Langgar dan Anak-Anak Langit

 Teriakan Langgar Kecil

Di sudut sebuah kampung berdiri langgar kecil, tempat doa tumbuh dan tawa sesekali hadir. Suara anak-anak yang muncul tanpa diminta sering terdengar tidak teratur, tetapi justru mengajarkan kesabaran dan menyingkap wajah kasih yang tulus. Langgar itu bukan hanya rumah ibadah, melainkan pelita kecil yang menyalakan cahaya peradaban. Di sanalah benih akhlak ditanam, cinta dipupuk, dan kebersamaan diajarkan sebagai bekal untuk kehidupan yang lebih luas.

Sumber :Copilot-AI


Langgar kecil itu berteriak, sekeras gema jamaah mungil,
Kadang meniru ayat suci yang mengalun dari bibir imam,
Kadang suara "amin" berayun bagai melodi tak beraturan,
Kadang hentakan kaki menyerupai tarian Tap Dance yang riang.

Tangisan seriosa menggoda khusyuknya jamaah,
Kadang menimbulkan riak rasa yang berlapis,
Riuh rendah suara bagai paduan nada,
Mereka adalah bumbu pedas yang meresap ke dalam ruh,
Ruh suci menatap Ilahi, teruji menemukan makna sabar dan ikhlas.
Kadang gerak jamaah kecil membuat langgar bergetar,
Menggoyahkan imam dan jamaah lain yang tengah khusyuk.

Andai langgar murka lalu sunyi tanpa mereka,
Bagaimana ibadah akan tumbuh mekar?
Bila masjid atau mushola menutup pintu bagi mereka,
Tak ubahnya rumah suci yang tandus tanpa pelukan kasih.
Jamaah dianggap asing karena berbeda jalan,
Padahal ibadah bersumber dari cinta,
Yang seharusnya mengalir bagi setiap insan.

Aku heran, seolah rumah ibadah menjelma istana,
Hanya terbuka bagi segelintir pilihan.
Atau ruang suci yang terkunci pada waktu tertentu,
Bahkan angin lembut pun enggan menyusup.
Aku heran, bukankah ajaran selalu berpihak pada yang banyak,
Bukan hanya pada kaum terpilih?
Aku bingung, andai rumah ibadah penuh aturan dan larangan,
Menutup pintu kasih sayang yang mestinya terbuka lebar.

Kadang langgar itu seperti taman,
Tempat anak-anak bebas berlarian,
Kelak mereka akan kembali,
Meramaikan langgar dengan doa dan sujud dewasa.
Namun taman itu bisa berubah menjadi benteng,
Menghalangi gelak tawa yang tulus.
Bayangkan cinta yang tak berbatas,
Mengalir dari hati ke hati,
Menghapus segala sekat,
Membuka pintu menuju keikhlasan sejati.

Surabaya, 13 Januari 2025

Di sudut kampung berdiri langgar kecil, tempat doa bersemi dan tawa menyelinap. Suara-suara mungil hadir bagai irama tak teratur, namun mengajarkan sabar dan menyingkap kasih. Bukan sekadar rumah ibadah, ia pelita peradaban, menanam akhlak, menumbuhkan cinta, dan mengajarkan arti kebersamaan. 

Untuk tulisan lain silahkan buka:

https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif