Gunung Debu Jiwa
Debu menempel, bermilyar-milyar,
melumuri, bercampur, tersebar,
tak selalu tampak,
kecuali digores, disingkap, digaruk.
Hanya tangan yang peka
menemukan gunung debu,
bukan tangan yang enggan mengais,
menyibak, menggali jiwa.
Mata yang buta mendamba terang,
indahnya dunia tak tersentuh.
Hanya yang pernah merasakan panas
akan bersyukur pada sejuk.
Hanya kaki yang menyelam
mengerti kedalaman.
Mengapa banyak merasa perkasa,
takkan tumbang, takkan runtuh?
Apakah tubuh utuh
tak butuh debu yang melekat?
Kita lupa, debu kembali pada tanah,
menyatu, hilang,
tak ada yang peduli.
Apakah kita hanya bangga
pada lumpur berbau busuk yang menyerang?
Atau kita kira debu abadi,
tetap kokoh, bahagia, gagah,
takkan pernah hancur?
Surabaya, 10 Januari 2025
Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

Komentar
Posting Komentar