Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025
 http://bit.ly/3H1TUOj

Bilintention Sebuah Ruang Reflektif-Puitis-Filosofis

  Di sini, kata-kata bukan sekadar bunyi, melainkan rakit rasa yang menyatukan kita Jejak  pemikiran, refleksi, atau bahkan puisi filosofis.  Bahasa adalah bahtera kita bersama. Menjadi Kata di Ruang Waktu Di persimpangan sunyi antara masa dan makna, aku bukan siapa-siapa, hanya sebutir kata yang jatuh dari langit pemahaman. Ia menumpang di halaman blog ini seperti dedaunan di atas sungai, ikut hanyut namun masih menyimpan arah. BILINTENTION bukan sekadar nama—ia adalah kehendak yang dibisikkan oleh waktu kepada pikiran. Di sinilah kutanam niat sebagai benih: tumbuh menjadi narasi, mekar sebagai refleksi, dan berbuah dalam bentuk pemahaman baru. Dalam dunia pendidikan, kita adalah penjaga lentera. Tapi lentera pun perlu cermin, agar cahayanya tak hanya menerangi jalan orang lain, melainkan juga menyapa bayang-bayang dalam diri sendiri. Maka blog ini kutulis bukan untuk menggurui, melainkan untuk menyimak. Menyimak denting kecil suara hati, bisikan pengalaman, dan gema sp...
  Mengeksplorasi Kesehatan dan Harapan dalam Puisi Leni Marlina: Sebuah Analisis Stilistika   https://suaraanaknegerinews.com/mengeksplorasi-kesehatan-dan-harapan-dalam-puisi-leni-marlina-sebuah-analisis-stilistika/

Mencuat Semua

Gambar
Mencuat Semua Ingat Kekasihnya  Ketika smua merasuk ingatan lalu hanya satu tersisa kekasihnya

silahkan Buka Link ini

 http://bit.ly/45hukwQ

Syukur Merupakan Nikmat

 Berulang Nikmat Silahkan simak di link ini   https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/6888190fc925c41bcb3b5952/berulang-nikmat?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Refferal&utm_campaign=Sharing_Desktop

Silahkan Buka Link Ini

  http://bit.ly/3U5tCxA

My Poem Becomes Buddha

Gambar
 

My Poem Judges Me

Gambar
 

Puisiku Menghakimiku

Gambar
 

Silahkan buka link ini

  http://bit.ly/3J56KvA

Silahkan Buka Link Ini

  https://suaraanaknegerinews.com/delula-jaya-dan-simfoni-pengantar-enam-suara-satu-getaran-jiwa/
Gambar
 
Gambar
  Kaki Satu, Gelombang Biru Kuberdoa padamu, duhai si kaki satu yang tegak sunyi,   Berjajar lesu, tak genap sehitungan jari.   Wajahmu menghadap cadas tak bernurani,   Bagai lokomotif purba—mendesir dalam sunyi.   Cahayamu memantul ke langit bertudung kapas,   Dalam peluk mentari yang tak pernah lekas. Sengat silau itu—lukisan kenang yang tak luruh,   Saat bibirmu merekah seperti delima jatuh,   Si kaki satu menua ranum oleh kisah,   Merahnya menanam resah dalam riak asmara,   Gelombang biru terus menggelinding bisu,   Di sela getir nasib dan ragu yang membisu. Kudirangkul angin silam yang tak kunjung usai,   Menusuk waktu, menebar aroma kenang yang lama tertahan.   Duhai tanah coklat di telapak harapku,   Kau saksi tegakcinta yang kureguk penuh pilu,   Kusulut, kusemai, lalu kutitipkan pada jagat raya—   bersama doa yang tak pernah ...
  Pedaling Dreams on a Wet Road   https://suaraanaknegerinews.com/pedaling-dreams-on-a-wet-road/
  Pengayuh Roda, Penjaga Asa   https://suaraanaknegerinews.com/pengayuh-roda-penjaga-asa/
 Not a Gravestone, Not a Sullen Mountain   https://suaraanaknegerinews.com/not-a-gravestone-not-a-sullen-mountain/
 Bukan Nisan, Bukan Gunung Murung    https://suaraanaknegerinews.com/bukan-nisan-bukan-gunung-murung/
 On the Brink of Silence and Sound   https://suaraanaknegerinews.com/on-the-brink-of-silence-and-sound/
 Di Ambang Sunyi dan Suara   https://suaraanaknegerinews.com/di-ambang-sunyi-dan-suara/
Gambar
  Rupa yang Enggan Menjawab oleh: yusuf achmad Ketika terik menjelang, aku gamang pada ilalang Ranting pun enggan menari—tak berani berbohong pada bayang Ketika mentari menyorot tajam Masihkah pedulimu menjalar halus Atau menyelinap seperti senyum bermadu racun Di antara pusaran ular yang melingkar tenang Ketika hujan turun semaunya Bukan karena awan ditanam, tapi langit yang enggan bersaksi Ketika cinta terucap lancar Bukan kata yang dipelihara, melainkan bisikan tak bersandar Ketika kutanya pada rasa Adakah jawabmu lahir dari dada, bukan sekadar tutur berpura-pura? Surabaya, April 2020
  Bekerja Keras dan Cerdas: Menenun Ibadah dalam Ikhtiar Zaman Di tengah hiruk-pikuk era pasca informasi, pertanyaan klasik tentang bekerja keras versus bekerja cerdas tak lagi bersifat teknis semata—ia telah menjadi refleksi nilai, spiritualitas, dan arah hidup manusia. Mana yang seharusnya lebih diutamakan? Apakah keduanya bisa bersinergi untuk menggapai makna hidup dan kesuksesan sejati? Dialog kontemplatif antara Hanif dan Zaki memunculkan simpul tafsir menarik: Hanif: Bekerja keras itu penting untuk hidup. Zaki: Menurutku bekerja cerdas jauh lebih penting daripada bekerja keras. Hanif: Tapi banyak yang bekerja cerdas justru tampak malas. Zaki: Kita hidup di zaman strategi. Bekerja keras saja tak cukup. Dialog ini mencerminkan pertarungan naratif antara etos kerja klasik dan tuntutan zaman strategis. Hanif berkiblat pada kerja sebagai bentuk ibadah dan kesungguhan seperti yang diajarkan Nabi Daud as. Zaki memandang efisiensi dan kecerdasan sebagai kunci sukses dan ke...
  Kata Pengantar Oleh Budhy Munawar-Rachman   Dengan penuh rasa syukur dan kagum, saya menyambut hadirnya buku puisi DELULA JAYA (Debu, Lumut, Larat: Jejak Kata di Himalaya) karya Yusuf Achmad, sebuah karya sastra yang tak sekadar menghadirkan keindahan estetika kata-kata, tetapi juga mengandung kedalaman spiritual, kepekaan sosial, dan kelembutan batin yang menyentuh inti kemanusiaan. Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang sarat dengan kebisingan digital dan keramaian permukaan, DELULA JAYA hadir sebagai ruang kontemplatif yang menyegarkan dan menenangkan. Buku ini tidak hanya memuat deretan puisi yang indah secara bahasa, tetapi juga menyuarakan sebuah perjalanan hidup. Ia mengajak kita menelusuri lorong-lorong batin manusia—tempat kerinduan, luka, kebijaksanaan, dan harapan saling bertaut dalam bait-bait yang ditulis dengan penuh kejujuran dan cinta. Inilah puisi dalam makna terdalamnya: bukan sekadar bentuk, tetapi esensi. Bukan sekadar bacaan, tetapi pantulan...

Silahkan Buka Link Ini

 https://www.instagram.com/p/DMHNPaAJ5eU/?utm_source=ig_web_copy_link

Menangkap Makna: Pemancing dan Nelayan dalam Cerita Yusuf Achmad

Gambar
 Pemancing dan Nelayan dalam Cerita: Antara Realita dan Fiksi   Refleksi Sosial dan Imajinasi dalam Dunia Air <img src="pemancing-nelayan.jpg" alt="Ilustrasi pemancing dan nelayan di laut, menggambarkan dua pendekatan terhadap harapan dan kenyataan"> Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana, dan kini hadir di suaraanaknegerinews.com sebagai bagian dari upaya menyuarakan refleksi sosial melalui sastra. Yusuf Achmad mengangkat tokoh pemancing dan nelayan sebagai simbol dari dua cara manusia menghadapi kenyataan dan harapan. https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/6871d937c925c41208404e42/pemancing-dan-nelayan-dalam-cerita-antara-realita-dan-fiksi?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Refferal&utm_campaign=Sharing_Desktop Artikel ini mengajak kita merenungkan bagaimana manusia menavigasi antara kenyataan dan harapan, antara usaha dan penantian. Pemancing dan nelayan bukan hanya profesi, tetapi metafora kehidupan yang kaya makna. Catatan penulis:...

Refleksi Literasi: Pengantar Paulus Laratmase untuk DELULA JAYA (Bahasa Indonesia & Inggris)

Gambar
https://www.youtube.com/watch?v=yTkmaHeTbmM&t=83s Pengantar Paulus Laratmase untuk Buku DELULA JAYA—Debu, Lumut, Larat: Jejak Kata di Himalaya Menyuarakan yang Tersimpan dalam Keheningan SAMBUTAN DIREKTUR EKSEKUTIF LSM SANTA LUSIA DI UNIVERSITAS NEGERI PADANG 31 MEI 2025 <img src="delula-jaya-cover.jpg" alt="Sampul buku DELULA JAYA—Debu, Lumut, Larat: Jejak Kata di Himalaya"> Dalam pengantar yang menyentuh ini, Paulus Laratmase mengungkapkan perjalanan batinnya sebagai seseorang yang lahir di kampung dan menemukan makna puisi sebagai garam kehidupan. Ia juga menegaskan misi suaraanaknegerinews.com untuk mencerdaskan bangsa melalui literasi, serta menyambut buku DELULA JAYA—Debu, Lumut, Larat sebagai bagian dari perjuangan menyuarakan suara-suara yang selama ini terabaikan. Pengantar Paulus Laratmase untuk Buku DELULA JAYA—Debu, Lumut, Larat: Jejak Kata di Himalaya  Sebagai seseorang yang lahir dan besar di kampung, tanpa latar belakang sastra atau puisi,...

Paradoks Kata dan Makna: Puisi Yusuf Achmad dari Padang ke Surabaya

Gambar
  Jejak Kata yang Menyimpang: Puisi Reflektif tentang Benar dan Salah Refleksi Spiritual dan Budaya dalam Jejak Kata <img src="jejak-kata.jpg" alt="Ilustrasi Rumah Gadang dan Masjid Raya Padang dalam suasana senja"> Dalam puisi ini, Yusuf Achmad mengajak pembaca menyelami pertanyaan mendasar tentang benar dan salah, serta bagaimana makna bisa bergeser dalam konteks sosial dan spiritual. Latar budaya Minangkabau dan pengalaman di Padang menjadi bingkai yang memperkaya makna puisi ini. Salahkah pesan itu?   Atau benarkah ia berlabuh?   Dalam ingatanku, benar dan salah   Hanya bayangan yang berpendar.     Hambar saja—tanpa gairah,   Namun ketika salah berubah benar   Dan benar kehilangan maknanya,   Di sanalah dunia berdenyut dalam paradoks.     Salahnya pesan itu menuntunku   Ke kebenaran mereka,   Kebenaran yang mengklaim dirinya mutlak,   Meski tak selalu sejalan dengan benarku. ...

Ketulusan dalam Puisi: Eka Budianta tentang Yusuf Achmad

Gambar
  Komentar Eka Budianta untuk Buku Puisi Yusuf Achmad <img src="cover-buku.jpg" alt="SPuisi Yusuf Achmad - Debu Kurindu"> Pengantar dari Sastrawan Indonesia: Eka Budianta <img src="cover-buku.jpg" alt="Puisi Yusuf Achmad - Debu Kurindu"> Semoga komentar / Pengantar singkat saya ini mencukupi :  Buku puisi terbaru karya Yusuf Achmad telah menarik perhatian banyak pembaca, termasuk sastrawan ternama Eka Budianta. Berikut adalah komentar beliau yang penuh apresiasi dan ketulusan. "Aku temukan harapan lagi di setiap tetes embun pagi," tulis Yusuf Achmad. Ungkapan yang tulus, jernih dan jujur. Itulah yang terkesan ketika membaca kumpulan puisi ini.   Saat berada di Makkah, awal November 2023 Yusuf menulis puisi berjudul "Debu Kurindu". Katanya "Wahai debu suci, yang menyatu dengan rindu yang tak terputuskan.// Debu-debu ini menjadi saksi abadi, / Merekam perjalanan hati yang tak pernah selesai." Itulah p...

Kata Pengantar Bahasa Indonesia & Inggris – Antologi Tunggal Puisi DELULA JAYA

Gambar
  Kata Pengantar Antologi Puisi DELULA JAYA Menelusuri Jejak Kata, Menyulam Makna dari Kampung ke Himalaya Alt=""G ambar lanskap pegunungan Himalaya saat malam atau senja, diterangi cahaya bulan purnama yang lembut. Kabut tipis menyelimuti lereng bersalju, menciptakan suasana reflektif dan spiritual. Komposisi gambar menggambarkan perjalanan batin dan pencarian makna melalui puisi, dengan nuansa tenang dan penuh kedalaman. “Puisi adalah suara—dan semoga suara ini dapat hidup dalam hati Anda.” Puisi adalah perjalanan—bukan sekadar kumpulan kata, melainkan ekspresi jiwa yang terus mencari makna di setiap sudut kehidupan. Antologi ini lahir dari dorongan hati yang ingin merangkai kata-kata sebagai cermin bagi dunia dan diri sendiri. Namun, puisi dalam buku ini bukan hanya sekadar untaian frasa indah, melainkan gema dari pengalaman, refleksi, dan inspirasi yang saya temukan dalam keseharian. Tak disangka, sebuah salah alamat di WhatsApp membuka pintu menuju pertemuan, persahaba...