Sumber foto:Copilot-AI


 Pahit dan manis menari dalam satu irama,

Durian bertaring, roda berputar tanpa suara.
Hidup berayun di antara tawa dan tangis,
Jejak dan jalan berseteru,
Melintasi tikus, melintasi anjing—tanpa ragu.

Durian menusuk hangat dan dingin,
Tak serupa nangka, meski rupa bersinggungan.
Rasa punya dunia sendiri,
Di sudut sunyi, wajah-wajah melebur,
Kadang licin, kadang berkerikil—tetap mengalir.

Durian dan nangka, roda dan jejak,
Menari dalam harmoni yang tak terdefinisi.
Berbeda namun berpadu,
Pahit dan manis bertaut dalam kasih dan asa.
Di atas tak selalu bahagia,
Di bawah tak kehilangan makna.

Andai insan memandang dengan lapang hati,
Menghargai jejak kecil,
Memahami tikus dan anjing pun bisa jadi malaikat.

Maka ia melangkah lebih tinggi,
Melewati batas langit yang membisikkan cahaya,
Menggapai derajat cinta yang tak berbatas,
Dalam kedamaian yang melampaui dunia.

Surabaya, 26 Januari 2025 (revisi)

Untuk tulisan lain silahkan buka:

https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en 
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211

Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif