Putri Tentara (Lanjutan)
Di ruang ICU
Namun kini Anisa dihadapkan pada masalah yang lebih berat. Kondisi ayahnya, sang purnawirawan tentara, semakin parah. Anisa, didampingi ibunya dan Anas, menunggu di ruang ICU, berharap akan keajaiban. Mereka berusaha tegar, menunggu kabar dari tim dokter.
Aku mengucapkan kata-kata yang kini terasa seperti doa, “Odik ruwah tak mesteh, odik susah, mateh susah, kadang e bebeh, kadang e atas,” dengan nada hampir sakral. Anisa menatapku, mencari makna di balik kata-kata itu. “Ibu, apa yang Anas coba sampaikan dengan bahasa Madura itu?” tanya Anisa, suaranya penuh keingintahuan. Ibu Anisa hanya tersenyum lembut, mencoba memahami maksud Anas.
Anas, dengan senyum penuh empati, mendekati dokter yang memimpin tim medis. Dari kejauhan, Anisa melihat dokter itu menggelengkan kepala dan menunjuk ke langit. Setelah berbicara dengan dokter, Anas kembali ke sisi Anisa dan ibunya. “Hidup itu tidak menentu; hidup susah, mati susah, kadang di bawah kadang di atas, dan kita harus berusaha dan pasrah,” kata Anas, menyampaikan pesan yang telah ia ulang-ulang.
Ibu Anisa menatapnya, “Benar, Anas. Andai saja Anisa mau berusaha, mungkin sekarang aku sudah punya cucu darinya.” Anisa, yang merasa terpojok oleh kata-kata ibunya, mencoba mengalihkan pembicaraan. “Ibu, seharusnya kita fokus pada ayah, bukan hal lain.” “Ibu hanya ingin melihatmu bahagia, anakku. Ayahmu juga pasti memikirkan hal yang sama,” jawab ibunya lembut.
Ketua tim dokter mendekat, dan Anas segera bertanya tentang kondisi ayah Anisa. Dokter itu memberi jawaban penuh metafora, “Ada dua jenis obat: satu yang menghilangkan sakit dengan kesembuhan, dan satu lagi dengan kematian. Kami sudah…”
“Innalillahi wainna illaihi rojiun,” ibu Anisa dan Anas berseru bersama, menerima kabar duka dengan hati berat.
Aku terpukul oleh realitas pahit dan berlari ke ruang ICU. Di sana ayahku terbaring diam, dikelilingi dokter-dokter yang telah melepaskan alat medis dari tubuhnya. Aku menangis tersedu-sedu, meratapi kepergian ayahku.
Ibu mengangkat dan memeluk Anisa dengan lembut, “Ini bukan akhir, anakku. Ayahmu telah bebas dari penderitaannya. Ingatlah pesan ayahmu: kita harus kuat, seperti satria.”
Anas, terpaku menyaksikan kejadian itu, mulai melantunkan dzikir yang telah menjadi mantra keluarga, “Odik ruwah tak mesteh, odik susah, mateh susah, kadang e bebeh, kadang e atas, se bender usaha ben pasrah.” Dzikir itu mengiringi jenazah ayah Anisa ke peristirahatan terakhir, menjadi pengingat akan siklus hidup yang tak terelakkan.
Mantra Madura yang dulu hanya terasa seperti kata-kata kini menjadi warisan: pengingat bahwa usaha dan pasrah adalah jalan hidup.
Untuk tulisan lain silahkan buka dan baca:
di Wattpad: 🔗 Putri Tentara di Wattpad
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

Komentar
Posting Komentar