Puisi saya "Kata Logika dan Luka" ini merupakan rangkaian puisi terakhir dari puisi-puisi bertema"Kata." Puisi-puisi ini lahir dari ruang sunyi yang sering terasa bising. Kata-kata itu saya rawat seperti anak-anak kecil yang belajar berjalan—tertatih, jatuh, lalu bangkit lagi. Ada luka yang saya biarkan berbicara, ada doa yang saya biarkan bergetar, ada tanya yang saya biarkan menggantung.

Gambar:AI-Copilot

Lalu, mengapa kita sibuk bertanya?
Apakah setiap tanya harus punya jawabnya?
Apakah semua tunduk pada logika?
Apakah “apa” lebih rendah dari “siapa”?
Atau “di mana” kebenaran sesungguhnya?

“Mengapa” sering dianggap paling bijak,
namun “bagaimana” justru menuntun langkah.
Seperti anak kecil yang polos bertanya:
“Kenapa disuntik di pantat,
padahal sakitnya di kepala?”

Logika pun tersenyum getir,
tak selalu mampu menampung rasa.

Surabaya, Desember 2025

Pada puisi-puisi saya itu termasuk puisi terakhir ini. Di dalamnya  terdapat luka yang saya biarkan berbicara, ada doa yang saya biarkan bergetar, ada tanya yang saya biarkan menggantung.

Untuk tulisan lain silahkan buka:

https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com                        
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif