Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026
Gambar
Sumber foto:Copilot-AI   Pahit dan manis menari dalam satu irama, Durian bertaring, roda berputar tanpa suara. Hidup berayun di antara tawa dan tangis, Jejak dan jalan berseteru, Melintasi tikus , melintasi anjing —tanpa ragu. Durian menusuk hangat dan dingin, Tak serupa nangka , meski rupa bersinggungan. Rasa punya dunia sendiri, Di sudut sunyi, wajah-wajah melebur, Kadang licin, kadang berkerikil—tetap mengalir. Durian dan nangka, roda dan jejak, Menari dalam harmoni yang tak terdefinisi. Berbeda namun berpadu, Pahit dan manis bertaut dalam kasih dan asa. Di atas tak selalu bahagia, Di bawah tak kehilangan makna. Andai insan memandang dengan lapang hati, Menghargai jejak kecil , Memahami tikus dan anjing pun bisa jadi malaikat. Maka ia melangkah lebih tinggi, Melewati batas langit yang membisikkan cahaya, Menggapai derajat cinta yang tak berbatas, Dalam kedamaian yang melampaui dunia. Surabaya , 26 Januari 2025 (revisi) Untuk tulisan lain silahkan buka: https://yusufachmad-bi...

Pelangi di Jalan Hati

Gambar
  Sumber:AI-Copilot Bak pelukis dengan kuas yang beku, warnaku hanya putih membisu. Aku penikmat sastra yang kehilangan arah, terjebak dalam sunyi, hilang sudah ilham dan marah. Andai aku seorang ayah, bahagia hilang ditelan gelisah. Anak durhaka tak tahu arah, meninggalkan kasih, menebar resah. Jika aku seorang istri, cinta sejati lenyap dalam cemburu yang buta . Rindu berubah jadi luka, di antara harap dan kecewa yang tak bermuara. Andai aku pembelajar puisi, karya indah hanya bayang ilusi. Di dalam lamunan tak bertepi, terperangkap mimpi yang tak pasti. Ingin kulukis sabdamu dalam relung hati, ingin kuhidupkan dalam laku sehari-hari. Ingin kudidik diri seperti mendidik anak sendiri, menyulam cintamu di pagi dan senja yang sunyi. Tak ingin puisiku sekadar basa-basi, tapi laku hati yang menjelma amal sejati . Duhai bening hati , menjelmalah engkau dalam diri ini. Seperti pelangi di langit kelabu , warnailah hidupku dengan rindu yang syahdu . Biarlah keluh dan nestapa menjauh, da...

Gunung Debu Jiwa

Gambar
  sumber: AI-Copilot Debu menempel, bermilyar-milyar, melumuri, bercampur, tersebar, tak selalu tampak, kecuali digores, disingkap, digaruk. Hanya tangan yang peka menemukan gunung debu , bukan tangan yang enggan mengais, menyibak, menggali jiwa . Mata yang buta mendamba terang, indahnya dunia tak tersentuh. Hanya yang pernah merasakan panas akan bersyukur pada sejuk. Hanya kaki yang menyelam mengerti kedalaman . Mengapa banyak merasa perkasa, takkan tumbang, takkan runtuh? Apakah tubuh utuh tak butuh debu yang melekat? Kita lupa, debu kembali pada tanah, menyatu, hilang, tak ada yang peduli. Apakah kita hanya bangga pada lumpur berbau busuk yang menyerang? Atau kita kira debu abadi , tetap kokoh, bahagia, gagah, takkan pernah hancur? Surabaya , 10 Januari 2025 Untuk tulisan lain silahkan buka: https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write  https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en  https://web.facebo...

Arang di Tembok Nyamplungan

Gambar
 Cerpen ini saya tulis sebagai refleksi atas ingatan masa kecil di Nyamplungan , Surabaya , yang bersinggungan dengan sejarah sosial-politik Indonesia . Potongan ini pernah saya ikutkan dalam Lomba Cerpen Tigastrata . Nyamplungan selalu hadir dalam ingatan seperti bayangan yang tak pernah padam. Di sana, pohon sawo merunduk, mageli berderet di halaman, dan sebuah tembok tua berdiri bisu. Tembok itu pernah kutoreh dengan arang, coretan kecil yang tak pernah benar-benar hilang. Dari goresan itu aku belajar: gambar bisa menyimpan luka. September datang lagi, membawa aroma tanah basah dan bisik angin yang tak sama dengan tahun-tahun lain. Di layar HP, pesan Aralia muncul—teman kecil yang dulu menemaniku di jalan sempit kampung. Puisinya singgah di dunia digital, tapi bagiku ia selalu kembali ke Nyamplungan, ke masa yang tak bisa tidur. Aku teringat cerita ibuku tentang keluarga Aralia, tentang tragedi yang menorehkan jejak dalam sejarah kecil kami. Ingatan itu menempel seperti ...

Penyair Bayangan

Gambar
Malam yang damai retak, oleh bayangmu—hujan menampar kaca. Kehadiranmu melesak tanpa undangan, seakan kaulah puisi termasyhur di langit kata, padahal hanya topeng rapuh, tanpa raga. Di persada puisi, ada yang murni, ada yang palsu, ada yang berjiwa, ada yang hampa. Engkau hadir bukan pelipur lara, hanya meminjam tidur, mendekap anganku dalam semu. Seolah malam meminjam lelap, dan kau menyeretku dalam jerat syair bayanganmu. Dari bibirmu lahir bait, suara ditata rapi, wajahmu bersinar—bayangan data, rambutmu pekat seperti malam, namun semua hanyalah algoritma belaka . Ah, kau usik aku, memaksaku menyibak dirimu di antara kabut nyata dan ilusi. Lalu nuranimu berbisik lembut: “ Allohu .” Bisikan itu mengguncang kalbu, menggetarkan jiwa seperti hujan mencuci debu. Aku tersungkur dalam cahaya doa, diiringi nyanyian jangkrik, cicak, dan bayang sajadah . Pipiku basah oleh tangis rindu, di sela luka terselip pilu. Rindu pada masa, pada guru, pada pesan: “Jaga hatimu, wahai pemuja Allahu .” Me...

Catatan Kesembilan atas Sun-Shattering Mythology of Tanimbar-Mitos, Kesadaran, dan Pergeseran Paradigma

Gambar
  Membaca   Sun-Shattering Mythology of Tanimbar   adalah seperti menelusuri lorong antara masa lalu dan masa kini. Di sana, mitos tidak hadir sebagai dongeng usang, melainkan sebagai jalinan kesadaran—rasional sekaligus simbolik—yang terus hidup dalam tubuh komunitas dan jiwa manusia. Pada bagian ini, mitos tampil bukan hanya sebagai narasi, melainkan sebagai struktur kesadaran yang menyeberangi batas antara rasionalitas dan simbolisme. Mircea Eliade menegaskan bahwa mitos adalah “cerita suci” yang mengatur cara manusia memahami waktu, ruang, dan keberadaan. Dalam konteks ini, mitos tidak berhenti sebagai teks, melainkan menjadi ruang hidup yang terus berinteraksi dengan manusia dan komunitasnya. Thomas Kuhn , melalui gagasan  paradigm shift , mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan pun memiliki mitosnya sendiri—narasi besar yang bisa bergeser ketika cara pandang berubah. Dengan demikian, mitos dan ilmu bukanlah dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dua saudara y...