Catatan Estetik: Perjalanan Sastra ke Padang Bagian Ketiga – Anto Narasoma Menyusuri Tekad dan Tradisi

 Refleksi batin seorang penyair dan jurnalis senior menjelang peluncuran buku puisi Yusuf Achmad dan Leni Marlina di Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat.

Dalam bagian ketiga catatan estetiknya, Anto Narasomapenyair Palembang dan jurnalis senior—mengisahkan perjalanan batin dan fisik menuju acara peluncuran buku puisi di Universitas Negeri Padang. Di tengah keterbatasan finansial dan tradisi keluarga menjelang Idul Adha, ia tetap memilih berangkat, didorong oleh tekad sastra dan keyakinan akan solidaritas sahabat. Catatan ini menjadi potret kejujuran seorang sastrawan yang menempatkan karya dan komunitas di atas kenyamanan pribadi.

 

CATATAN ESTETIK

(bagian ketiga)

 Oleh Anto Narasoma

 TERUS terang saja, dalam tempo dua hari menjelang acara peluncuran buku antologi puisi penyair Yusuf Ahmad dan Leni Marlina di Universitas Negeri Padang (UNP) aku begitu cemas dan gelisah.

 --------

 Kok begitu? Iya. Meskipun saudaraku Paulus Laratmase sudah mentransfer uang ke rekeningku dengan jumlah sesuai tiket perjalanan ke Padang, namun biaya yang harus kukeluarkan akan lebih dari itu.

 Sebagai seniman sastra yang juga pensiunan dari surat kabar Sumatera Ekspres Palembang, sebelum berangkat ke Padang, saya pasti akan meninggalkan uang belanja ke istriku.

 Karena itu jumlah uang yang ada di tangan terasa begitu menggelisahkanku. Namun antara kecemasan dan tekad keberangkatan, justru lebih mengacu pada karirku sebagai sastrawan.

 Maka saya putuskan  berangkat saja ke Padang. Dalam hatiku, tak mungkin para sahabat baik di sekelilingku akan membiarkanku menderita dalam perjalanan tugas di Padang.

 Maka uang saku yang ditranslite Mas Paulus Laratmase, separuhnya kuberikan ke istriku. Apalagi dalam sepekan ke depan, kami akan menghadapi hari raya  Idhul Adha, mau tak mau uang yang saya tinggalkan ke istriku tercinta akan digunakan untuk membuat kue.

 Sebab kebiasaan di Sumatera Selatan, terutama di Kota Palembang,  tradisi saling kunjung dari  para tamu dari satu rumah ke rumah lain, berjalan sangat meriah.

 Tanggal 29 Mei 2025, saya berangkat dari rumah naik bus mewah Yoanda Prima. Full bus itu  berada 10 kilometer dari pusat kota.

 Saya melihat jam dinding. Jarum jam sudah menunjukkan ke angka 7.24 WIB. Saya harus berangkat. Saya sengaja tidak membawa tas besar untuk membawa baju gantian  dan peralatan lain bagi kepentingan sehari-hari.

 Saya meminta istriku untuk mengantar saya ke full bus Yoanda Prima. Dengan sepeda motor honda beate, dan ditemani istriku, saya melaju ke full bus yang akan ke Padang.

 Saya membawa motor itu dengan kecepatan agak tinggi, sekitar 70 kilometer per jam. Karena saya memperkirakan waktu keberangkatan bus dan kehadiranku di full Yoanda Prima.

 Setelah bertransaksi ke urusan tiket, saya disarankan untuk menunggu pemberangkatan bus, sekitar pukul 9.00 pagi.

 Karena masih ada waktu sejam lebih, saya izin untuk mencari sarapan pagi. Memang, sejak kemarin perutku belum diisi. Bagi saya pribadi, apabila ada tugas yang membebani pikiran, saya tak ada selera makan.

 "Yuk kita mencari tempat minum kopi dan sarapan pagi, istriku," ujar saya langsung tancap gas.

                     ****

 Setelah para penumpang memenuhi tempat duduk,  saya juga naik ke bus. Tapi tas yang saya bawa tidak saya masukkan ke ruang bawah karena bisa saya kepit sendiri.

 Jujur saya katakan, naik bus sekelas Yoanda Prima baru kali pertama saya lakukan. Selama ini, ketika ditugaskan manajemen surat kabar Sumatera Ekspres ke Padang Panjang dan Bukit Tinggi, saya selalu naik pesawat dari Palembang ke Jakarta, lalu langsung terbang ke Padang.

 Duduk di dalam bus ber-AC sejuk,  ternyata asyik juga. Dalam perjalanan itu, dari kaca jendela, panorama di luar bus selalu kutangkap lewat pandangan mataku.

 Dari panorama rumah-rumah penduduk yang padat berhimpitan, hingga pemandangan hutan karet dan batang-batang sawit berserabutan di areal hutan yang mulai gundul.

 Ah, kemana perhatian pemerintah negeri ini ketika hutan di sepanjang ribuan hektar sudah terkikis habis oleh kepentingan pebisnis?

 Paradigma seperti itu segera kutepiskan dari pikiranku. Sekarang saya harus konsentrasi ke acara peluncuran dua buku puisi (penyair Yusuf Ahmad dan Leni Marlina) saja di Universitas Negeri Padang. Ini sangat penting.

 Dalam peluncuran itu, akan hadir sejumlah profesor dan doktor di bidang bahasa dan seni sastra dari Universitas Negeri Padang dan Universitas Andalas.

 Selain itu akan hadir juga  sejumlah pejabat yang mengikuti ulasan isi puisi dari dua antologi tersebut. Karena itu pikiran dan perasaanku akan saya konsentrasikan sepenuhnya ke acara tersebut. (bersambung)

Catatan ini bukan sekadar dokumentasi perjalanan, melainkan kesaksian tentang bagaimana sastra menjadi panggilan jiwa. Anto Narasoma menunjukkan bahwa di balik puisi dan seminar, ada perjuangan, pengorbanan, dan cinta yang tak terlihat. Ia hadir bukan hanya sebagai peserta, tapi sebagai saksi hidup dari semangat sastra yang menyala di tengah keterbatasan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif