Pelangi di Jalan Hati
Bak pelukis dengan kuas yang beku,
warnaku hanya putih membisu.
Aku penikmat sastra yang kehilangan arah,
terjebak dalam sunyi, hilang sudah ilham dan marah.
Andai aku seorang ayah,
bahagia hilang ditelan gelisah.
Anak durhaka tak tahu arah,
meninggalkan kasih, menebar resah.
Jika aku seorang istri,
cinta sejati lenyap dalam cemburu yang buta.
Rindu berubah jadi luka,
di antara harap dan kecewa yang tak bermuara.
Andai aku pembelajar puisi,
karya indah hanya bayang ilusi.
Di dalam lamunan tak bertepi,
terperangkap mimpi yang tak pasti.
Ingin kulukis sabdamu dalam relung hati,
ingin kuhidupkan dalam laku sehari-hari.
Ingin kudidik diri seperti mendidik anak sendiri,
menyulam cintamu di pagi dan senja yang sunyi.
Tak ingin puisiku sekadar basa-basi,
tapi laku hati yang menjelma amal sejati.
Duhai bening hati,
menjelmalah engkau dalam diri ini.
Seperti pelangi di langit kelabu,
warnailah hidupku dengan rindu yang syahdu.
Biarlah keluh dan nestapa menjauh,
dari sanubari yang rapuh dan lusuh.
Dengan langkah mantap dan jiwa terbuka,
aku ingin berjalan tanpa dusta.
Membawa pesanmu dalam setiap desah nafas,
meniti hidup dengan bekal ikhlas.
Duhai sinar yang tak pernah redup,
terangilah jalanku yang penuh liku dan kelam.
Biarlah cinta dan kasihmu jadi penuntun,
dalam setiap jejak yang kutempuh, menuju pelabuhan yang agung.
Surabaya, 6–9–2024
Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

Komentar
Posting Komentar