Putri Tentara

Kisah Keteguhan di Tengah Konflik



Anisa membuka buku kenangan masa SMA, halaman demi halaman dipenuhi dengan foto dan tulisan tangan teman-temannya. Matanya tertahan pada kata-kata dari Anas, kawan lamanya dari Madura yang kini menjadi rekan kerja sekaligus teman dekat. Tulisannya berbunyi: Odik ruwah tak mesteh, Odik susah mateh susah, Kadang e bebeh, kadang e atas, Se bender usaha ben pasrah. Entah mantra, entah puisi, kata-kata itu berdansa dalam benak Anisa, gadis yang telah melewati masa belia namun tetap mempesona. Kegelisahan merayapinya, di tengah desakan orang tuanya untuk segera menikah. Adik-adiknya telah berumah tangga, memberikan keponakan yang menggemaskan, sementara ia masih sendiri.

Kata-kata Anas terlupa sejenak saat Anisa bergabung dengan orang tuanya yang sedang berbincang di beranda rumah mewah mereka di Surabaya. Ayahnya, seorang purnawirawan tentara yang kini renta, masih menjadi kebanggaannya. Cerita-cerita masa muda ayahnya sering menjadi topik hangat antara Anisa dan ayahnya, tak pernah membosankan meski sering terulang.

“Ayahku adalah tipe laki-laki yang hebat,” ujar Anisa kepada Anas, suaranya penuh kekaguman. Di balik kekanak-kanakannya, ia mewarisi ketegasan ayahnya. Sikap dominannya sering terlihat, baik dalam berbicara maupun dalam memegang prinsip.

Namun, di kantor, pandangan miring sering terlontar dari bawahannya. “Lihat, Bu Anisa sedang menuju ruangan Pak Mulyono,” bisik Rahmi kepada Andita. Mereka memperhatikan Anisa yang berjalan dengan langkah tegas. “Ada apa lagi ya? Sepertinya ada yang penting,” lanjut Rahmi. Isu persaingan antara Mulyono dan Anisa menjadi bahan pembicaraan yang tak pernah padam, terutama setelah insiden pemecatan Pak Jayan karena kehilangan kabel yang mahal.

Kini, isu tersebut semakin memanas dengan Anisa yang sering terlihat mondar-mandir ke ruangan Mulyono. Desas-desus menyebutkan bahwa Mulyono mungkin terlibat dalam kasus yang sama yang menyebabkan Pak Jayan dipecat. Karyawan berbisik, bertanya-tanya apakah sejarah akan terulang kembali.

Anas bisa melihat ada yang berbeda dengan Anisa hari itu. Wajahnya yang biasanya bersinar dengan semangat, kini terlihat muram. Senyum yang ia paksa terlihat di bibirnya tidak memiliki keceriaan yang sama seperti dulu.

“Kamu baru saja dipanggil bos, ya?” tanya Anas, rasa ingin tahunya terpicu oleh perubahan pada Anisa. “Hanya beberapa laporan yang bos ragukan,” jawab Anisa, mencoba menyembunyikan kegelisahannya. Namun Anas, yang mengenalnya dengan baik, tahu bahwa ada masalah serius yang sedang dihadapi Anisa.

Anas mencoba meringankan suasana. “Bos besar marah, ya? Jangan pikirkan terlalu dalam,” ujarnya dengan logat Madura yang kental, sebelum Anisa sempat menjawab. Anisa hanya bisa tersenyum pahit. “Kamu ini, Nas,” katanya, sambil berusaha keras untuk tidak menunjukkan kekacauan di dalam hatinya.

Anas mengulangi kata-kata bijak yang sering ia katakan, “Odik susah, mateh susah, kadang e bebeh, kadang e atas,” sambil membiarkan Anisa melanjutkan langkahnya. “Eh, Nas, apa maksudmu dengan itu? Itu kan bahasa Madura, apa artinya?” tanya Anisa, yang sering mendengar Anas mengucapkan kata-kata tersebut. “Hidup susah, mati susah, kadang di bawah kadang di atas,” jelas Anas.

Pemahaman baru tentang kata-kata itu tidak cukup untuk menenangkan Anisa. Sebagai anak seorang tentara, ia tidak mau menyerah begitu saja. Kisah dan keteladanan ayahnya menjadi motivasi bagi Anisa untuk tetap kuat dan bersemangat dalam menghadapi rintangan. Ia tetap serius menangani masalah yang dihadapinya, meski itu membuatnya sulit tidur. Malam itu, langit tidak terlalu cerah. Hanya beberapa bintang yang berkelip, dan bulan hanya menampakkan sebagian wajahnya. Dalam mimpi, Anisa melihat seorang perempuan yang menari gembira dengan bayi di tangannya, mendekati orang tua yang tampak bahagia.

Tiba-tiba, suara adzan subuh membangunkan Anisa dari mimpinya. “Ya Allah, andai mimpi itu menjadi nyata,” doa Anisa setelah sholat subuh, sebelum ia kembali ke pekerjaannya. Dengan tekad yang kuat, Anisa berhasil membuktikan bahwa tuduhan terhadap Mulyono tidak benar. Pak Jayan telah memalsukan tanda tangan Mulyono dan merekayasa bukti. Prestasi Anisa di perusahaan telekomunikasi besar di Surabaya ini tidak hanya sekali ini saja. Namun, ujian yang lebih berat sudah menanti Anisa… Bersambung

Untuk tulisan lain silahkan buka dan baca:

di Wattpad: 🔗 Putri Tentara di Wattpad

https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en 
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211

Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif