Kaki Satu, Gelombang Biru


Kuberdoa padamu, duhai si kaki satu yang tegak sunyi,  

Berjajar lesu, tak genap sehitungan jari.  

Wajahmu menghadap cadas tak bernurani,  

Bagai lokomotif purba—mendesir dalam sunyi.  

Cahayamu memantul ke langit bertudung kapas,  

Dalam peluk mentari yang tak pernah lekas.


Sengat silau itu—lukisan kenang yang tak luruh,  

Saat bibirmu merekah seperti delima jatuh,  

Si kaki satu menua ranum oleh kisah,  

Merahnya menanam resah dalam riak asmara,  

Gelombang biru terus menggelinding bisu,  

Di sela getir nasib dan ragu yang membisu.


Kudirangkul angin silam yang tak kunjung usai,  

Menusuk waktu, menebar aroma kenang yang lama tertahan.  

Duhai tanah coklat di telapak harapku,  

Kau saksi tegakcinta yang kureguk penuh pilu,  

Kusulut, kusemai, lalu kutitipkan pada jagat raya—  

bersama doa yang tak pernah rehat dari lidahku.


Kulempar segenggam batu kecil ke dadamu, biru,  

Untuk menggugurkan sembilu dan serpihan galau,  

Riak putih membelai bibir karang yang merekah,  

Bagaikan biduk menolak karam dalam badai reda.  

Demi cinta abadi yang kupatri di pelataran langit,  

Di mana laut dan langit mengucap janji tanpa suara.


Surabaya, 19 Juni 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif