Reda - Jeda yang Menumbuhkan Bahagia

 Hening yang Menyembuhkan

Sumber: Copilot-AI


Jalan Pulang ke Pelita

Menghitung rambut
satu demi satu gugur,
seperti detik yang jatuh
ke dasar senja.
Biarlah yang hilang
menjadi bayangan di tepi waktu.

Aku tak peduli hitungan mereka,
atau telunjuk yang menunjuk tanpa arah.
Segalanya telah rehat,
tanpa alasan, hanya jeda
yang menenangkan riuh di dada.

Dalam sunyi,
kupeluk diriku sendiri.
Tak perlu titik, tak perlu koma,
biarlah semua berhenti sejenak
seperti napas yang menunggu irama.

Gunung mereda setelah gemuruh,
laut kembali tenang setelah gelombang.
Tubuh yang sempat sakit
menemukan segarnya pagi,
seperti bumi yang belajar
menyembuhkan luka sendiri.

Seperti pertiwi
menyimpan abu dan darah,
reda adalah jalan pulang:
rehat yang menumbuhkan bahagia,
hening yang melahirkan cahaya.

Sintren, Desember 2025

 Untuk tulisan lain silahkan buka:

https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif