Langit yang Tak Dijual

 Menjadi Guru, Menjaga Arah

Copilot-AI


Safari abu-abu bertengger di pundakku—
seperti awan yang menahan hujan,
menyimpan rahasia sebelum jatuh ke bumi.

Tetangga menyapaku dengan senyum resmi:
“Sudah jadi pejabat,” katanya.
Aku tersenyum, menjawab lirih:
aku guru.
Ia pun berlalu,
seperti angin yang hanya singgah di tepi daun.

Di kelas, aku mengenali diriku:
penanam langit
di kepala anak-anak.

Dulu, kata jangan adalah pagar cahaya—
lentera yang menuntun langkah
di lorong sunyi.
Langit itu luas,
membuka arah,
mengajarkan diam sebelum kata.

Kini, langit direbut layar:
jawaban datang tergesa,
tanpa kedalaman.
Murid-murid hafal pasal,
namun lupa rasa.
Mereka bicara kebebasan
tanpa mendengar angin
yang mengibarkan bendera.

Ilmu bukan sekadar data,
melainkan cahaya yang tumbuh dari hati.
Jika tak dijaga,
ia hanya kilatan tanpa arah.

Puisiku dulu bertanya:
“Kenapa memilih papan tulis,
bukan panggung kuasa?”
Kini aku mengerti:
langit tak dijual.

Benih itu ditanam nenekku
di uap nasi hangat,
di tahu karam dalam ayat suci.

Maka aku tetap di sini:
menjaga langit yang nyaris pudar,
agar anak-anak tumbuh
dengan arah dan cahaya.

Safari abu-abu
dan suara puisiku yang dulu bertanya—
kini larut dalam satu biru.

Menjadi guru:
langit yang tetap biru,
meski jarang dipandang.
Tanpa biru itu,
mata mereka kehilangan arah.

Dan aku tetap di sini:
menjadi langit yang tak selalu terlihat,
namun senantiasa ada.

Surabaya, 2 November 2025

Untuk tulisan lain silahkan buka:

https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write 
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en 

https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211

Suaraanaknegerinews.com                        
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif