Percik Bintang yang Tak Pernah Padam

 Harapan di Bawah Langit

sumber gambar:AI-Copilot


Jejak Pengembara di Padang Rumput

Aku melihat mentari menyapa dengan hangat,
Percik bintang jatuh ke bumi, mengingatkanku pada Yusuf sang penunjuk arah.
Ia selalu menyalakan cahaya, menggembala domba-domba bersama,
Melintasi padang rumput yang luas, kadang rimbun, kadang hanya sejumput hijau.

Mencari makan dan minum, meski tak pernah cukup,
Aku pernah merasakan sengat mentari, menusuk kulit di siang yang panjang.
Anjing, katak, dan ternak bersahutan, singa betina menari dalam langkah,
Aku menjaga domba-domba dengan hati, melawan kuku tajam yang mengancam.

Mereka adalah teman, keluarga, dan makna hidupku,
Tanpa mereka aku kehilangan arti.
Aku pernah mendongak ke langit, melihat bintang berkilau,
Percik cahaya terbang di balik pejam mata, dalam ketidaktentuan yang membisu.

Aku pernah mendengar domba-domba berlari, mengejar percik bintang yang hilang,
Mentari bertanya-tanya: akankah domba terus berlari?
Akankah percik bintang menyala kembali? Ataukah domba kehilangan kulit?
Berlari tanpa malu, pernahkah kau mengerti,
Bahwa dalam setiap percik bintang, ada harapan yang tak pernah padam.

Surabaya, 10 Januari 2024

Untuk tulisan lain silahkan buka:

https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write 
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211

Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif