CATATAN ESTETIK
(bagian ketiga)
Oleh Anto Narasoma
TERUS terang saja, dalam tempo dua hari menjelang acara
peluncuran buku antologi puisi penyair Yusuf Ahmad dan Leni Marlina di
Universitas Negeri Padang (UNP) aku begitu cemas dan gelisah.
--------
Kok begitu? Iya. Meskipun saudaraku Paulus Laratmase sudah
mentransfer uang ke rekeningku dengan jumlah sesuai tiket perjalanan ke Padang,
namun biaya yang harus kukeluarkan akan lebih dari itu.
Sebagai seniman sastra yang juga pensiunan dari surat kabar
Sumatera Ekspres Palembang, sebelum berangkat ke Padang, saya pasti akan
meninggalkan uang belanja ke istriku.
Karena itu jumlah uang yang ada di tangan terasa begitu
menggelisahkanku. Namun antara kecemasan dan tekad keberangkatan, justru lebih
mengacu pada karirku sebagai sastrawan.
Maka saya putuskan
berangkat saja ke Padang. Dalam hatiku, tak mungkin para sahabat baik di
sekelilingku akan membiarkanku menderita dalam perjalanan tugas di Padang.
Maka uang saku yang ditranslite Mas Paulus Laratmase,
separuhnya kuberikan ke istriku. Apalagi dalam sepekan ke depan, kami akan
menghadapi hari raya Idhul Adha, mau tak
mau uang yang saya tinggalkan ke istriku tercinta akan digunakan untuk membuat
kue.
Sebab kebiasaan di Sumatera Selatan, terutama di Kota
Palembang, tradisi saling kunjung
dari para tamu dari satu rumah ke rumah
lain, berjalan sangat meriah.
Tanggal 29 Mei 2025, saya berangkat dari rumah naik bus
mewah Yoanda Prima. Full bus itu berada
10 kilometer dari pusat kota.
Saya melihat jam dinding. Jarum jam sudah menunjukkan ke
angka 7.24 WIB. Saya harus berangkat. Saya sengaja tidak membawa tas besar
untuk membawa baju gantian dan peralatan
lain bagi kepentingan sehari-hari.
Saya meminta istriku untuk mengantar saya ke full bus Yoanda
Prima. Dengan sepeda motor honda beate, dan ditemani istriku, saya melaju ke
full bus yang akan ke Padang.
Saya membawa motor itu dengan kecepatan agak tinggi, sekitar
70 kilometer per jam. Karena saya memperkirakan waktu keberangkatan bus dan
kehadiranku di full Yoanda Prima.
Setelah bertransaksi ke urusan tiket, saya disarankan untuk
menunggu pemberangkatan bus, sekitar pukul 9.00 pagi.
Karena masih ada waktu sejam lebih, saya izin untuk mencari
sarapan pagi. Memang, sejak kemarin perutku belum diisi. Bagi saya pribadi,
apabila ada tugas yang membebani pikiran, saya tak ada selera makan.
"Yuk kita mencari tempat minum kopi dan sarapan pagi,
istriku," ujar saya langsung tancap gas.
****
Setelah para penumpang memenuhi tempat duduk, saya juga naik ke bus. Tapi tas yang saya
bawa tidak saya masukkan ke ruang bawah karena bisa saya kepit sendiri.
Jujur saya katakan, naik bus sekelas Yoanda Prima baru kali
pertama saya lakukan. Selama ini, ketika ditugaskan manajemen surat kabar
Sumatera Ekspres ke Padang Panjang dan Bukit Tinggi, saya selalu naik pesawat
dari Palembang ke Jakarta, lalu langsung terbang ke Padang.
Duduk di dalam bus ber-AC sejuk, ternyata asyik juga. Dalam perjalanan itu,
dari kaca jendela, panorama di luar bus selalu kutangkap lewat pandangan
mataku.
Dari panorama rumah-rumah penduduk yang padat berhimpitan,
hingga pemandangan hutan karet dan batang-batang sawit berserabutan di areal
hutan yang mulai gundul.
Ah, kemana perhatian pemerintah negeri ini ketika hutan di
sepanjang ribuan hektar sudah terkikis habis oleh kepentingan pebisnis?
Paradigma seperti itu segera kutepiskan dari pikiranku.
Sekarang saya harus konsentrasi ke acara peluncuran dua buku puisi (penyair
Yusuf Ahmad dan Leni Marlina) saja di Universitas Negeri Padang. Ini sangat
penting.
Dalam peluncuran itu, akan hadir sejumlah profesor dan
doktor di bidang bahasa dan seni sastra dari Universitas Negeri Padang dan
Universitas Andalas.
Selain itu akan hadir juga
sejumlah pejabat yang mengikuti ulasan isi puisi dari dua antologi
tersebut. Karena itu pikiran dan perasaanku akan saya konsentrasikan sepenuhnya
ke acara tersebut. (bersambung)
Komentar
Posting Komentar