Ketulusan dalam Puisi: Eka Budianta tentang Yusuf Achmad
Komentar Eka Budianta untuk Buku Puisi Yusuf Achmad
Pengantar dari Sastrawan Indonesia: Eka Budianta
<img src="cover-buku.jpg" alt="Puisi Yusuf Achmad - Debu Kurindu">
Semoga komentar / Pengantar singkat saya ini mencukupi :
"Aku temukan harapan lagi di setiap tetes embun pagi," tulis Yusuf Achmad. Ungkapan yang tulus, jernih dan jujur. Itulah yang terkesan ketika membaca kumpulan puisi ini.
Itulah pengakuan Yusuf
Achmad yang amat tulus dan jujur. Saya mengagumi ketulusan hati dan segala
kelebihannya.
Komentar dari Eka Budianta menjadi bukti bahwa puisi-puisi Yusuf Achmad menyentuh hati pembaca dari berbagai kalangan. Semoga karya ini terus menginspirasi.
Catatan penulis: Saya merasa terhormat bisa membagikan komentar dari tokoh sastra Indonesia ini. Semoga pembaca juga merasakan keindahan dan ketulusan dalam puisi-puisi Yusuf Achmad.
__________________________________________________________________________________
CV:
Eka Budianta lahir pada 1
Februari 1956 dari Ibu Monica D. Andajani guru SDN Ngimbang, Lamongan Jawa
Timur. Usia 4 tahun pindah ke Malang hingga lulus SMAK St. Albertus 1974.
Melanjutkan ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia di Jakarta, 1975.
Masuk Los-Angeles
Technical College 1980 dan menjadi koresponden Tempo sampai 1983, saat buku
puisinya "Cerita di Kebun Kopi" dicetak 83.000 eks sebagai buku
Inpres untuk SLTP.
Penghargaan untuk bukunya
"Langit Pilihan" (2012) mendapat hadiah dari Pemerintah.
Kumpulan puisinya
"Sungai Sejati" memenangkan hadiah Satupena (2021) kategori fiksi.
Karya-karya Eka sudah
terbit dalam bahasa Mandarin, Perancis, Arab, Belanda, Jepang, Korea, dll.

Komentar
Posting Komentar