Arang di Tembok Nyamplungan
Cerpen ini saya tulis sebagai refleksi atas ingatan masa kecil di Nyamplungan, Surabaya, yang bersinggungan dengan sejarah sosial-politik Indonesia. Potongan ini pernah saya ikutkan dalam Lomba Cerpen Tigastrata.
Nyamplungan selalu hadir dalam
ingatan seperti bayangan yang tak pernah padam. Di sana, pohon sawo merunduk,
mageli berderet di halaman, dan sebuah tembok tua berdiri bisu. Tembok itu
pernah kutoreh dengan arang, coretan kecil yang tak pernah benar-benar hilang.
Dari goresan itu aku belajar: gambar bisa menyimpan luka.
September datang lagi, membawa
aroma tanah basah dan bisik angin yang tak sama dengan tahun-tahun lain. Di
layar HP, pesan Aralia muncul—teman kecil yang dulu menemaniku di jalan sempit
kampung. Puisinya singgah di dunia digital, tapi bagiku ia selalu kembali ke
Nyamplungan, ke masa yang tak bisa tidur.
Aku teringat cerita ibuku
tentang keluarga Aralia, tentang tragedi yang menorehkan jejak dalam sejarah
kecil kami. Ingatan itu menempel seperti noda di dinding. Dan malam itu, suara
jerit masih bergema:
“Jangan ikut begitu saja, Ayah!
Lawan kita tak berdosa!”
Dentuman gagang bedil menghantam
kening seorang ibu. Darah mengalir di lantai Nyamplungan. Aku masih kecil,
hanya bisa menangis. Sejak malam itu, September tak pernah putih lagi.
Aku masih ingat berdiri di depan
tembok tua Gang Nyamplungan, tembok yang pernah kutoreh dengan arang. Usia enam
atau tujuh, aku suka menggambar apa saja: garis di jalan, bentuk di batu
kampung. Suatu sore, aku menggambar arit dan palu. Ibuku melihat. Wajahnya
pucat, tangannya gemetar menghapus arang itu. “Kau ulangi, kuhukum kau hingga
lesu,” katanya dengan suara bergetar.
Aku tak mengerti. Bagiku itu
hanya bentuk indah. Tapi bagi ibuku, itu tanda maut. Ia pernah bercerita
tentang tetangga yang hilang di malam kelabu 1965, tak pernah kembali. Sejak
itu, setiap simbol jadi bisik ancaman. Bulan kelabu, bulan penuh bisik, bulan
yang membuat orang takut pada tembok.
Keluguanku hancur seketika.
Coretan yang dulu jadi kebahagiaan, kini berubah jadi pelajaran pahit: gambar
bisa jadi senjata, bisa jadi luka.
Di rumah, percakapan keluarga
sering berputar pada bulan-bulan. Ayah kadang bercerita tentang masa mudanya,
sementara ibu mengulang-ulang kisah tentang wajah tiap bulan. “Januari adalah
awal, penuh doa,” katanya. “Mei adalah panas politik, suara mahasiswa di
jalanan.” “Juli masa tenang, tapi penuh bisik.” “September—ah, September selalu
membara.”
Aku mendengar sambil mendorong
mobil-mobilan di lantai. Di luar, kampung tak pernah benar-benar tenang.
Tetangga depan, belakang, bahkan kampung sebelah, satu per satu ditangkap
tentara. Ayah dan ibu membicarakan lambang arit dan palu. Kata mereka, itu
bukan sekadar gambar, melainkan tanda yang bisa mengirim seseorang ke
penjara—atau lebih buruk.
Suatu petang, kampung
bergemuruh. Orang-orang berkerumun di depan rumah Aralia. Dari dalam terdengar
jerit pilu: “Jangan ikut begitu saja, Ayah! Lawan kita tak berdosa!”
Suara itu milik ibunya, berusaha
menahan sang suami agar tidak dibawa tentara. Aralia kecil menangis keras,
tubuh mungilnya gemetar di pelukan kain lusuh. Tentara membentak, lalu gagang
bedil menghantam kening ibunya. Ia terhuyung, jatuh, darah segar mengalir di
wajah pucat.
Tangis Aralia pecah
sejadi-jadinya. Ayahnya digiring paksa keluar rumah, sementara tetangga
berhamburan menolong sang ibu yang tak sadarkan diri.
Sejak malam itu, kampung
Nyamplungan tak pernah sama. Nama ayah Aralia disebut “antek PKI,” meski tak
seorang pun tahu salah apa. Luka itu menempel di dinding kampung, seperti arang
yang dihapus tapi tetap meninggalkan jejak.
#LombaCerpen_3strata
#IndonesiadalamSosialPolitik

Komentar
Posting Komentar