DUDUK dan tidur selama 18 jam di atas sleeper bus terasa
melelahkan juga. Hanya kakiku yang terasa pegal. Sedangkan fisikku tetap
seperti biasa.
------------
Tiba di fullbus Yoanda Prima di Jalan By Pass Padang, saya
terasa seperti orang asing. Meski saya sangat paham dengan bahasa Minang, tapi
kehadiranku sebagai orang dari luar Sumatera Barat membuat saya benar-benar
asing.
Terus terang, setibanya di Kota Padang, saya tidak tahu
persis saya akan menuju kemana. Sebab, selain tak memahami lika-liku jalan di
Kota Padang, saya hanya dikabarkan oleh panitia, saya harus menunggu jemputan
saja.
Maka seturunnya dari bus, saya duduk di bangku panjang di
ruang dedan full bus Yoanda Prima. Satu-satu para penumpang pergi meninggalkan
tempat itu. Sementara saya masih di tempat semula sembari menantikan jemputan.
Padal sudah dua kali saya menghubungi panita lewat HP agar segera menjemput kedatangan saya di
fullbus Yoanda Prima.
Saya melihat ke arlojiku. Wuih, hari sudah menunjukkan pukul
10.20 WIB. Berarti sudah lebih dari sejam saya berada di sana.
Untung ada seorang pengemudi ojek motor yang datang. Ia
segera menawarkan jasa untuk mengantar saya ke alamat tujuan.
"Maaf Pak, saya sedang menantikan jemputan dari panitia
peluncuran buku antologi puisi. Saya juga tak tahu persis harus ke alamat
mana," ujar saya kepada pengemudi ojek tersebut.
Pengemudi ojek ini baik sekali. Meski saya katakan begitu,
ia tidak tersinggung. Ia justru ikut menemani saya sembari menantikan kehadiran
panitia acara.
Kami berbincang panjang lebar tentang kehidupan. Ia juga
mengutarakan berbagai kesulitannya yang melilit kehiduannya.
"Mencari penumpang saat ini sulit sekali, Pak. Sejak
sehabis subuh tadi, saya belum memperoleh satu penumpang pun," kata
pengenudi ojek tersebut dengan wajah memelas.
Ah, hatiku tersentuh mendengar penuturannya. Laki-laki ini
tidak mengenakan jaket hijau sebagai identitas pengojek.
Ia hanya memakai t'shirt putih yang terlihat kumal. Tapi
pernyataannya itu sungguh cerdas. Dari pembicaraan panjang, saya yakin ia
berpendidikan tinggi.
Tak lama setelah itu, ia pun pamit. Tapi sebelum ia pergi,
saya mrnyodorkan uang pecahan Rp 50 ribu kepadanya. Tapi ia menolaknya.
Setelah kuajukan uang itu secara halus, akhirnya dia
menerimanya juga. "Terima kasih, Pak," ucap lelaki itu sembari
memohon diri.
Aku tersenyum. Lega perasaan di hatiku jika telah membantu
seseorang meski bantuan itu tidak seberapa. Yang penting bisa berbagi rasa
antarsesama kita.
Suasana pagi semakin panas. Cahaya matahari terasa begitu
menggigit kulitku. Ah, panas sekali pagi ini. Kapan penjemputku tiba?
Setelah pukul 10.42 WIB, jemputan tiba. Mas Yusuf Ahmad
keluar dari kendaraan dan menyapa saya. "Wuih, maaf Bang Anto. Kita tadi
ada kendala sebelum menjemput anda," tukas penyair ini tersenyum ramah.
Saya tersenyum. Yusuf segera menjabat tangan saya dan
memeluk akrab . Ia mempersilakan saya naik ke mobil.
Wuih, ternyata di dalam mobil ada pimpinan media Suara Anak
Negeri, Paulus Laratmase. "Silakan naik, Bang. Mohon maaf agak terlambar
menjemput abang," ujar Paulus yang akrab kami sapa dengan sebutan Mas Paul
saja.
Tampilan orang Papua ini ternyata jauh dari perkiraan saya.
Sebab dalam pandanganku, Paul terkesan
intelektual dengan kulit bersih. Ia benar-benar seorang akademisi yang cerdas.
Bersama kami, ada juga seorang pemuda berjanggut bernama
Jaka. Dia seorang pekerja teknis di labotatorium UNP Padang.
Kebetulan dia ditugaskan sebagai pemandu jalan dalam
perjalanan itu. Saya terkesan dengan kesantunan Jaka sebagai pemandu jalan
kami.
Selama dalam perjalanan ke hotel tempat saya diinapkan
bersama penyair Yusuf, kami berbincang soal apa saja. Bahkan bicara ke soal
persiapan penyelengaraan peluncuran buku dan diskusi tentang sastra puisi.
"Wuih, saya bahagia sekali memiliki sahabat seperti mereka," ucapku
dalam hati.
Dalam kebersamaan itu, Paul dan Yusuf juga bertanya tentang
esensi sastra dengan sejumlah elemen yang memperkuat puisi.
Saya menjelaskan komponen yang melengkapi hakikat puisi.
Dalam komposisi puisi, ada empat komponen antara lain, feeling atau rasa. Rasa
ini sangat berperan penting untuk menghadirkan nilai arti bagi uraian puisi.
Sebab, puisi yang baik merupakan wadah untuk memberitahukan
ke pembaca tentang hakikat yang akan disampaikan.
Puisi memiliki unsur kata
berangkai dengan elemen-elemen yang berkaitan tentang pendekatan
kejiwaan dan pendekatan falsafah. Karena itu kedua lapis itu bersentuhan dengan
pendekatan ekstrinsik dan intrinsik (unsur luar dan dalam di diri penyair).
Jadi, kesimpulannya bahwa komponen puisi itu terdiri dari
sense (arti), feeling (rasa) tone (nada kata), serta intention atau sering kita
artikan sebagai tujuan isi puisi.
Kedua sabahat saya itu hanya menganggukan kepala saja. Sebab
kali ini mereka mendengar tentang unsur-unsur yang ada di dalam tipografi
puisi.
"Apakah cukup dengan unsur-unsur yang Bang Anto
sapaikan itu?" tanya Paulus yang juga seorang dosen di Papua.
Tidak, kataku. Itu hanya unsur dasar dari terciptanya puisi.
Sebab ketika orang membaca puisi itu, mereka akan merasakan adanya diksi atau
kata pilihan di dalam merangkai lapisan kalimat. Diksi inilah yang mengantarkan
keindahan puisi dengan sajian isi yang memikat.
Selain itu ada unsur sense (nilai arti). Karena setiap puisi
harus mempunyai suatu pokok persoalan yang hendak dikemukakan kepadab pembaca.
Karena itu peran rasa di dalam jiwa penyair harus kuat untuk menyajikan puisi
yang berkualitas baik. (bersambung)
Bagian keempat ini menegaskan bahwa perjalanan bukan hanya soal jarak yang ditempuh, melainkan juga tentang pertemuan yang menyentuh hati dan percakapan yang memperkaya jiwa. Dari pengemudi ojek yang penuh kejujuran hingga sahabat-sahabat sastra yang hangat, semua menjadi mosaik pengalaman yang menghidupkan makna puisi. Catatan ini akan berlanjut, menyingkap lapisan lain dari
perjalanan estetik yang tak pernah selesai.
Komentar
Posting Komentar