Gemerlap Konsumerisme

 Lorong Neon

Di bawah neon yang tak henti berdenyut,

Aroma amis bercampur manis, keramaian tak pernah surut.
Lorong megah terbentang tanpa ujung,
Balok dan tiang bernapas, mengisi ruang yang kosong.

Sapi berjeans, angsa berdandan selebriti,
Melenggok meniru model majalah glossy.
Agama dan mode berbalut eksotisme,
Menari bersama, tersihir irama konsumerisme.

Asap rokok melayang, bermain dengan angin,
Membentuk awan harum, parfum Arab terjalin.
Topi dan jeans berpadu baju Amerika,
Simfoni gaya energik nan berbeda.

Di lorong malam berkilau menggoda,
Langkah menjelma tarian di panggung kota.
Perempuan kokoh menjajakan dagangan,
Belanja jadi ritus suci, komersial terus berdendang.

Gemerlap ini bukan sekadar cahaya,
Ia adalah mantra zaman yang menawan jiwa.

Surabaya, 27 Mei 2027


Untuk tulisan lain silahkan buka:

https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en 
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211

Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif