Membunuh Kerdil di Kepala
Mengapa Pemimpin Harus Berhenti Menjadi “Tukang”
Lelah itu
manusiawi, tetapi menyerah karena kelelahan administratif adalah tragedi
kepemimpinan.
Suatu sore di sudut
kantor yang bising, seorang kolega menatap Anas dengan mata merah karena kurang
tidur. Ia mengeluh tentang beban yang menghimpit, tentang masalah sepele yang
menyita waktu, dan tentang hasrat untuk meletakkan jabatan.
“Sabar,” kata Anas pendek.
“Sabarku sudah habis, Anas. Semua urusan, dari baut sampai strategi, masuk ke
mejaku. Aku muak,” balasnya.
Di sanalah Anas
menyadari satu lubang besar yang sering menjebak para pemimpin:
ketidakpercayaan.
Banyak pemimpin
terjebak menjadi micro-manager bukan karena rajin, melainkan
karena takut. Takut stafnya salah, takut kontrolnya hilang, hingga akhirnya
mereka memenjarakan diri sendiri dalam tumpukan kertas yang seharusnya bisa
dikerjakan orang lain.
Delegasi Bukan
Sekadar Membagi Tugas, Tapi Membagi Kepercayaan
Jika Anda tidak
percaya pada tim yang Anda bangun sendiri, maka sebenarnya Anda sedang
meragukan kemampuan Anda dalam memilih orang. Anas berkata:
“Ubah cara
berpikirmu. Buang pola pikir ‘tukang’ yang ingin menyentuh semua mur dan baut.
Jadilah nahkoda yang fokus pada arah mata angin.”
Berpikir Besar, Membuang
yang Kecil
Mulai saat ini,
Anas pun melakukan transformasi itu. Ia tidak lagi ingin terjebak dalam
“kosmetik kata” atau urusan kecil yang hanya membuang energi. Fokusnya adalah
Amal Baik dan Dampak Besar.
Perubahan itu bukan
hanya pada cara ia menulis puisi yang kini lebih jujur dan “berkarat,” tetapi
juga pada cara ia memimpin. Ia memilih untuk:
- Percaya pada Proses: Memberi
ruang bagi staf untuk berbuat salah agar mereka bisa belajar benar.
- Fokus pada Intisari:
Membuang kebisingan yang tidak perlu agar energi utuh untuk keputusan
strategis.
- Mendelegasikan Teknis,
Memegang Visi: Biarkan mesin bekerja sesuai fungsinya, tugas pemimpin
adalah memastikan kapal sampai ke pelabuhan pengabdian yang hakiki.
Bagi Anda yang hari
ini merasa lelah, coba cek lagi isi kepala Anda. Jangan-jangan Anda merasa
berat bukan karena bebannya yang besar, tetapi karena cara berpikir Anda yang
masih terlalu kecil.
Untuk tulisan
lainnya, silakan kunjungi:
Blogspot
→ yusufachmad-bilintention.blogspot.com
Kompasiana
→ kompasiana.com/yusufachmad7283
Instagram
→ @yusufachmad2018
Facebook
→ facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews
→ suaraanaknegerinews.com
Medium
→ medium.com/@yusufachmad2018

Komentar
Posting Komentar