Postingan

Bolong

Gambar
  Sumber :AI_Copilot Bolong adalah lubang . Lubang adalah pintu . Pintu adalah jurang . Jurang adalah rahim . Rahim adalah liang .   Bolong adalah kosong. Kosong adalah penuh . Penuh adalah bolong. Bolong adalah kita.   Kita bolong di mata. Kita bolong di telinga. Kita bolong di kata. Kita bolong di jiwa .   Bolong adalah tawa . Bolong adalah luka . Bolong adalah doa . Bolong adalah sia-sia .   Untuk tulisan lain silahkan buka: https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write  https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en  https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211 Suaraanaknegerinews.com                          https://medium.com/@yusufachmad2018 https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-at...

Dialog Berhikmah

Gambar
  Sumber:AI-Copilot Jangan Berprasangka Buruk Di sebuah warung kopi pinggir jalan, Kadari mengeluh pada sahabatnya. Kadari :  “Aku tidak punya uang sama sekali. Anak dan istriku belum makan.” Kodrat  mencoba menenangkan:  “Sabarlah, dengarkan dulu ceritaku.” Kadari menuduh:  “Kamu pasti menolak meminjamiku.” Namun akhirnya Kodrat menyerahkan uang titipan saudaranya:  “Ini untukmu. Aku cerita bahwa keluargamu sering berpuasa karena tidak ada makanan.” Kadari terdiam:  “Subhanallah… aku berprasangka buruk. Allah , ampunilah aku.” Refleksi Fenomena prasangka buruk ( su’uzan ) sering muncul di masyarakat urban. Survei sosial menunjukkan banyak orang cenderung cepat menilai tanpa mendengar penjelasan. Pola komunikasi yang tergesa-gesa, ditambah tekanan ekonomi, membuat orang mudah curiga. Padahal, keterbukaan dan kesediaan mendengar dapat mencegah salah paham serta menjaga harmoni sosial. Prasangka buruk bukan hanya persoalan individu, tetapi juga fenomena...

Ketika Kaki Bercerita di pagi Sunyi

Gambar
  sumber AI-Copilot Hari masih petang, zikir subuh baru saja meluruh di udara. Embun menggeliat di sela-sela aspal, harum semerbak menari dalam dingin yang malas. Para jamaah berlalu, membawa luka yang belum sembuh, doa yang belum dijawab, Masjid dan langgar terdiam, menjelma saksi bisu atas pinta yang tertumpah. Langkahku menyusuri jejak sunyi kehidupan, di antara gelisah ibu-ibu yang menggenggam mimpi dengan tangan bergetar, di atas tumpukan barang jualan yang belum disentuh rezeki, di bawah langit yang masih remang, seorang bapak paruh baya mengayun sapu lidi , menatap jalan kosong. Ia menyapu luka rumah tangga ke dalam selokan yang tak pernah bertanya, menghempaskan marah pada tumpukan sampah yang tak pernah membalas. Di genggaman sapu lidi, ia temukan keteguhan: tempat bertahan ketika cinta tak lagi pulang. Di sudut pertigaan, kakiku berhenti. Perempuan berambut pirang berjalan pelan, menggenggam resah yang tak bisa dibagi. Tubuhnya kecil, ringkih, tak tinggi, tapi langkahn...
Gambar
Sumber foto:Copilot-AI   Pahit dan manis menari dalam satu irama, Durian bertaring, roda berputar tanpa suara. Hidup berayun di antara tawa dan tangis, Jejak dan jalan berseteru, Melintasi tikus , melintasi anjing —tanpa ragu. Durian menusuk hangat dan dingin, Tak serupa nangka , meski rupa bersinggungan. Rasa punya dunia sendiri, Di sudut sunyi, wajah-wajah melebur, Kadang licin, kadang berkerikil—tetap mengalir. Durian dan nangka, roda dan jejak, Menari dalam harmoni yang tak terdefinisi. Berbeda namun berpadu, Pahit dan manis bertaut dalam kasih dan asa. Di atas tak selalu bahagia, Di bawah tak kehilangan makna. Andai insan memandang dengan lapang hati, Menghargai jejak kecil , Memahami tikus dan anjing pun bisa jadi malaikat. Maka ia melangkah lebih tinggi, Melewati batas langit yang membisikkan cahaya, Menggapai derajat cinta yang tak berbatas, Dalam kedamaian yang melampaui dunia. Surabaya , 26 Januari 2025 (revisi) Untuk tulisan lain silahkan buka: https://yusufachmad-bi...

Pelangi di Jalan Hati

Gambar
  Sumber:AI-Copilot Bak pelukis dengan kuas yang beku, warnaku hanya putih membisu. Aku penikmat sastra yang kehilangan arah, terjebak dalam sunyi, hilang sudah ilham dan marah. Andai aku seorang ayah, bahagia hilang ditelan gelisah. Anak durhaka tak tahu arah, meninggalkan kasih, menebar resah. Jika aku seorang istri, cinta sejati lenyap dalam cemburu yang buta . Rindu berubah jadi luka, di antara harap dan kecewa yang tak bermuara. Andai aku pembelajar puisi, karya indah hanya bayang ilusi. Di dalam lamunan tak bertepi, terperangkap mimpi yang tak pasti. Ingin kulukis sabdamu dalam relung hati, ingin kuhidupkan dalam laku sehari-hari. Ingin kudidik diri seperti mendidik anak sendiri, menyulam cintamu di pagi dan senja yang sunyi. Tak ingin puisiku sekadar basa-basi, tapi laku hati yang menjelma amal sejati . Duhai bening hati , menjelmalah engkau dalam diri ini. Seperti pelangi di langit kelabu , warnailah hidupku dengan rindu yang syahdu . Biarlah keluh dan nestapa menjauh, da...

Gunung Debu Jiwa

Gambar
  sumber: AI-Copilot Debu menempel, bermilyar-milyar, melumuri, bercampur, tersebar, tak selalu tampak, kecuali digores, disingkap, digaruk. Hanya tangan yang peka menemukan gunung debu , bukan tangan yang enggan mengais, menyibak, menggali jiwa . Mata yang buta mendamba terang, indahnya dunia tak tersentuh. Hanya yang pernah merasakan panas akan bersyukur pada sejuk. Hanya kaki yang menyelam mengerti kedalaman . Mengapa banyak merasa perkasa, takkan tumbang, takkan runtuh? Apakah tubuh utuh tak butuh debu yang melekat? Kita lupa, debu kembali pada tanah, menyatu, hilang, tak ada yang peduli. Apakah kita hanya bangga pada lumpur berbau busuk yang menyerang? Atau kita kira debu abadi , tetap kokoh, bahagia, gagah, takkan pernah hancur? Surabaya , 10 Januari 2025 Untuk tulisan lain silahkan buka: https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write  https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en  https://web.facebo...

Arang di Tembok Nyamplungan

Gambar
 Cerpen ini saya tulis sebagai refleksi atas ingatan masa kecil di Nyamplungan , Surabaya , yang bersinggungan dengan sejarah sosial-politik Indonesia . Potongan ini pernah saya ikutkan dalam Lomba Cerpen Tigastrata . Nyamplungan selalu hadir dalam ingatan seperti bayangan yang tak pernah padam. Di sana, pohon sawo merunduk, mageli berderet di halaman, dan sebuah tembok tua berdiri bisu. Tembok itu pernah kutoreh dengan arang, coretan kecil yang tak pernah benar-benar hilang. Dari goresan itu aku belajar: gambar bisa menyimpan luka. September datang lagi, membawa aroma tanah basah dan bisik angin yang tak sama dengan tahun-tahun lain. Di layar HP, pesan Aralia muncul—teman kecil yang dulu menemaniku di jalan sempit kampung. Puisinya singgah di dunia digital, tapi bagiku ia selalu kembali ke Nyamplungan, ke masa yang tak bisa tidur. Aku teringat cerita ibuku tentang keluarga Aralia, tentang tragedi yang menorehkan jejak dalam sejarah kecil kami. Ingatan itu menempel seperti ...