Dialog Berhikmah

 

Sumber:AI-Copilot


Jangan Berprasangka Buruk

Di sebuah warung kopi pinggir jalan, Kadari mengeluh pada sahabatnya.
Kadari“Aku tidak punya uang sama sekali. Anak dan istriku belum makan.”
Kodrat mencoba menenangkan: “Sabarlah, dengarkan dulu ceritaku.”
Kadari menuduh: “Kamu pasti menolak meminjamiku.”
Namun akhirnya Kodrat menyerahkan uang titipan saudaranya: “Ini untukmu. Aku cerita bahwa keluargamu sering berpuasa karena tidak ada makanan.”
Kadari terdiam: “Subhanallah… aku berprasangka buruk. Allah, ampunilah aku.”

Refleksi

Fenomena prasangka buruk (su’uzan) sering muncul di masyarakat urban. Survei sosial menunjukkan banyak orang cenderung cepat menilai tanpa mendengar penjelasan. Pola komunikasi yang tergesa-gesa, ditambah tekanan ekonomi, membuat orang mudah curiga. Padahal, keterbukaan dan kesediaan mendengar dapat mencegah salah paham serta menjaga harmoni sosial.

Prasangka buruk bukan hanya persoalan individu, tetapi juga fenomena sosial. Ia bisa merusak kepercayaan, memutus tali silaturahmi, bahkan menimbulkan konflik. Sebaliknya, husnuzan (prasangka baik) adalah energi sosial yang membangun solidaritas, memperkuat jaringan kepercayaan, dan menumbuhkan empati.

Relevansi Masa Kini

Di era krisis ekonomi, inflasi, dan ketidakpastian pekerjaan, prasangka buruk terhadap sesama atau bahkan terhadap Allah sering muncul. Orang mudah merasa ditinggalkan, dicurangi, atau tidak dipedulikan. Dialog Kadari dan Kodrat menjadi cermin: ujian kesabaran bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan prasangka.

Hikmah:

  • Kesabaran adalah benteng jiwa.
  • Husnuzan adalah jembatan kepercayaan.
  • Komunikasi terbuka adalah obat salah paham.

Puasa yang sering disebut sebagai latihan kesabaran, sesungguhnya juga latihan husnuzan. Menahan diri dari prasangka buruk sama pentingnya dengan menahan lapar dan dahaga.

Untuk tulisan lain silahkan buka:

https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en 
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211

Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif