Catatan Estetik
(bagian keenam)
Oleh Anto narasoma
SEBAGAI
akademisi, Dafril Tuanku Bandaro tampak senang berbincang dengan kami. Terutama berbincang tentang sastra.
-------
Entah apa yang
Dafril perbincangkan dengan Mas Paulus Laratmase dan Yusuf Achmad. Sebab dari sikap
dan gaya bicaranya, ia tampak senang sekali. Seperti kata pepatah, panci
bertemu tutupnya. Pas banget !
Dalam
perbincangan sebelumnya, tak ragu-ragu Dafril bertanya tentang proses penulisan
puisi serta unsur apa saja yang melungkupi keindahan bahasa puisi.
Saya tersenyum.
Dengan senang hati saya menjelaskan segala unsur yang ada di dalam lapisan
kalimat puisi. Saya yakin, pengetahuan ini akan ia sampaikan ke mahasiswanya
nanti. Tak apa, untuk pengembangan sastra Indonesia, saya akan melengkapi ilmu
pengetahuannya.
Dalam teori
dikotomi, dapat dipandang dari dua sisi. Dua pandangan itu antara lain, sudut
bentuk dan isi. "Karya sastra itu merupakan bentuk dalam struktur
norma," jelas saya.
Unsur norma
tersebut, terdiri dari berbagai unsur dari lapis-lapis norma. Artinya, lapis
norma yang berada di atasnya menyebabkan timbulnya lapisan norma di bawahnya.
Lapisan norma
paling permulaan adalah lapis bunyi, yang menimbulkan lapis kedua yaitu lapis
arti. Sebab setiap kata mempunyai artinya sendiri.
"Jika
kata-kata tunggal itu bergabung dalam konteksnya, maka timbullah frase-frase
yang melahirkan pola kalimat," ujar saya.
Dari satuan
sintaksis, akan muncul lapis ketiga, yakni obyek intensi yang akan dikemukakan
kepada pembaca.
Menurut Drs BP
Situmorang, cipta sastra itu dapat dialisis melalui unsur efonis, stilistis,
dan tematis. Apa uraian dari ketiganya?
Dalam setiap
menciptakan sastra (puisi), penyair berusaha memahami dan menjelaskan lapisan
bunyi. "Ini yang kita sebut sebagai unsur afonis," kata saya
menguraikan unsur estetik di dalam cipta karya sastra.
Melalui
analisis ini (efonis), didapati kenyataan bahwa lapis bunyi dikembangkan dalam
unsur puisi yang sangat berbeda dalam unsur prosa.
Sedangkan
stilistis, merupakan upaya untuk memahami lapis arti dengan gaya (corak puisi)
yang timbul dari gejala ungkapan.
Ternyata, dari
segala unsur yang dikembangkan, unsur ketatabahasaan memegang peranan penting
dalam memunculkan gaya (corak) pribadi masing-masing penyair.
Sedangkan dari
unsur tematik, merupakan analisis yang dilakukan untuk memahami dengan cara
menjelaskan lapisan tema, sehingga muncul warna pribadi setiap penyair.
"Oh,
begitu ya Bang. Karena itu saya jadi mengerti bagaimana upaya seorang penyair
untuk menciptakan puisinya," tulas Dafril.
Saya
menganggukkan kepala. Terutama melihat keseriusan Dafril untuk memahami sastra,
terutama cara untuk menciptakan puisi yang menarik.
Setelah kami
selesai ngopi dan mengobrol banyak tentang sastra di warung tersebut, kami pun
pamit untuk istirahat di penginapan.
Karena hari Sabtu, 30 Mei 2025 acara belum dimulai. Berarti hari ini kami diajak
Jaka untuk berkeliling Kota Padang. Wuih, senang sekali !
Apalagi baru
kali pertama saya dan kawan-kawan hadir di Kota Rendang ini. Maka, ketika Jaka
menjalankan kendaraan yang kami
tumpangi dengan kecepatan sedang,
suasana Kota Padang begitu menyejukkan.
Apalagi gedung
perkantoran, tempat usaha, dan rumah-rumah penduduk berjajar rapi. Memang, kota
Padang dikenal sangat bersih dan tertib.
"Meski tak
ada gedung yang menjulang tinggi, tapi suasana kota ini sangat tertib dan
menyenangkan, Bang Anto," ujar Paulus memecah keheningan.
Suasana di
mobil pun begitu hangat. Kemudian, mata saya menyapu segenap panorama kota yang
begitu nyaman indah.
Kendaraan kami
langsung tancap gas ke kawasan lokasi Siti Nurbaya yang fenomenal. Dari
tanjakan perbukitan hingga ruang luas muara laut Siti Nurbaya.
Sebagai pemandu
sekaligus mengemudi kendaraan kami, Jaka menjelaskan tentang kisah Siti Nurbaya
yang terpaksa harus menikah dengan Datuk Maringgi. Padahal lelaki tua ini
berusia setarap ayahnya.
(bersambung)
Catatan ini bukan sekadar dokumentasi perjalanan, melainkan refleksi tentang bagaimana sastra dan ruang hidup saling berkelindan. Dari teori estetika hingga panorama Kota Padang, semuanya menyatu dalam pengalaman yang kaya makna. Kisah Siti Nurbaya menjadi pengingat bahwa sastra tak hanya lahir dari kata, tetapi juga dari sejarah, budaya, dan ruang yang melingkupinya.
Komentar
Posting Komentar