Mengukir Nasionalisme di Era Algoritma: Sebuah Kajian Stilistika
Mengukir Nasionalisme di Era Algoritma
Kajian Stilistika atas Puisi Denny JA dan Refleksi Generasi Z Surabaya di Tengah Arus Digital
Di tengah
derasnya arus digital dan algoritma yang mengatur hampir seluruh aspek
kehidupan, nasionalisme sering dipertanyakan relevansinya. Apakah generasi muda
masih memiliki ikatan emosional dengan tanah air ketika dunia seakan tanpa
batas? Artikel ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut melalui kajian
stilistika atas puisi “Nasionalisme di Era Algoritma” karya Denny JA,
sekaligus menyingkap bagaimana generasi Z di Surabaya memaknai nasionalisme di
era digital.
Tulisan
ini berangkat dari riset sederhana yang dilakukan Yusuf, seorang pendidik
sekaligus pecinta sastra di Surabaya. Ia menyebarkan kuesioner kepada 362 siswa
dari empat SMK swasta: SMK Saintren, PGRI 13, Mahardika, dan IPIEMS. Hasilnya
menunjukkan bahwa meski hidup di tengah gempuran teknologi, generasi muda tetap
menaruh rasa cinta pada tanah air. Mereka mengekspresikan nasionalisme dengan
cara menghargai budaya Indonesia, menggunakan produk lokal, dan menjaga
identitas di ruang digital.
Temuan
ini sejalan dengan penelitian Julia Bea Kurniawaty dalam jurnal Nasionalisme
di Era Digital: Tantangan dan Peluang bagi Generasi Z Indonesia. Generasi Z
memang menghadapi tantangan globalisasi yang dapat mengikis identitas nasional,
namun mereka juga menunjukkan kemampuan adaptasi dan relevansi dalam
mempertahankan nasionalisme.
Kajian
stilistika atas puisi Denny JA memperkuat refleksi tersebut. Kata-kata seperti “tanah
air” (muncul 7 kali), “algoritma” (4 kali), dan “bahasa” (4
kali) menjadi pusat makna. “Tanah air” menegaskan keterikatan emosional,
sementara “algoritma” dan “bahasa” menunjukkan bagaimana teknologi dan
komunikasi membentuk wajah baru nasionalisme. Simbolisme yang digunakan
penyair—seperti “pixel dan kode” yang mewakili era digital, serta “akar” yang
melambangkan identitas bangsa—menciptakan kontras antara modernitas dan
tradisi.
Puisi ini
berhasil menggabungkan elemen futuristik dengan nostalgia sejarah, menegaskan
bahwa meskipun batas geografis larut dalam sinyal digital, cinta tanah air
tetap menjadi fondasi yang tak tergantikan.
Kajian
ini menunjukkan bahwa nasionalisme di era algoritma bukanlah sesuatu yang
usang, melainkan terus berevolusi. Generasi muda mampu memadukan teknologi
dengan identitas kebangsaan, menjadikan nasionalisme relevan di tengah
perubahan zaman. Melalui puisi, riset, dan refleksi, kita belajar bahwa cinta
tanah air tidak pernah lekang oleh waktu—ia hanya berganti wajah sesuai dengan
tantangan zaman.
Untuk tulisan lain
silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

Komentar
Posting Komentar