Ketulusan dalam Puisi: Eka Budianta tentang Yusuf Achmad

 Komentar Eka Budianta untuk Buku Puisi Yusuf Achmad

<img src="cover-buku.jpg" alt="SPuisi Yusuf Achmad - Debu Kurindu">

Pengantar dari Sastrawan Indonesia: Eka Budianta

<img src="cover-buku.jpg" alt="Puisi Yusuf Achmad - Debu Kurindu">

Semoga komentar / Pengantar singkat saya ini mencukupi :

 Buku puisi terbaru karya Yusuf Achmad telah menarik perhatian banyak pembaca, termasuk sastrawan ternama Eka Budianta. Berikut adalah komentar beliau yang penuh apresiasi dan ketulusan.

"Aku temukan harapan lagi di setiap tetes embun pagi," tulis Yusuf Achmad. Ungkapan yang tulus, jernih dan jujur. Itulah yang terkesan ketika membaca kumpulan puisi ini.

 Saat berada di Makkah, awal November 2023 Yusuf menulis puisi berjudul "Debu Kurindu". Katanya "Wahai debu suci, yang menyatu dengan rindu yang tak terputuskan.// Debu-debu ini menjadi saksi abadi, / Merekam perjalanan hati yang tak pernah selesai."

Itulah pengakuan Yusuf Achmad yang amat tulus dan jujur. Saya mengagumi ketulusan hati dan segala kelebihannya.

 Selamat untuk terbitnya buku puisi kumpulan Yusuf Achmad ini.

 (EKA BUDIANTA, Sastrawan dan Pemerhati Puisi Indonesia)

Komentar dari Eka Budianta menjadi bukti bahwa puisi-puisi Yusuf Achmad menyentuh hati pembaca dari berbagai kalangan. Semoga karya ini terus menginspirasi.

Catatan penulis: Saya merasa terhormat bisa membagikan komentar dari tokoh sastra Indonesia ini. Semoga pembaca juga merasakan keindahan dan ketulusan dalam puisi-puisi Yusuf Achmad.

 __________________________________________________________________________________

CV:

Eka Budianta lahir pada 1 Februari 1956 dari Ibu Monica D. Andajani guru SDN Ngimbang, Lamongan Jawa Timur. Usia 4 tahun pindah ke Malang hingga lulus SMAK St. Albertus 1974. Melanjutkan ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia di Jakarta, 1975.

Masuk Los-Angeles Technical College 1980 dan menjadi koresponden Tempo sampai 1983, saat buku puisinya "Cerita di Kebun Kopi" dicetak 83.000 eks sebagai buku Inpres untuk SLTP.

 Eka Budianta pindah ke Yomiuri Shimbun, dan BBC di London, Inggris sampai 1991. Pernah mengajar bahasa Jawa di Universitas Cornell, Ithaca, New York.

Penghargaan untuk bukunya "Langit Pilihan" (2012) mendapat hadiah dari Pemerintah.

Kumpulan puisinya "Sungai Sejati" memenangkan hadiah Satupena (2021) kategori fiksi.

Karya-karya Eka sudah terbit dalam bahasa Mandarin, Perancis, Arab, Belanda, Jepang, Korea, dll.

 _________________________________________________________________________________

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif