Bukan Sekadar Gentar
Sumber :AI-Copilot
Aku menghindar,
bukan karena gentar.
Kupendam rasa di balik kelopak mata,
sebab yang berceceran bukan hanya darah,
melainkan runtuhan kemanusiaan
yang tak sanggup lagi kutatap.
Segala gambar, cerita, nasib Palestina
membanjiri layar gawai.
Itu bukan sekadar bentangan duka,
melainkan gema lampau
dari perjuangan yang tak kenal henti.
Marahku menggelegak di relung darah.
Di atas tanah kurma, rumah yang dijarah,
sejarah menolak menyerah.
Mereka tak lagi menghitung kehilangan;
bukan tangisan kosong yang kaudengar,
melainkan batu yang melesat, nyali yang menerjang,
perih yang didekap tanpa gemetar.
Hanya kitab suci dalam genggaman,
iman yang mengukir ketabahan,
ketika peluru kendali memburu nyawa
di antara puing kota.
Yakinku tegar di setiap sujud.
Doa kuhela di sela napas pasrah,
tak hanya lima kali sehari,
namun di setiap kedipan mata yang sunyi.
Jangan sangka garis depan ini sia-sia.
Propaganda besi hanya menang sesaat,
sementara tekad telah terpatri:
segagah apa pun tankmu menyerang,
sedahsyat apa pun rudal memutus urat nadi.
Di tengah badai, aku mengingat akar.
Nenek moyang menanam benih juang di dada,
peluh mereka tak hilang ditelan waktu,
menjaga bara tetap menyala.
Palestina—penjaga kata, penyandang sabda.
Tak terganti oleh keangkuhan dunia.
Sebab kutahu, doa lirih dari celah reruntuhan
adalah petaka yang merayap
menuju pintu rumah si durjana.
Surabaya, 18 Januari 2025 (Versi Revisi)
Untuk tulisan lain silakan kunjungi:
Untuk tulisan lain silakan kunjungi:
Blogspot: yusufachmad-bilintention.blogspot.com
Kompasiana: kompasiana.com/yusufachmad7283
Instagram: @yusufachmad2018
Facebook: facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suara Anak Negeri News: suaraanaknegerinews.com
Medium: medium.com/@yusufachmad2018
Flipboard: flipboard.com/@yusufachmad4bpu
LinkedIn: linkedin.com/in/yusuf-achmad-3b89632b6
X (Twitter): x.com/yusufachma84290

Komentar
Posting Komentar