan struktur
naratif yang memanusiakan.
Cinta Sebagai Virtue Teologal dan Komunitarian
Santo Agustinus dalam karya Confessiones (ditulis
sekitar tahun 397–400 M) menegaskan bahwa cinta (caritas) adalah
kekuatan terdalam yang menggerakkan jiwa manusia menuju Tuhan dan sesama. Dalam
Buku XIII, ia menulis ungkapan terkenal: “Pondus meum amor meus; eo
feror, quocumque feror” — “Beban atau gravitasi diriku adalah
cintaku; ke mana aku dibawa, itu karena cinta yang membawaku.” (Agustinus, Confessions,
XIII.9). Ini merupakan pengakuan bahwa cinta adalah pusat gravitasi spiritual
manusia, kekuatan eksistensial yang mengarahkan hidup. Dalam puisi Yusuf
Achmad, larik “The love within me keeps moving, surviving” menggambarkan
dinamika cinta sebagai tenaga rohani yang hidup, tak pernah padam, dan terus
menggerakkan eksistensi melintasi penderitaan dan harapan. Agustinus melihat
cinta sebagai vis vitalis — tenaga hidup yang menyatukan
manusia dengan asal-usul dan tujuan ilahinya.
Konsep caritas menurut Agustinus
adalah cinta murni yang mengarah kepada kebaikan tertinggi, yakni Tuhan. Caritas berbeda
dari cupiditas (nafsu atau kelekatan duniawi), karena caritas
bersifat transendental, bersumber dari Allah, dan memampukan manusia untuk
mencintai tanpa syarat. Dalam puisi, larik “I pursue a dream that must
unfold / Refusing to let all fade and grow cold” menggambarkan cinta
sebagai cita-cita spiritual yang tidak bisa padam oleh penderitaan atau
isolasi. Di sinilah cinta muncul sebagai kekuatan eksistensial yang aktif,
penuh daya dorong ke depan, dan menghidupkan makna. Bagi Agustinus, cinta
seperti ini adalah gerakan jiwa menuju terang, menjauh dari kegelapan ego, dan
membuka ruang bagi kehadiran ilahi maupun kehadiran sesama.
Jean Vanier, dalam Becoming Human (1998),
memperluas wacana cinta ini dari individu ke komunitas. Ia menekankan bahwa
cinta sejati membentuk komunitas inklusif yang menyambut kerentanan, luka, dan
kelemahan manusia. Dalam pandangannya, komunitas cintamerupakan ruang di mana
martabat setiap pribadi diteguhkan melalui kehadiran dan penerimaan. Larik
puisi Yusuf Achmad “Strengthening hearts, uniting souls” dan “Healing
wounds in a warm embrace forever” mencerminkan visi Vanier: bahwa
cinta adalah kekuatan penyembuh kolektif. Di dalam komunitas semacam ini, cinta
menjadi wujud konkret caritas yang menjangkau mereka yang
terpinggirkan dan memulihkan kemanusiaan yang retak. Maka, puisi ini tak hanya
bernapas secara spiritual, Yusuf Achmad menyuarakan etika sosial yang visioner:
bahwa cinta sejati membentuk dunia baru, dunia yang memulihkan, dunia yang
bukan memecah; dunia yang merangkul dan bukan dunia yang mengucilkan.
Psikologi Relasional dan Aktualitas Cinta
Erich Fromm dalam karya klasiknya The Art of
Loving (1956) memandang cinta bsebagai tindakan aktif memberi. Cinta,
menurut Fromm, merupakan ekspresi produktif dari eksistensi manusia yang
melibatkan perhatian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Dalam
konteks puisi Yusuf Achmad, pandangan ini diwujudkan melalui baris: “In every
breath, in every fleeting second, / This love will not fade, always
ardent.” Di sini, cinta tampil sebagai kekuatan yang hidup dalam setiap
denyut waktu, menunjukkan keberlangsungan eksistensial yang ditopang oleh
komitmen memberi tanpa henti. Cinta harus terus-menerus yang memberi
hidup kepada yang dicintai.
Carl Rogers, dalam On Becoming a
Person (1961), melihat cinta sebagai penerimaan tanpa syarat (unconditional
positive regard). Bagi Rogers, cinta sejati tidak mengandalkan syarat-syarat
eksternal atau atribut tertentu, melainkan lahir dari kemampuan untuk menerima
seseorang sebagaimana adanya. Puisi Yusuf Achmad mencerminkan semangat ini
melalui afirmasi terhadap eksistensi: cinta hadir sebagai energi batin yang
tidak tergantung pada sebab luar, melainkan sebagai bentuk kehadiran total:
“This love will not fade, always ardent.” Cinta di sini mengungkapkan
keutuhan relasi yang tidak menuntut perubahan, justru menghidupi yang ada
secara penuh.
Pembeda Agape dan Eros
Anders Nygren, dalam karya teologis klasiknya Agape
and Eros (Agape och Eros, 1930–1936; edisi Inggris diterbitkan
oleh Westminster Press, Philadelphia, 1953), membedakan secara tajam antara cinta eros dan agape.
Menurutnya, agape adalah cinta yang bersifat sepenuhnya ilahi,
bebas dari hasrat kepemilikan, dan tidak ditentukan oleh nilai atau kelayakan
objeknya. Agape tidak mencintai karena objeknya “patut
dicintai”, tetapi karena ia adalah cinta itu sendiri, sebuah
tindakan pemberian total dari sumber yang tak terbatas. Dalam konteks puisi
Yusuf Achmad, baris “I want my love to always be alive, unending” menggemakan
karakteristik agape: cinta yang memberi tanpa syarat, yang hidup
bukan karena respons eksternal, melainkan karena ia bersumber dari dirinya
sendiri. Inilah cinta yang esensial, yang mengasihi bukan untuk memperoleh,
tetapi untuk menghidupkan.
Josef Pieper, dalam bukunya Faith, Hope,
Love (San Francisco: Ignatius Press, 1997; aslinya Glaube,
Hoffnung, Liebe, 1971), menyatakan bahwa cinta sejati adalah tindakan being-with, keberadaan
bersama orang lain dalam niat baik dan pengakuan akan martabatnya. Cinta
menurut Pieper adalah bentuk partisipasi dalam kebaikan, bukan dominasi atau
kepemilikan. Baris puisi “Adorning the soul with love infinite” mencerminkan
gagasan ini: cinta bukan perasaan, tetapi daya spiritual yang
memperindah, menyembuhkan, dan menyatukan. Maka, baik dalam visi agape Nygren
maupun dalam caritas Pieper, cinta dalam puisi The
Cell of Love That Brings Life menjadi tindakan eksistensial yang
meneguhkan, menyembuhkan, dan menghadirkan keindahan yang melampaui syarat dan
balasan. Cinta semacam ini adalah cinta yang membentuk dunia insani yang baru,
lembut, terbuka, dan membebaskan.
Kesimpulan
Puisi “The Cell of Love That Brings Life” karya
Yusuf Achmad menghadirkan cinta sebagai inti eksistensi manusia, dengan
metafora biologis sel yang terus membelah dan memberi kehidupan. Dalam kerangka
pemikiran Martin Buber (I and Thou, 1937), puisi ini mencerminkan relasi
“Aku-Kau” yang otentik, di mana cinta menjadi perjumpaan dua subjek yang saling
hadir tanpa objektifikasi. Gabriel Marcel (Homo Viator, 1960)
menambahkan bahwa cinta adalah respons terhadap appel atau
seruan eksistensial dari sesama—suatu keterlibatan afektif dan ontologis.
Konsep ini diperkuat oleh Emmanuel Levinas (Totality and Infinity,
1961), yang melihat cinta sebagai tanggung jawab tak bersyarat kepada “wajah
yang lain”. Paul Ricoeur (Oneself as Another, 1992) menunjukkan bahwa
cinta membentuk identitas melalui narasi hidup yang relasional. Dalam puisi,
cinta sebagai struktur yang membentuk diri dalam relasi yang hidup.
Lebih jauh, Maurice Nédoncelle (La Réalité de la
Personne, 1943) melihat cinta sebagai affirmatio dan promotio, meneguhkan
dan memajukan eksistensi orang lain, sejalan dengan Thomas Aquinas dalam Summa
Theologiae (1265–1274) yang memaknai cinta sebagai velle
alicui bonum, kehendak untuk menginginkan kebaikan bagi sesama. Santo
Agustinus (Confessiones, abad ke-4) menyebut cinta sebagai tenaga rohani
yang menggerakkan jiwa, seperti dalam pernyataannya “pondus meum amor meus.”
Pandangan ini berkembang ke arah cinta sebagai dasar komunitas, sebagaimana
dikemukakan Jean Vanier (Becoming Human, 1998), Carl Rogers (On
Becoming a Person, 1961), dan Erich Fromm (The Art of Loving, 1956),
yang menekankan cinta sebagai penerimaan tanpa syarat. Konsep agape menurut
Anders Nygren (Agape and Eros, 1953) dan Josef Pieper (Faith, Hope,
Love, 1997) memperlihatkan bahwa cinta adalah pemberian murni dari sumber
ilahi yang tidak tergantung pada balasan. Dengan merangkul semua pemikiran ini,
puisi Yusuf Achmad menjadi dokumen filosofis yang hidup, sebuah refleksi
eksistensial dan spiritual tentang cinta yang menyembuhkan, menyatukan, dan
memanusiakan.
Referensi
1. Achmad, Yusuf. Delula Jaya. Delima, 2025.
2. Buber, Martin. I and Thou. New York:
Charles Scribner’s Sons, 1937.
3. Marcel, Gabriel. Homo Viator: Introduction
to a Metaphysic of Hope. London: Harper & Brothers, 1960.
4. Levinas, Emmanuel. Totality and Infinity:
An Essay on Exteriority. Pittsburgh: Duquesne University Press, 1961.
5. Ricoeur, Paul. Oneself as Another.
Chicago: University of Chicago Press, 1992.
6. Nédoncelle, Maurice. La Réalité de la
Personne. Paris: Aubier, 1943.
7. Thomas Aquinas. Summa Theologiae. Roma:
Typis Polyglottis Vaticanis, 1265–1274.
8. Agustinus, Aurelius. Confessiones. (ca.
397–400).
9. Vanier, Jean. Becoming Human. Toronto:
House of Anansi, 1998.
10. Rogers, Carl. On Becoming a Person: A
Therapist’s View of Psychotherapy. Boston: Houghton Mifflin, 1961.
11. Fromm, Erich. The Art of Loving. New
York: Harper & Row, 1956.
12. Nygren, Anders. Agape and Eros.
Philadelphia: Westminster Press, 1953.
13. Pieper, Josef. Faith, Hope, Love. San
Francisco: Ignatius Press, 1997.
*(Paulus Laratmase adalah Pimpinan Umum Media Suara
Anak Negeri News.Com
Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

Komentar
Posting Komentar