Ketika Pujian Menjadi Racun Jiwa

 Manis yang Memabukkan

Sumber Gambar:AI-Copilot


Ketika sanjung beradu dengan pujian,
Kata-kata mengalir laksana sungai madu—
Manis, mengikat, kadang membius,
Mengangkat jiwa ke langit tinggi,
Seperti mentari tak pernah padam,
Atau elang menari di puncak angin liar.

Namun ingatlah pesan Umar bin Khattab,
Pujian bisa jadi bara bagi jiwa,
Mengelabuhi hati yang seharusnya berserah.
Kadang ia cambuk, menusuk relung asa,
Kadang ia bunga, mewarnai hidup yang redup,
Namun sering ia menjelma racun,
Melemahkan semangat, meruntuhkan harapan.

Bila bertemu sosok yang diagungkan,
Rupanya serupa permata memikat mata.
Namun kala kenyataan terkuak,
Seperti luka yang terbuka,
Menguar bau getir, meluluhlantakkan anggapan.

Duhai para pemilik kebijaksanaan,
Nasihatmu kunanti dengan rendah hati.
Bukan sekadar kecaman atau hinaan,
Namun kata-kata yang menawar luka,
Yang mampu meruntuhkan sombong dan lupa.

Duhai jiwa yang membeku dalam sepi,
Kau hanya bayang hampa,
Getir yang menyesakkan,
Bagaikan malam tanpa bintang—
Gelap, tanpa arah, tanpa harapan.

Ketenangan sejati tak terbeli sanjung,
Tak terbujuk oleh pujian fana.
Ia lahir dari kedalaman jiwa,
Tetap teguh menghadapi badai,
Bagai air di kolam surga—jernih, tenang, abadi.

Petuah para bijak adalah lentera malam,
Menuntun jalan yang terjerat ego dan kelam.
Mereka mengingatkan akan fana dunia,
Dan betapa kecilnya kita,
Di hadapan Sang Maha Kuasa.

Surabaya, 11 Desember 2025

Untuk tulisan lain silahkan buka:

https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write 
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en 

https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211

Suaraanaknegerinews.com                        
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif