Menjadi Manusia "Ideal"
Sumber gambar:AI-Copilot
Mengapa Pemimpin Harus Berhenti Mengejar Kesempurnaan Semu
Dalam sebuah ruang diskusi yang tenang, dua
sahabat, Wati dan Setyarini, terjebak dalam satu pertanyaan eksistensial: “Apa
itu sempurna?”
Wati mengaku ingin menjadi sosok “ideal”: istri
ideal, ibu ideal, hingga perempuan ideal. Namun, mereka segera menyadari bahwa
musuh terbesar dari menjadi ideal bukanlah kegagalan, melainkan ketakutan akan
berbuat salah.
Jebakan
"Nol Kesalahan"
Setyarini menegaskan: lawan kata dari ideal adalah
salah. Maka, banyak orang menganggap menjadi ideal berarti tidak boleh salah
sama sekali. Dalam kepemimpinan, pola pikir ini adalah racun. Pemimpin yang
mengejar kesempurnaan semu cenderung jatuh ke dalam lubang micro-managing—takut
stafnya salah, takut kontrol hilang, hingga akhirnya memenjarakan diri dalam
urusan teknis.
Padahal, kesempurnaan manusiawi bukan berarti tanpa
cacat, melainkan patuh pada norma dan hukum yang lebih tinggi, seperti hukum
Islam yang menjadi kompas moral.
Belajar
dari Sang Nahkoda Sejati
Ketika Wati bertanya siapa perempuan sempurna,
Setyarini merujuk pada sosok ibu, lalu menunjuk pada Ibunda Khadijah r.a., dan
puncaknya pada Rasulullah SAW sebagai manusia paling sempurna. Dari beliau,
kita belajar:
- Visi di Atas Teknis: Rasulullah mendelegasikan
peran sesuai keahlian sahabat.
- Kepercayaan adalah Energi: Beliau membangun
tim dengan pondasi kepercayaan.
- Keteladanan, Bukan Ambisi: Menjadi ideal
berarti mengikuti sunnah beliau, fokus pada dampak besar dan amal baik, bukan
validasi manusia.
Transformasi:
Dari "Kecil" Menuju "Besar"
Menjadi pemimpin ideal bukan berarti tidak boleh
lelah. Lelah itu manusiawi. Namun, merasa berat sering kali bukan karena beban
yang besar, melainkan karena cara berpikir yang masih sempit.
Jika hari ini Anda muak dengan urusan “baut dan
mur” yang menyita waktu, ingatlah pesan dalam dialog itu: ubah mindset-mu!
Jangan hanya ingin terlihat ideal di mata manusia dengan mengerjakan semuanya
sendiri. Jadilah nahkoda yang fokus pada arah mata angin. Buang kebisingan yang
tidak perlu agar energi utuh untuk keputusan strategis dan amal berdampak luas.
Karena pada akhirnya, manusia yang mendekati
kesempurnaan adalah mereka yang mampu mendelegasikan teknis demi memegang visi
pengabdian yang hakiki.
Untuk tulisan lainnya, silakan kunjungi:
Blogspot → yusufachmad-bilintention.blogspot.com
Kompasiana → kompasiana.com/yusufachmad7283
Instagram → @yusufachmad2018
Facebook → facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews → suaraanaknegerinews.com
Medium → medium.com/@yusufachmad2018
Flipboard → flipboard.com/@yusufachmad4bpu
https://www.linkedin.com/in/yusuf-achmad-3b89632b6/?locale=en-US

Komentar
Posting Komentar