Catatan Estetik-(bagian kelima)
Oleh; Anto Narasoma
BENTUK dan corak puisi yang dijelaskan dalam perjalanan ke
hotel tempat inapan saya dan Mas Yusuf Ahmad, benar-benar memberikan asupan
pengetahuan tentang sastra.
-----------
Dalam pertanyaan Mas Paulus Laratmase tentang metode puisi
yang saya sampaikan, saya jawab bahwa komposisi puisi itu dapat dibedakan dalam
lima komponen penting.
Dalam lima komponen itu terdapat diction (diksi); imagery ; the concrete word ; figuratif
lenguage; dan rhythm and rime.
"Kelima komponen itulah yang menjadi landasan penting
bagi kekuatan puisi. Karena hal-hal konkret dalam perkataan yang dibubuhi pada
lapisan kalimat, dapat disampaikan tujuan (isi) puisi tersebut, sesuai intensi
(intention) yang ada," ujar saya panjang lebar.
Karena itu tiap penyair memiliki warna sendiri-sendiri
ketika ia menuliskan puisinya secara tematis. Sebab para penyair akan selalu
berusaha menjelaskan lapis tema, karena warna pribadi akan tampil dalam corak
puisi yang ditulis.
Dalam perbincangan santai tapi serius itu, kedua sahabat yang serasa seperti saudara ini
sangat setuju dengan apa yang saya tuturkan.
Karena secara metodik, apa yang saya ungkap tentang
unsur-unsur kelengkapan isi puisi sangat mengena, terutama terkait lapisan
kalimat yang memuat nilai arti.
"Tapi ingat, menulis puisi itu tidak dianjurkan untuk
lari dari prinsif dasar kebahasaan (bahasa Indonesia) sesuai Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI)," ucap saya.
Ada penyair yang gemar menulis dengan pengulangan kata. Misalnya,
ia belum pernah ke manamana. Padahal kita tahu bahwa kemana-mana itu harus
dipisah, ke mana-mana.
Atau mereka menghadirkan kata yang memiliki daya ucap
berbeda, seperti hakekat, apotik,
hutang, himbauan.. dsb.
Padahal bentuk daya ucapnya tidak seperti itu. Seperti
hakekat, misalnya, itu harus ditulis hakikat. Kemudian apotik, harusnya apotek
(apoteker), hutang harusnya utang, dan himbauan yang benar imbauan atau yang
diimbau.
"Apakah kata panutan itu benar, Bang Anto?" Mas
Paulus bertanya. Saya tersenyum.
Kalau menurut kaidah bahasa Indonesia, panutan itu keliru.
Harusnya anutan atau yang dianut, yang diikuti dan ditiru.
"Barangkali, dari unsur irama bahasa, kata panutan itu
ada pengaruh dari bahasa Sunda. Misalnya, eta teh bapak nu panutan abdi atau
dalam terjemahan bahasa Indonesianya, itu bapak yang saya kagumi (yang
dianut)," kata saya menjelaskan.
Tapi apakah itu benar? Tentu perlu kita telisik lebih jauh.
Sebab kebenaran dalam satu bahasan perlu dianalisis lagi. Nah, itu !
Tak kami sadari bahwa selama dalam perjalanan dan
perbincangan santai tapi sedikit menyerempet pengetahuan tentang sastra puisi,
kami sudah tiba di warung kopi.
Pemilik warung kopi tampak ramah dan penuh senyum, terutama
bapak yang menyediakan minuman pesanan pengunjung. "Mau minum apa,
Pak," tanya bapak tersebut dalam bahasa Indonesia tapi berlogat minang.
Mas Paulus minta kopi dengan dibubuhi susu. Katanya agar
stamina dirinya tetap fight dan bertenaga. Sedangkan Mas Yusuf Ahmad minta kopi
saja.
"Bang Anto mau minum kopi?" tanya Yusuf. Saya
tersenyum, dan menjawab tidak. Karena saya biasa minum teh manis. "Nggak
dibubuhi susu?," tanya Yusuf lagi. Saya menggelengkan kepala.
Di warung itu, perbincangan tentang sastra masih terus
berlanjut. Saya juga membaca puisi Mas Yusuf bertajuk Do-Mi-No : Melodi
Kehidupan.
Meski tidak hebat dengan gaya teatral seperti di panggung
pementasan, namun tiap rhythm and rhym
yang terucap dalam setiap nada bacaan,
sangat mempengaruhi perasaan orang di belakang saya.
Para peminum kopi yang ada di sekitar saya, terlihat bengong
dan tertarik ketika menikmati bacaan puisiku. Lalu ia maju ke samping tempat
dudukku.
"Wuih, saya tertarik mendengar Abang membaca puisi.
Nilai estetikanya sangat mengena dan membuat saya hanyut dalam bacaan puisi
Abang," ujar laki-laki berusia muda ini tersenyum ramah, sembari
menyodorkan tangannya ingin berkenalan.
Saya tersenyum menyambut keramahtamahannya. "Saya
Dafril Tuanku Bandaro, Bang," ujarnya. Ia juga mengutarakan tentang
perkembangan dunia literasi di tempat ia mengajar.
Andai saja saya ini bisa ikut memberikan sedikit ilmu sastra
dan bahasa Indonesia di tempatnya mengajar, wuih, alangkah hebatnya.
Sesungguhnya Dafril sangat mengharapkan itu.
"Tapi abang tidak tinggal di Padang. Abang berdomisili
di Palembang," kataku menjelaskan.
"Oh, ternyata abang hanya berkunjung ke mari. Ada
kegiatan apa Bang?" Dafril bertanya.
Saya menjelaskan bahwa di Universitas Negeri Padang ada
peluncuran buku antologi puisi dari penyair Surabaya Yusuf Ahmad dan penyair
wanita setempat, Leni Marlina.
Saya mengenalkan Mas Yusuf, Mas Paulus dan Mas Jaka. Dafril
tampaknya gembira sekali bertemu rombongan kami. (bersambung)
Sastra selalu menemukan jalannya: dari obrolan santai hingga panggung akademik, dari secangkir kopi hingga peluncuran antologi. Di setiap perjumpaan, puisi menegaskan bahwa bahasa adalah jembatan antara pengetahuan dan keakraban.
Untuk tulisan lain
silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly
Komentar
Posting Komentar