Janda dan Politisi

                                                                Gamabar: AI-Copilot
 

Politisi tetap berambisi, meski di depan sana

ada yang gantung diri.

Tak siap kalah, ia malah mati tergantung

di depan poster wajahnya sendiri.

Tetap tak sadar, tetap tak berubah diri.

 
Mereka bukan penyembuh, hanya pedagang obat.

Mereka bukan peduli, hanya memulas cinta palsu.

Mereka bukan martabat,

hanya tumpukan uang yang haus tahta.

 
Kepada pemilih yang didera kurap,

mereka menjajakan janji.

Namun pengemis di pinggir jalan takkan tertipu;

baginya cinta bukan sulap,

bukan obat sesaat yang menipu mata.

 
Kakinya buntung, nasibnya menggelantung,

tak ada obat untuk lapar yang membusuk.

Politisi berlalu tak hirau,

hanya menyisakan debu jalanan

dan kayu penopang yang gemetar.

 
Kulihat para ibu membentang poster di dada:

“Kami janda, merdeka dari perbudakan pria perkasa!”

Namun kutahu, mereka hanya lupa

bahwa cinta sejatinya tidak seberat itu.

 
Di seberang jalan, sejoli lewat bergandengan—

ingatku pada Qais dan Laila dalam dunia yang lupa.

Mereka sepakat berjanji sehidup semati,

sementara rohaniawan sibuk berorasi:

“Cinta-mati adalah sejoli yang diikat janji!”

Kutanya si tua di sudut jalan, ia berbisik:

“Itu benar, tapi pada cinta, selalu ada mati.”

 
Perkara ini mendadak memusingkan.

Gelap, pekat, melampaui bualan kampanye politisi.

Bahkan poster para janda itu kini bias maknanya;

terasa lemah dan kehilangan energi.

Seorang mahasiswa melintas dan mengkritisi:

“Bung, itu sudah berdimensi metafisika sekarang!”

 
Kulihat sekali lagi poster-poster itu.

Para wanita mandiri tanpa suami berteriak lantang,

suara mereka melengking serupa penjual obat

atau politisi yang memburu suara.

Di atas kertas itu kini terbaca:

“Uang dan tahta, pasti kini atau nanti!”

Surabaya, 18-7-2023

 
Puisiku ini sebelumnya telah diterbitkan dalam buku kumpulan puisi "Belanggur di Nyamplungan" (2024).

Untuk tulisan lain silakan kunjungi:
Blogspot: yusufachmad-bilintention.blogspot.com
Kompasiana: kompasiana.com/yusufachmad7283
Instagram: @yusufachmad2018
Facebook: facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suara Anak Negeri News: suaraanaknegerinews.com
Medium: medium.com/@yusufachmad2018
Flipboard: flipboard.com/@yusufachmad4bpu
LinkedIn: linkedin.com/in/yusuf-achmad-3b89632b6
X (Twitter): x.com/yusufachma84290
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif