Double Lap


 Menakar Hakikat Pembersihan Hati dan Kuasa

Bahasa selalu punya cara magis menyembunyikan rahasia besar di balik kamusnya. Fenomena homonim lintas budaya memperlihatkan bagaimana satu kata yang terdengar sama bisa memayungi dua makna yang kontras, namun justru berpaut secara filosofis. Kata “lap” dalam bahasa Jawa dan bahasa Inggris adalah contoh sempurna.

Bagi orang Jawa, “lap” hanyalah kain gombal sederhana, alat profan untuk menyapu kotoran. Dalam bahasa Inggris, “lap” berarti pangkuan—ruang hangat yang melambangkan perlindungan, kedekatan, dan kuasa untuk memangku sesuatu. Dua makna ini, bila ditelisik, membuka garis konseptual tajam tentang hakikat manusia: membersihkan batin sekaligus meneladani sifat Allah yang Mahapemurah.

Secara teologis, manusia diperintahkan untuk menyucikan diri dari residu duniawi. Dalam setiap rezeki selalu terselip “kotoran” tak kasatmata yang berpotensi menodai jiwa. Sedekah adalah tindakan menyeka kotoran itu: apakah dengan pakem 2,5% atau dengan formula sepertiga untuk kebutuhan, sepertiga untuk tabungan, dan sepertiga untuk sosial. Pada titik ini, manusia memosisikan diri sebagai “lap” Jawa—alat pembersih yang menjaga kemurnian titipan Ilahi.

“Sedekah bukan sekadar memotong angka di rekening, melainkan tindakan metafisik untuk menyeka harta demi menjaga kesucian jiwa.”

Namun sejarah kuasa mencatat sisi lain. “Lap” dalam makna Inggris—pangkuan—pernah diselewengkan menjadi strategi politik. Presiden kedua RI mengombinasikan kemurahan hati dengan taktik memangku lawan politik: bukan menghancurkan secara frontal, melainkan melimpahi mereka dengan fasilitas dan kemewahan. Mereka yang “dipangku” kehilangan daya kritis, terikat rasa berutang budi, dan akhirnya patuh. Kemurahan hati direduksi menjadi alat penjinak demi melestarikan dinasti kekuasaan.

Dua refleksi “lap” ini menempatkan kita pada persimpangan moral. Sebagai bangsa yang berakar pada kearifan lokal, memilih falsafah “lap” Jawa lebih menyelamatkan martabat batin. Dengan menjadi kain pembersih yang tulus, kita menjemput rida-Nya, bukan sekadar melestarikan kuasa duniawi.

Pada akhirnya, membersihkan harta hanyalah gerbang awal. Tugas yang lebih berat adalah menyeka ruang batin dari noda keserakahan dan syahwat menguasai sesama. Sebuah perenungan bahasa yang layak dijadikan kompas kehidupan—hari ini, esok, dan selamanya.

Untuk tulisan lain silakan kunjungi:

Blogspot: yusufachmad-bilintention.blogspot.com

Kompasiana: kompasiana.com/yusufachmad7283

Instagram: @yusufachmad2018                  

Facebook: facebook.com/profile.php?id=61559794614211                                                                Suara Anak Negeri News: suaraanaknegerinews.com

Medium: medium.com/@yusufachmad2018

Flipboard: flipboard.com/@yusufachmad4bpu

LinkedIn: linkedin.com/in/yusuf-achmad-3b89632b6

X (Twitter): x.com/yusufachma84290

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif