Kata Pengantar

Oleh Budhy Munawar-Rachman

 

Dengan penuh rasa syukur dan kagum, saya menyambut hadirnya buku puisi DELULA JAYA (Debu, Lumut, Larat: Jejak Kata di Himalaya) karya Yusuf Achmad, sebuah karya sastra yang tak sekadar menghadirkan keindahan estetika kata-kata, tetapi juga mengandung kedalaman spiritual, kepekaan sosial, dan kelembutan batin yang menyentuh inti kemanusiaan.

Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang sarat dengan kebisingan digital dan keramaian permukaan, DELULA JAYA hadir sebagai ruang kontemplatif yang menyegarkan dan menenangkan.

Buku ini tidak hanya memuat deretan puisi yang indah secara bahasa, tetapi juga menyuarakan sebuah perjalanan hidup. Ia mengajak kita menelusuri lorong-lorong batin manusia—tempat kerinduan, luka, kebijaksanaan, dan harapan saling bertaut dalam bait-bait yang ditulis dengan penuh kejujuran dan cinta. Inilah puisi dalam makna terdalamnya: bukan sekadar bentuk, tetapi esensi. Bukan sekadar bacaan, tetapi pantulan dari pengalaman hidup yang autentik.

Yusuf Achmad membagi puisinya dalam tujuh tema utama, yang pada dasarnya merepresentasikan spektrum kehidupan manusia secara utuh: dari refleksi spiritual hingga gagasan tentang kecerdasan buatan dan masa depan. Setiap bagian bukan hanya kategori tematik, melainkan jendela untuk memahami dunia dari sudut yang berbeda.

Dalam bagian Refleksi Spiritual dan Filosofi, kita diperkenalkan pada puisi-puisi yang mengundang perenungan mendalam tentang eksistensi dan kefanaan. Salah satunya, “Ada Jeda, Ada Tiada” mengandung kontemplasi hidup dan waktu:

“Duhai panggung, duhai bunga,
Kau punya jeda.
Kala semua sirna—tiada.”

Kata-kata ini sederhana namun membawa pesan yang dalam: bahwa kehidupan bukan sekadar berlangsung, tetapi juga memiliki jeda, ruang untuk berpikir dan meresapi, bahkan menerima ketiadaan sebagai bagian dari perjalanan.

Sementara itu, dalam puisi “Simbol Keberadaan”, penyair mengajak kita merenungi bentuk dan makna melalui metafora lingkaran dan bentuk O:

“Engkau adalah berkah sekaligus bencana,
Pusat orbit dari segala keberadaan semesta.”

Dalam bab Keindahan Alam dan Harapan, puisi-puisi seperti “Lumut di Puncak Himalaya” dan “Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang” menghadirkan kesadaran ekologis sekaligus spiritual. Alam tidak hanya menjadi latar, tetapi subjek yang hidup dan bicara, memberi inspirasi sekaligus pelajaran ketabahan.

Puisi “Kurma” dengan indahnya menggabungkan unsur alam, spiritualitas, dan simbolisme:

“Kurma, kau tumbuh di tanah kering yang bisu...
Namun, kau tak menyerah pada terik,
Menjadi lambang teguh bagi jiwa-jiwa yang menggelitik.”

Kurma di sini menjadi metafora tentang ketekunan dan keberkahan dalam kondisi yang paling keras—sebuah refleksi yang menguatkan kita di masa penuh tantangan ini.

Cinta dalam DELULA JAYA bukan sekadar romansa antar dua insan, tetapi juga cinta terhadap kehidupan, terhadap masa lalu, terhadap anak cucu, bahkan terhadap kenangan. Dalam puisi “Membingkai CINTA” dan “Menantimu Datang”, cinta menjadi energi spiritual yang melampaui rindu biasa:

“Aku ingin cintaku abadi, selalu menyala,
Laksana sel yang terus hidup, tak pernah mati.”
(Sel Cinta yang Menghidupkan)

Yusuf menulis cinta seperti seorang pertapa menulis doa. Ia tak riuh dalam pengakuan, tetapi dalam diamnya, cinta itu menemukan bentuknya sendiri. Inilah cinta yang menderas dalam kedalaman—cinta yang lebih dekat ke pengabdian daripada posesivitas.

Pada bagian Kritik Sosial, puisi-puisi Yusuf tampil lebih lantang dan tajam, namun tetap dibalut dengan estetika puitis yang membuat kritiknya menyusup lembut ke dalam kesadaran. Dalam puisi “Do-Mi-No: Melodi Kehidupan”, misalnya, Yusuf menyingkap fenomena judi online dan ketergantungan digital:

“Layaknya lebah mencari nektar tanpa arah,
Dalam tubuhnya, nektar berproses menjadi madu—
Manis, namun penuh tipu daya,
Seperti judi online, permainan nasib yang diulur-ulur.”

Ia tidak menggurui, tetapi mengajak merenung melalui narasi dan simbol yang kuat. Kritiknya tak bersifat destruktif, melainkan membangun kesadaran.

Dalam bagian ini, puisi-puisi Yusuf banyak berbicara tentang kegigihan manusia, keteguhan dalam menghadapi duka, dan harapan yang terus dijaga. Dalam “Debu Diri” dan “Tekad Tak Terkotak”, kita dapat menemukan semangat untuk terus melangkah meski diterpa badai:

“Dengan langkah yang pasti, kutempuh jalanku,
Meski rintangan menghadang, cinta tetap tumbuh.”
(Sel Cinta yang Menghidupkan)

Puisinya menjadi teman yang menepuk pundak kita, berkata: “Kita tak sendiri dalam perjuangan.”

Yusuf juga piawai menulis puisi-puisi kontemplatif ringan yang menyentuh makna dalam keseharian. Dalam “ATM yang Berbisik” atau “Filter Hati”, kita menjumpai kesederhanaan yang memikat. Ia menulis tentang kebiasaan, benda-benda kecil, dan suasana rumah dengan cara yang mengandung filosofi:

“ATM itu berbisik padaku,
bukan soal saldo, tapi soal waktu.”

Barangkali bagian paling unik dalam buku ini adalah kumpulan puisi bertema kecerdasan buatan. Puisi seperti “AI dan Puisi” dan “Perjalanan AI Kecil” menunjukkan bahwa penyair tidak menghindari zaman, tetapi justru menghadapinya dengan refleksi kritis dan kreatif.

Dalam “Getar Sukma”, ia menulis:

“Aku ingin tetap menjadi wifi,
memberi, menaungi, melindungi, dinanti.”

Kalimat ini menyiratkan harapan agar teknologi tetap memanusiakan manusia, bukan menggantikannya.

Yusuf Achmad bukan penyair dari lingkaran akademik sastra, tetapi justru dari situlah kekuatan puisinya bersumber. Ia menulis dari pengalaman hidup sehari-hari, dari interaksi dengan lingkungan sekitar, dari suara-suara yang sering tak terdengar. Ia bukan datang untuk menggurui, tetapi untuk menyapa, menyampaikan, dan menemani.

Dalam pengantar penulis, Yusuf bahkan mengakui bahwa puisinya lahir dari salah kirim WhatsApp—sebuah momen yang tampak biasa, namun membuka jalan luar biasa. Di sini kita belajar bahwa puisi bisa lahir dari mana saja, selama hati kita terbuka untuk mendengarkan.

DELULA JAYA adalah buku yang berhasil menjembatani berbagai hal: antara lokal dan global, antara spiritualitas dan teknologi, antara masa lalu dan masa depan. Ia membawa aroma kampung halaman seperti Nyamplungan di Surabaya, tetapi juga menelusuri debu Himalaya. Ia menyuarakan suara dari Papua, namun juga bersenandung tentang zaman digital.

Dalam semangat inilah, puisi-puisi Yusuf menjadi suara kolektif kita—suara yang selama ini mungkin tenggelam dalam keramaian, tetapi kini menemukan panggungnya.

Saya percaya bahwa DELULA JAYA bukan hanya sekadar buku, tetapi bagian dari gerakan literasi yang penting. Ia mengajak kita untuk tidak hanya membaca puisi, tetapi juga menulis, merenung, dan menjadi bagian dari perjalanan budaya. Yusuf Achmad telah memberikan kontribusi yang nyata dan bernilai—sebuah suara tulus yang hidup dalam setiap baitnya.

 

Akhirnya, saya ingin menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Yusuf Achmad atas keberanian dan kejujuran estetikanya. DELULA JAYA bukan hanya patut dibaca, tetapi juga disimpan dan diwariskan. Ia adalah bagian dari harta karun sastra Indonesia kontemporer, dan semoga menjadi cahaya bagi siapa pun yang tengah menapaki jalan sunyi pencarian makna.

 

Catatan penerbit:

Budhy-Munawar-Rachman adalah seorang cendekiawan Islam progresif, penerus pemikiran Nurcholish Madjid, serta penggerak dialog keberagaman melalui Nurcholish Madjid Society (NCMS). Ia dikenal karena gagasannya tentang Islam neo-modernisme, pluralisme, dan pembaruan pemikiran Islam di Indonesia.

 

 PREFACE

By Budhy Munawar-Rachman 

 

With deep gratitude and admiration, I welcome the arrival of DELULA JAYA (Dust, Moss, Larat: Traces of Words in the Himalayas) by Yusuf Achmad—a literary work that not only presents aesthetic beauty in words but also carries profound spirituality, social sensitivity, and heartfelt gentleness that touches the core of humanity. 

 

Amidst the cacophony of the modern world—dense with digital noise and surface-level distractions—DELULA JAYA emerges as a contemplative space, refreshing and serene. This book is more than a collection of beautifully crafted poems; it resonates as a reflection of life’s journey. It invites us to explore the corridors of human emotions—where longing, wounds, wisdom, and hope intertwine in verses written with honesty and love. 

 

Poetry, in its truest form, is not merely a structure but an essence. It is not just something to read—it mirrors authentic human experiences. 

 

Yusuf Achmad divides his poems into seven main themes, each representing the full spectrum of human existence—from spiritual reflection to musings on artificial intelligence and the future. These divisions are not merely thematic categories; they serve as windows to perceive the world from different perspectives. 

 

In the section Spiritual Reflection and Philosophy, the poems lead us into profound contemplation of existence and mortality. One such piece, There is Pause, There is Absence, carries meditations on life and time: 

 

"Oh stage, oh flower, 

You have your pause. 

When all fades—there is nothing." 

 

These words are simple yet carry deep meaning: life does not merely happen; it pauses, allowing room for thought, absorption, and even the acceptance of absence as part of the journey. 

 

Meanwhile, in The Symbol of Existence, the poet invites us to ponder form and meaning through the metaphor of circles and the letter O: 

 

"You are both blessing and calamity, 

The orbiting center of all existence in the universe." 

 

The section Nature’s Beauty and Hope presents poems such as Moss at the Peak of the Himalayas and Biak, Eastern Pearl in Waves, which blend ecological awareness with spirituality. Here, nature is not merely a backdrop; it breathes, inspires, and teaches resilience. 

 

The poem Dates beautifully merges elements of nature, spirituality, and symbolism: 

 

"Dates, you thrive in silent barren lands... 

Yet you do not yield to the scorching heat, 

You stand as a symbol of endurance for restless souls." 

 

Here, the date palm becomes a metaphor for perseverance and blessings in the harshest conditions—a reflection of strength that resonates in challenging times. 

 

Love, in DELULA JAYA, transcends mere romance; it embodies devotion to life, the past, future generations, and memories. In Framing Love and Awaiting Your Arrival, love emerges as a spiritual energy beyond ordinary yearning: 

 

"I wish for my love to be eternal, ever-burning, 

Like a cell that continues to live, never perishing." 

(The Life-Giving Love Cell) 

 

Yusuf writes love as a hermit writes prayers—not loud in declaration but quietly profound. His love exists not in possession but in devotion. 

 

In Social Critique, Yusuf’s poems are sharper and more outspoken, yet still wrapped in poetic elegance, allowing his critique to seep softly into consciousness. In Do-Mi-No: The Melody of Life, for instance, he unveils the phenomenon of online gambling and digital dependence: 

 

"Like bees seeking nectar without direction, 

Inside them, nectar transforms into honey— 

Sweet, yet full of deception, 

Like online gambling, a game of fate spun endlessly." 

 

Rather than preaching, he invites contemplation through powerful narratives and symbols. His critique is not destructive; it builds awareness. 

 

This section also carries poems that speak of human perseverance—strength in facing grief and holding onto hope. In Self-Dust and Unboxed Determination, resilience becomes a guiding light: 

 

"With steady steps, I walk my path, 

Though obstacles arise, love continues to bloom." 

(The Life-Giving Love Cell) 

 

His poetry stands beside us, patting our shoulder, whispering: We are not alone in this struggle. 

 

Yusuf also excels in writing contemplative, everyday poems that unveil profound meaning in the ordinary. In The Whispering ATM or Heart Filter, simplicity merges with philosophy: 

 

"The ATM whispers to me, 

Not about balance, but about time." 

 

Perhaps the most unique part of this book is the poetry collection themed around artificial intelligence. Poems like AI and Poetry and The Journey of a Small AI reveal that the poet does not shun modernity—he confronts it with critical and creative reflection. 

 

In Soul Vibrations, he writes: 

 

"I want to remain like Wi-Fi, 

Giving, sheltering, protecting, always sought after." 

 

These lines convey the hope that technology should humanize, not replace, humanity. 

 

Yusuf Achmad is not a poet from academic literary circles, yet therein lies his strength—his poetry is rooted in everyday life, emerging from interactions with the world around him and the unheard voices within it. He does not come to preach; he comes to greet, to share, and to accompany. 

 

In his introduction, Yusuf even acknowledges that his poetry was born from an accidental WhatsApp misdelivery—an ordinary moment that paved an extraordinary path. Here, we learn that poetry can emerge from anywhere, as long as our hearts remain open to listening. 

 

DELULA JAYA bridges multiple realms—between local and global, spirituality and technology, past and future. It carries the scent of a hometown like Nyamplungan in Surabaya yet traces the dust of the Himalayas. It echoes the voices of Papua while singing about the digital age. 

 

Through this spirit, Yusuf’s poetry becomes our collective voice—a voice that may have long been drowned in noise but now finds its rightful stage. 

 

I believe DELULA JAYA is not just a book; it is part of an important literary movement. It encourages us not only to read poetry but to write, reflect, and partake in cultural exploration. Yusuf Achmad has made a meaningful and valuable contribution—an earnest voice that breathes life into every verse. 

 

Finally, I express my highest appreciation to Yusuf Achmad for his courage and artistic sincerity. DELULA JAYA is not only worth reading but also worth keeping and passing down. It is a treasure of contemporary Indonesian literature, and I hope it shines as a guiding light for all seekers of meaning. 

 

Publisher’s Note: 

Budhy Munawar-Rachman is a progressive Islamic intellectual and a successor of Nurcholish Madjid’s thoughts. He is a key figure in interfaith dialogue through the Nurcholish Madjid Society (NCMS). He is known for his ideas on neo-modernist Islam, pluralism, and Islamic thought reform in Indonesia. 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif