Gatotkaca Main Gobak Sodor (Cerpen Anak)

 Ketika Gatotkaca Turun ke Kelas SD


sumber gambar: AI-Copilot

 Di kelas 4 SD Surabaya, Anas duduk di pojok ruangan. Tablet menyala di pangkuannya. Mulutnya mengulum permen tongkat rasa stroberi. Di luar jendela, teman-temannya berteriak sambil main gobak sodor pakai sarung. Sarungnya kadang melorot kalau lari terlalu cepat, bikin semua tertawa.

“Anas, kamu robot, ya?” teriak Kacong sambil meletakkan gulali di meja Anas. “Ini buat robot yang nggak bisa main!”

“Ayo main!” kata Holid, anak pemilik toko di Ampel. “Jangan cuma duduk!”

“Kayak patung di lukisan,” tambah Zainab sambil melompat di garis gobak sodor.

“Tablet-nya bisa buat masak nggak?” celetuk Rara, yang baru saja selesai bikin roti maryam dari plastisin.

Anas diam. Ia cuma menatap layar tablet, hadiah dari kakek yang dulu seorang dalang.

“Tablet ini bisa simpan cerita,” kata kakek waktu duduk di kursi rotan. “Kalau kamu mau, kamu bisa bikin tokoh sendiri.”

“Tokoh apa?” tanya Anas.

Gatotkaca,” jawab kakek. “Ia pahlawan dari Mahabharata versi Jawa. Dalam wayang, Gatotkaca dikenal sebagai ksatria yang ototnya kawat, tulangnya besi. Ia bisa terbang, suka menolong, dan berani membela yang lemah.”

Anas mengangguk. Malam itu, ia membuka aplikasi di tabletnya dan mulai menggambar Gatotkaca. Sayap besar, mata tajam, dada kuat. Tapi ia tambahkan permen tongkat di tangan Gatotkaca, lalu tertawa sendiri.

“Kalau Gatotkaca suka permen, pasti dia temanku,” gumam Anas.

Dalam bayangannya, Gatotkaca terbang ke dapur Rara, membersihkan panci dengan permen tongkat. Ia melompat ke gobak sodor, sarungnya berkibar, lalu tertawa keras. “Aku suka kelas ini!” katanya. Anas tersenyum. Gatotkaca bukan cuma gambar—ia hidup di pikirannya.

Besoknya di sekolah, Anas menunjukkan tokoh Gatotkaca ke Holid.

“Wah, keren!” kata Holid. “Kayak superhero!”

“Dia suka bantu anak-anak,” kata Anas.

“Bisa bantu aku nggak?” tanya Rara. “Kemarin aku dimarahi kakak gara-gara masak roti maryam.”

“Gatotkaca nggak marah,” kata Anas. “Dia bantu bersihin dapur.”

Rara tersenyum. “Aku suka cerita itu!”

Anas mulai membuat cerita tentang teman-temannya. Rara masak, Holid duduk sendirian, Zainab menggambar diam-diam. Tokohnya dan gambarnya sederhana, tapi semua bisa paham.

Jam pelajaran seni budaya digital, Ustadz Achmad masuk. Ia guru yang suka ngajarin anak-anak bikin gambar dan cerita pakai tablet. Waktu lihat layar Anas, beliau berhenti.

“Ini tokoh siapa?”

“Teman-teman,” jawab Anas pelan.

Ustadz tersenyum. “Bagus. Bacakan di depan kelas, ya.”

Anas berdiri. Tangannya gemetar, tapi ia mulai bicara.

“Ini Rara. Dia masak roti maryam pakai tutup panci.”

Teman-teman tertawa.

“Ini Holid. Dia suka ngomong, tapi nggak ada yang dengar.”

Holid tersenyum.

“Ini Zainab. Dia suka menggambar, tapi neneknya nggak suka.”

Zainab mengangguk.

“Ini Kacong. Dia sering dimarahi, tapi dia nggak nakal.”

Kacong menunduk. “Aku cuma capek dimarahi.”

Anas terdiam. “Aku pikir kalian cuma suka ganggu. Tapi ternyata kalian juga punya hal yang bikin susah.”

Semua anak diam. Lalu Kacong nyeletuk, “Gatotkaca bisa goreng roti maryam pakai tutup panci nggak?”

Rara tertawa. “Kalau bisa, aku mau dia bikin es oyen dari batu!”

Zainab menimpali, “Kalau diminum, bisa terbang!”

Semua tertawa sampai ada yang jatuh dari kursi.

Sejak hari itu, kelas jadi rame. Zainab menggambar Gatotkaca pakai helm sepeda. Holid bawa permen tongkat. Rara bikin klepon dari plastisin dan bilang, “Ini klepon Gatotkaca! Kalau digigit, meledak jadi pelangi!”

Kacong menggambar Gatotkaca main gobak sodor pakai sarung.

Malam harinya, Anas duduk di ruang tamu. Kakek datang membawa teh.

“Kamu sudah pakai tablet buat bantu teman-teman. Gatotkaca pasti bangga,” kata kakek sambil tersenyum. “Ingat, jadi berani itu bukan soal otot, tapi soal hati.”

Anas memandangi layar tabletnya. Ia membayangkan Gatotkaca terbang di atas kelas, sarungnya berkibar.

“Kalau Gatotkaca lihat kelasku, dia pasti ketawa sampai sarungnya melorot,” kata Anas sambil tertawa kecil.


Untuk tulisan lain silahkan buka:

https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write 
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en 

https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211

Suaraanaknegerinews.com                        
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif