Postingan
Menampilkan postingan dari November, 2025
Mengukir Nasionalisme di Era Algoritma: Sebuah Kajian Stilistika
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Mengukir Nasionalisme di Era Algoritma Kajian Stilistika atas Puisi Denny JA dan Refleksi Generasi Z Surabaya di Tengah Arus Digital Di tengah derasnya arus digital dan algoritma yang mengatur hampir seluruh aspek kehidupan, nasionalisme sering dipertanyakan relevansinya. Apakah generasi muda masih memiliki ikatan emosional dengan tanah air ketika dunia seakan tanpa batas? Artikel ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut melalui kajian stilistika atas puisi “Nasionalisme di Era Algoritma” karya Denny JA , sekaligus menyingkap bagaimana generasi Z di Surabaya memaknai nasionalisme di era digital. Sumber foto: AI-Copilot Tulisan ini berangkat dari riset sederhana yang dilakukan Yusuf, seorang pendidik sekaligus pecinta sastra di Surabaya. Ia menyebarkan kuesioner kepada 362 siswa dari empat SMK swasta: SMK Saintren , PGRI 13, Mahardika, dan IPIEMS. Hasilnya menunjukkan bahwa meski hidup di tengah gempuran teknologi, generasi muda tetap menaruh rasa cinta pada tanah air. Mereka m...
Langit yang Tak Dijual: Puisi Refleksi Guru di Era Digital
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Menjadi Guru, Menjaga Langit yang Tak Pernah Dijual Puisi reflektif dari Surabaya tentang dedikasi guru, makna ilmu, dan tantangan era digital Puisi “ Langit yang Tak Dijual ” lahir dari ruang batin seorang guru yang menolak menjadikan ilmu sebagai komoditas . Dalam bait-baitnya, tersimpan refleksi tentang profesi pendidik yang sering dipandang sebelah mata, namun sesungguhnya menjadi penjaga cahaya dan arah bagi generasi muda. https://www.youtube.com/watch?v=To8-EmfgOm8 Langit yang Tak Dijual Safari abu-abu menggantung di pundakku— seperti awan yang enggan jatuh sebelum hujan. Tetangga menyapaku dengan senyum protokol: “Sudah jadi pejabat,” katanya. Aku hanya menjawab: aku guru. Ia pun berlalu, seperti angin yang tak sempat menyapa daun . Di kelas, aku tahu siapa aku: penanam langit di kepala anak-anak. Dulu, kata “jangan” adalah pagar cahaya— petuah lentera di lorong sunyi. Langit itu luas, membuka arah, mengajarkan diam sebelum bicara. Kini, langit ...
The Cell of Love That Brings Life: A Poetic Reflection on Enduring Affection
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
This poem, The Cell of Love That Brings Life , is a contemplative journey into the essence of love as a living force. Using the metaphor of a cell—round, unbounded, and endlessly dividing— Yusufachmad Bilintenion portrays love not as fleeting emotion but as a regenerative energy that sustains, heals, and unites. Each stanza unfolds as a meditation on resilience, unity , and the infinite vitality of affection , bridging the biological image of life with the spiritual depth of human connection . Source: AI-Copilot 7. The Cell of Love That Brings Life I am like a cell, round and unbounded, An entity in the dark, free and ungrounded. Filled with resolve that will never fade, Not hollow, but solid, with meaning conveyed. I see this resolve leap and rise, Round, untainted, a form precise. Free of partitions, fresh and thriving, Unmoved by cold cells, waves, or winds driving,...
KETIKA PEMIMPIN TAK LAGI MENANGIS
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Ketika Pemimpin Tak Lagi Menangis: Mungkinkah AI Menggantikan Pemimpin Manusia? Esai Populer oleh Yusufachmad Bilintention Dunia sedang bergerak cepat menuju era algoritma. Di tengah riuh teknologi, muncul pertanyaan yang mengguncang: apakah kecerdasan buatan mampu menggantikan pemimpin manusia? Esai ini lahir dari kegelisahan seorang pendidik dan pemuisi, yang percaya bahwa kepemimpinan bukan sekadar kalkulasi, melainkan keberanian untuk salah, untuk menangis, dan untuk hadir dengan hati. Sumber gambar AI-Copilot “Diella tak bisa disuap. Tapi bisakah ia menangis?” Kalimat itu menghentak saya saat membaca puisi esai Denny JA Dan Artificial Intelligence Pun Diangkat Menjadi Menteri . Diella, sosok AI yang diangkat menjadi menteri Albania, tampil sebagai simbol revolusi politik: bersih, efisien, tak kenal lelah, dan tak terikat geng. Ia hadir bukan karena AI lebih mulia, melainkan karena manusia terlalu sering gagal menjaga amanah. Namun, di balik keunggulan teknis itu, muncul ke...
Catatan Estetik ke Enam: Sastra, Kota, dan Kisah Siti Nurbaya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Lapisan Estetika Puisi dan Pesona Kota Padang Dialog Sastra bersama Dafril Tuanku Bandaro Mengurai Unsur Efonis, Stilistis, dan Tematis Dalam perjalanan literasi, setiap pertemuan menghadirkan ruang dialog yang memperkaya. Catatan Estetik bagian keenam ini merekam obrolan hangat bersama akademisi Dafril Tuanku Bandaro tentang lapisan estetika puisi, dari bunyi hingga tema. Diskusi yang penuh semangat ini kemudian berlanjut ke pengalaman menyusuri Kota Padang , kota yang tertib dan bersih, serta kisah legendaris Siti Nurbaya yang masih hidup dalam ingatan masyarakat. Catatan Estetik (bagian keenam) Oleh Anto narasoma SEBAGAI akademisi, Dafril Tuanku Bandaro tampak senang berbincang dengan kami. Terutama berbincang tentang sastra. ------- Entah apa yang Dafril perbincangkan dengan Mas Paulus Laratmase dan Yusuf Achmad . Sebab dari sikap dan gaya bicaranya, ia tampak senang sekali. Seperti kata pepatah, panci bertemu tutupnya. Pas banget ! ...
Catatan ke 5 Estetik: Puisi, Bahasa, dan Perjumpaan di Warung Kopi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Puisi, Persahabatan, dan Literasi Anak Negeri Refleksi perjalanan, diskusi sastra, dan secangkir kopi yang membuka ruang makna tentang diksi, irama, dan literasi. Puisi bukan sekadar rangkaian kata, melainkan corak estetik yang lahir dari perjalanan, percakapan, dan perjumpaan. Dari hotel hingga warung kopi , diskusi tentang diksi , irama , dan makna membuka ruang refleksi tentang sastra dan bahasa. Catatan Estetik-(bagian kelima) Oleh; Anto Narasoma BENTUK dan corak puisi yang dijelaskan dalam perjalanan ke hotel tempat inapan saya dan Mas Yusuf Ahmad , benar-benar memberikan asupan pengetahuan tentang sastra. ----------- Dalam pertanyaan Mas Paulus Laratmase tentang metode puisi yang saya sampaikan, saya jawab bahwa komposisi puisi itu dapat dibedakan dalam lima komponen penting. Dalam lima komponen itu terdapat diction (diksi); imagery ; the concrete word ; figuratif lenguage; dan rhythm and rime. "Kelima komponen itulah yang menja...
Catatan Estetik ke 4: Jejak Perjalanan dan Puisi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Menunggu Jemputan, Menemukan Rasa Dari Sleeper Bus ke Diskusi Puisi: Sebuah Catatan Perjalanan di Padang oleh: Anto Narasoma Perjalanan panjang menuju Padang bukan sekadar kisah fisik yang melelahkan, melainkan juga pertemuan dengan wajah-wajah kehidupan yang sederhana namun penuh makna. Dari bangku terminal hingga mobil jemputan, setiap interaksi membuka ruang refleksi: tentang kesabaran, tentang berbagi, dan tentang hakikat puisi yang menjadi jembatan rasa antar manusia. Bagian keempat ini menyingkap lapisan pengalaman yang menghubungkan perjalanan nyata dengan perenungan estetik. DUDUK dan tidur selama 18 jam di atas sleeper bus terasa melelahkan juga. Hanya kakiku yang terasa pegal. Sedangkan fisikku tetap seperti biasa. ------------ Tiba di fullbus Yoanda Prima di Jalan By Pass Padang, saya terasa seperti orang asing. Meski saya sangat paham dengan bahasa Minang , tapi kehadiranku sebagai orang dari luar Sumatera Barat membuat saya benar-benar asing. ...
Catatan Estetik: Perjalanan Sastra ke Padang Bagian Ketiga – Anto Narasoma Menyusuri Tekad dan Tradisi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Refleksi batin seorang penyair dan jurnalis senior menjelang peluncuran buku puisi Yusuf Achmad dan Leni Marlina di Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat. Dalam bagian ketiga catatan estetiknya, Anto Narasoma — penyair Palembang dan jurnalis senior—mengisahkan perjalanan batin dan fisik menuju acara peluncuran buku puisi di Universitas Negeri Padang . Di tengah keterbatasan finansial dan tradisi keluarga menjelang Idul Adha , ia tetap memilih berangkat, didorong oleh tekad sastra dan keyakinan akan solidaritas sahabat. Catatan ini menjadi potret kejujuran seorang sastrawan yang menempatkan karya dan komunitas di atas kenyamanan pribadi. CATATAN ESTETIK (bagian ketiga) Oleh Anto Narasoma TERUS terang saja, dalam tempo dua hari menjelang acara peluncuran buku antologi puisi penyair Yusuf Ahmad dan Leni Marlina di Universitas Negeri Padang (UNP) aku begitu cemas dan gelisah. -------- Kok begitu? Iya. Meskipun saudaraku Paulus Laratm...